Rabu, 25 Januari 2012

Kelamaan

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh
Ada yang berduka di balik penundaan Pemilukada Aceh. Abu Toy Sijoy meninggal kemarin. Padahal ia ingin sekali memilih bupati dan gubernur baru.
Dengar-dengar dari penuturan orang kampungnya, sebelum meninggal, kakek Je itu sempat mengucapkan “fuck you” kepada pemimpin yang hampir ludes masa jabatannya.
Disebut-sebut, sebelum temui ajal, ia sudah tak ingin lagi hidup di Aceh yang kondisinya tak menentu. Tak lama, ketakinginannya terkabulkan. Ia meninggal sebelum pemilihan kepala daerah berlangsung.
Duka mendalam, setidaknya bagi warga Gampong Buhak yang menobatnya sebagai tokoh masyarakat, atau salah satu Tuha Peuet gampong itu.
Je galau. Ia belum tuntas mempelajari ilmu memimpin dengan bijak dari kakeknya. Bahkan ada satu pengalaman penting dari kakeknya yang belum dipelajari Je: ilmu memimpin lembaga pemilihan.
Abu Toy Sijoy atau lebih dikenal Abu Lambuhak itu pernah menjabat ketua lembaga pemilihan, ya, pemilihan keuchik dan camat. Tiga periode berturut-turut, sebelum adanya pesta demokrasi bernama Pilkada.
Itu dulu, tapi tak begitu dulu, masa-masa Indonesia menjelang dan setelah merdeka. Dulu, pemilihan digelar secara aklamasi atau penunjukan langsung orang yang dipercaya patut menjadi pemimpin.
Dan telunjuk Abu Lambuhak selalu dipercayakan untuk menunjuk siapa yang patut memimpin. Bahkan, sebelum penunjukan, warga mempercayakannya untuk menentukan jadwal penunjukan.
Ketika sudah menentukan, maka tak pernah bergeser lagi jadwalnya. Selalu tepat waktu. Hingga orang-orang sebelumnya tak pernah mengalami seperti dialami Abu Lambuhak kemarin, yaitu meninggal sebelum menggapai cita-citanya memilih pemimpin baru. Abu Lambuhak sangat dihormati dan diagungkan.
Jadwal penunjukan, itu dulu. Sekarang, jadwal pencoblosan. Di Aceh yang kadang dibenci juga dicinta Je ini, jadwal pencoblosan Pemilukada periode 2012-2017 sudah lima kali bergeser.
Mulanya direncanakan pencoblosan pada Oktober 2011. Lalu digeser ke November 2011. Kemudian 24 Desember 2011. Belum siap, geser lagi ke 16 Februari 2012. Tak siap juga. Sampai-sampai KIP Aceh pecah kongsi. Ketua dengan komisioner beda versi. Komisioner mengusulkan Mahkamah Konstitusi agar pencoblosan dilangsungkan pada 9 April 2012.
Tentu Ketua KIP Aceh hari ini tak sama dengan ketua pemilihan (penunjukan) keuchik dan camat dulu. Abdul Salam Poroh tentu tak sama dengan Abu Toy Sijoy. Mereka punya kelebihan masing-masing.
“Tapi banyak lebihnya kakekku,” kata Je pada kawannya, bangga, dan, tanpa dibantah. Begitulah. “Sampai-sampai kakekku meninggal, kelamaan menunggu jadwal pencoblosan.”*

Read more…

Costa Concordia

Karya Putra Hidayatullah
Sumber: Serambi Indonesia
 Concordia, kau sungguh cantik
Tuan-tuan mana yang tak tergoda
Melihat tubuhmu meliuk di punggung samudera
Air liur anak negeri pun mericik
 
Di kolong langit, engkau mesra ditating ombak
Angin laut  menjalar
Pelita-pelita kecil itu lalu merebak
Samudera  tiba-tiba menjadi liar
 
Langit tenang menatap saja
Riuh pekik melengking tak terkata  
Ternyata kemewahan itu tak abadi
Bisa hanyut, menggulung bak tsunami

Read more…

Menguak Bisnis Trafficking

Oleh Putra Hidayatullah
Sumber: Serambi Indonesia


northernstar.info
MIRIS sekali mendengar kabar tentang dua gadis belia Aceh yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Keduanya dibawa ke Singapura, lalu dipaksa menjadi budak seks. Dua orang wanita berinisial Mi (19) dan Ay (19) diduga sebagai bagian dari gembong mucikari di negeri Kosmopolitan tersebut (Serambi Indonesia, Senin 23/1).


Sebelumnya kasus serupa juga pernah mencuat di Aceh. Aparat kepolisian Aceh Utara berhasil menangkap beberapa orang yang diduga menjadi pelaku. Seorang korban yang dibawa ke Malaysia mengirimkan sms kepada orang tuanya bahwa dia telah dijual dan dipekerjakan dengan tanpa gaji. Drama nyata perdagangan manusia ini memang bukan lagi persoalan baru. Ada beberapa kasus yang berhasil terkuak dan ada yang berjalan mulus tanpa hambatan.


Victor Malarek, seorang wartawan investigasi Kanada menuliskan dalam bukunya The Natashas: The New Global Sex Trade, tentang bagaimana seluk beluk dan proses trafficking ini terjadi. Secara garis besar, bentuk akhir dari human trafficking adalah perbudakan, pelacuran, dan kerja paksa. Praktik ini bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang cukup menggiurkan.


Peringkat ketiga
Tercatat bahwa bisnis perdagangan manusia menduduki peringkat ketiga di dunia setelah perdagangan senjata ilegal dan obat-obatan terlarang. Dari seorang perempuan yang dieksplotasi, seorang mucikari bisa memperoleh keuntungan antara 75.000 hingga 250.000 dollar atau laba sekitar Rp 75.000.000 hingga Rp 250.000.000 dalam setahun.


Dalam buku yang sama dikutip pernyataan Willy W Bruggeman, agen intelijen polisi Uni Eropa, bahwa keuntungan yang didapatkan oleh para gembong perdagangan manusia seluruh dunia bisa mencapai 12 milyar euro per tahun.


Setidaknya ada empat gelombang besar dari jaringan perdagangan manusia di dunia. Victor menyebutkan bahwa gelombang jaringan terbaru beranjak dari Eropa Timur dan Eropa Tengah (The Fourth Wave), tepatnya pascaruntuhnya Uni Soviet sekitar tahun 1991. Setelah itu perlahan menjalar ke hampir seluruh negara-negara Asia dan Amerika.


Setelah Uni Soviet pecah dan terbentuk beberapa negara kecil, muncul ketidakberesan dalam pemerintahan, seperti banyaknya pejabat yang korup, budaya suap menyuap, serta birokrasi yang kacau, ternyata berpengaruh pula pada kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam negatif pun muncul dalam kehidupan keluarga, banyak lelaki mabuk-mabukan, dan terlibat kriminal karena lapangan kerja yang tidak jelas.


Melihat kenyataan itu, lalu muncul sekelompok orang yang memanfaatkan gejala. Mereka menawarkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri terutama bagi perempuan. Profesi yang ditawarkan beragam, mulai dari pelayan restoran, kasir, cleaning service, pekerja perusahaan dan sebagainya. Para korban dijanjikan untuk diberikan fasilitas yang lengkap dan gaji yang tinggi.


Di tempat pendaftaran tersebut para “perekrut” memilih mana yang lebih berpenampilan menarik dan layak. Terkadang iklan-iklan tersebut ikut menempelkan logo resmi negara semisal daun mapel jika negara yang dituju adalah Kanada. Ini dilakukan supaya para pendaftar menjadi lebih yakin dan percaya.


Budak seks
Setelah urusan administrasi keberangkatan dan tiba di negara tujuan, para perempuan itu dijual kepada penadah dan digunakan sebagai “mesin” pendulang uang. Seketika itu pula, perempuan-perempuan itu dipaksa menjadi budak seks.


Mereka diwajibkan melayani klien sebanyak-banyaknya agar cepat menghasilkan uang banyak. Seperti diungkapkan oleh seorang mafia sindikat trafficking: “Kamu bisa membeli satu perempuan seharga 10.000 dollar dan uangmu akan kembali dalam seminggu kalau dia muda dan cantik. Sesudahnya tinggal meraup untung.”


Korban trafficking ini akan dibebaskan oleh si “tuan” jika berhasil menggantikan modal (uang) yang dikeluarkan ditambah keuntungan dengan jumlah tertentu. Dalam praktik trafficking, pelaku mengharuskan perempuan-perempuan yang dibelinya segera mengembalikan uang yang telah dikeluarkannya dengan melakukan prostitusi.


Banyak sekali penderitaan yang dialami oleh seorang korban kasus ini. Tidak hanya mengalami tekanan dari “tuan” yang telah membeli mereka, tetapi juga mengalami kerusakan organ biologis, kecanduan alcohol, trauma, terinfeksi virus dan penyakit berbahaya lainnya. Di samping mereka juga mendapat stigma negatif dari masyarakat.


Para korban trafficking umumnya dengan mudah bisa dikelabui karena beberapa faktor. Di antaranya karena kurangnya keterampilan dan pendidikan dalam diri individu. Hal ini bisa diperparah lagi dengan himpitan ekonomi dalam keluarga yang membuat calon-calon korban baru lupa dan tidak belajar dari kenyataan-kenyataan yang pernah terjadi.


Solusi
Karena bisnis ini menggiurkan, sepertinya tidak ada negara mana pun yang aman dari praktik trafficking. Bisa jadi yang terjadi di Aceh adalah fenomena gunung es. Artinya, yang baru terlihat hanya satu kasus saja dan tak mustahil banyak kasus serupa lainnya yang belum terungkap.


Adanya beberapa jejaring sosial semisal facebook, twitter, dan lainnya semakin mempermudah para pelaku dalam menggaet korban. Untuk itu kita berharap pihak kepolisian bisa mengani kasus ini hingga ke akar-akarnya. Setiap iklan-iklan yang menggiurkan dan berbau trafficking harus benar-benar diawasi. Juga, memastikan bahwa tidak ada dari jajarannya yang disawer

Read more…

Minggu, 16 Oktober 2011

Baju Lebaran Hitam

Oleh: Zahra Nurul Liza
Sumber: Harian Aceh

innoboy34.blogspot.com
Pagi ini riuh. Sirine ambulance dan polisi gaduh. Menjadi hiasan pagi yang utuh. Orang-orang berhambur mencari titik teduh. Aku pun tak ingin ketinggalan informasi tentang yang terbunuh. Serta tentang siapa pula yang tertuduh. Di rumah Aceh di ujung lorong itu kegaduhan sedang tercipta. Jerit tangis tengah meraja. Meraung-raung memanggil anaknya yang telah dipanggil dengan cara yang tidak terduga. Tak hanya warga yang berkumpul di sana menunggu berita, wartawan dari berbagai mediapun ikut meramaikan suasana.
*****
Dingin dan sepi adalah selimut tubuh ini. Rintik hujan yang jatuh perlahan menerpa bumi. Kurma menjadi makanan pembuka magrib ini. Azan adalah tanda akan dialog dengan Tuhan segera. Selepas itu, barulah melahap makanan-makanan selanjutnya. Tak banyak selang waktu antara magrib dan insya. Taraweh pun telah tiba. Kini saatnya setan-setan merayu hamba ditambah mendapat dukungan cuaca. Walau hamba tau ini adalah taraweh terakhir dalam ramadhan kali ini. Sebab mulai besok malam, takbir akan berkumandang. Tawa riang insan dari setiap sudut adalah hiasan. Tapi, tak perlu terlalu banyak cerita dulu tentang esok malam. Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan. Malam ini akan dihabiskan dengan taraweh dan berdoa agar taraweh tahun selanjutnya masih bisa dirangkai bersama.
Kini malam mulai tua, walau tiga jam lagi akan kembali muda. Alunan ayat Tuhan terus dilantunkan berburu waktu tuk segera mengkhatamkan Al-Quran. Sebab esok terakhir ramadhan. Pikiran ini tiba-tiba melayang ke lain haluan. Ingin mencari tau sesuatu yang belum terselesaikan. Tapi, tak ingin juga dibilang mencampuri urusan orang. Harus bagaimana lagi. Hati tak sabar menunggu kabar besok di koran, itu pun kalau lah jelas diceritakan. Langkah kaki seakan memberi restu untuk mencari tau tentang kabar yang semua orang ingin tau. Tetangga keluarga yang menempati rumah Aceh di ujung lorong itu menjadi sasaran untuk diajukan beberapa pertanyaan mengenai kejadian kemarin malam. Tanpa ragu ia menceritakan.
Kemarin malam, ketika waktu taraweh cupo Minah, begitu akrab disapa warga membawa serta putri semata wayangnya yang berusia 5 tahun ke mejid yang tak seberapa jauh dari rumahnya. Cuacanya persis seperti malam ini. Memanglah gerimis masih setia menemani. Memanglah rutinitas seminggu tiga kali selepas salat insya, siraman rohani. Saat itu, anak cupo Minah mengeluh ingin pulang pada Mak tercinta. Sebab rasa kantuk sudah tercipta. Saat itu juga cupo Minah bersama anak semata wayangnya itu pulang ke rumah tanpa menuggu selesai ceramah. Sepanjang perjalanan cupo Minah mengendong anaknya. Semua warga mengerti dan memahami seberapa sayang cupo Minah pada anaknya itu. Mengingat lama penantiannya untuk memperoleh seorang anak. Sebenarnya cupo Minah sudah pernah melahirkan samapi dengan tujuh kali. Tapi, semuanya tak ada yang selamat.  Oleh sebab itu, tak berlebihan kurasa bila cupo Minah amat menyayangi putri semata wayangnya itu. Aku memang seorang pria. Tapi, setidaknya aku bisa menerka seberapa sakit melahirkan itu, walau pada nyatanya lebih sakit dari yang kuterka.
Sesampainya di rumah, cupo Minah langsung menidurkan putrinya di ayunan. Sembari bersalawat, secara perlahan cupo Minah mengayunkan ayunan itu. Hingga ia pun tertidur di bawah ayunan putrinya.
Semua terjadi begitu saja. Tak ada yang mampu menceritakan kisah itu tanpa terbata-bata. Sampai malam ini pun isak tangis masih terdengar dari cupo Minah. Meraung memanggil buah hati yang telah dipanggil Ilahi. Tak ada yang menyangka itu akan terjadi. Tak pernah tersirat dalam bayangan tentang kisah pilu ini. ‘ Nenek yang Menyembelih Cucunya Sendiri’ pasti menjadi judul besar di koran esok hari setelah wartawan-wartawan itu meliput tadi pagi. Ya, Mak cupo Minah telah menyembelih cucunya sendiri ketika tengah tidur lelap di ayunan. Semua warga memang tau kalau Mak cupo Minah memiliki penyakit jiwa keturunan. Tapi, tak tersirat di pikiran kalau itu akan terjadi.
Tadi pagi, ketika polisi hendak membawa pergi Mak cupo Minah ke jeruji besi. Cupo Minah melarangnya sembari berkata dari hati nurani.
Jangan bawa pergi Mak kami! Sebab dia tetap Mak yang tak akan terganti. Kami yakin kami akan mendapatkan anak lagi atas seizin Rabbi. Tapi, kalau Mak? Kami tak tau harus mencari dimana lagi. 

Read more…

Kangkung di Rawa Lintah

Oleh: Zahra Nurul Liza
Sumber: Harian Aceh

innoboy34.blogspot.com
Jingga. Pancaran warna bunga kangkung yang semakin merona. Pertanda kalaulah kangkung sudah lewat masanya. Tak ada lagi yang menghiraukannya. Sebab kau yang saban hari memetiknya sudah tiada. Telah habis waktunya.
***
Matahari terbit. Ayam dan burung menjerit-jerit. Menjadi hiasan pagi yang rumit. Kau, memulai hari dengan pergi ke rawa-rawa sempit. Mencari sedikit duit dari mereka orang-orang pelit. Tanpa pernah peduli pada sebagian orang yang jijik. Serta matahari yang sungguh pelik. Kau, yang sebenarnya Makku sendiri selalu menghabiskan hari di rawa-rawa ini untuk mencari beberapa suap nasi. Kemudian, akan kau sulangkan pada kami, anak-anakmu ini.
Pagi ini, kau mulai lagi harimu dengan melangkahkan kaki ke dalam rawa yang penuh lintah. Memetik satu persatu batang kangkung yang sebagian patah. Aku adalah anakmu yang hanya memperhatikanmu dari jendela ini. Tak lebih. Sebab hanya itu yang bisa kulakukan untuk menjaga semangatmu agar tak patah. Mak, sesekali kau berikan senyuman itu untukku, yang memperhatikanmu dari jendela ini. Seakan kau tegaskan bahwa tak ada lelah letih dalam jiwamu itu.
Matahari, perlahan-lahan pasti mendaki ke puncak hari. Jengkal demi jengkal tanpa kita sadari. Ah, Mak masih saja setia pada hari. Tekat untuk memperbaiki nasib walau hanya untuk hari ini. Sayang, aku hanya bisa memandang dari kejauhan. Sebab kaki tak mengizinkan. Sekarang, yang hanya bisa aku lakukan adalah berdoa pada Tuhan agar Mak diberi kekuatan.
Mak pulang membawa kangkung beberapa ikatan. Diletakkannya di hadapan. Mata ini hanya bisa memandang kesegaran dan kenikmatan kangkung dari kejauhan. Hingga hadir bayangan semangkuk kangkung dihidangkan. Tapi, sayang itu hanya angan. Sebab telah lama aku tak pernah lagi menjadikan kangkung sebagai hidangan. Setelah malam itu, kebetulan kangkung Mak tak habis laku. Kalau bukan sebab itu maka tak pernah aku makan kangkung seumur hidupku.
Dari masjid, muazzin memberitahukan bahwa telah sampai waktu bercumbu dengan Tuhan. Yang harus segera dilaksanakan sebab tak ada yang tahu kapan  nyawa hilang. Mak, segera memulai puji-pujian yang hanya dipersembahkan kepada Tuhan. Dan setelah itu Mak akan melanjutkan hari dengan berjualan. Kangkung yang sudah dipetiknya dari rawa-rawa sempit itu akan dijajakan di pasar tradisional dengan harga seribu rupiah perikatan. Setelah habis berjualan, Mak beranjak pergi untuk memberi jatah kepada pemilik rawa lintah, yaitu setengah upah.
Memanglah mereka bak lintah. Menghisap darah menghasilkan nanah. Rasa telah pergi sudah. Meninggalkan raga yang telah basah. Tak peduli pada dosa yang terus menebal, sebab sudah terlanjur takut pada kenistaan yang diciptakan sendiri dalam resah.
Rawa yang dipenuhi lintah. Tak ada yang mau memanfaatkannya hingga menghasilkan upah. Hanya Mak sendiri. Demi kami mengabaikan  sakit gigitan lintah. Memetik kangkung saban hari dari rawa lintah. Tak pernah Mak pulang dengan kaki yang tak berdarah. Selalu saja satu dua lintah menempel  dengan kuat di betis yang basah. Hingga Mak bak menjual darah untuk mendapatkan upah. Demi anak-anaknya yang terlanjur lemah.
Pernah suatu hari. Kumembatatkan diri ikut Mak pergi. Walau dengan merangkak tak bisa berdiri aku nekat pergi. Tapi, yang terjadi Mak memarahiku dengan berani. Tak seperti biasa lagi, Mak memarahiku sepanjang hari. Padahal aku hanya ingin membantunya walau hanya untuk hari ini. Tapi, Mak tak mau mengerti. Tetap saja dia memarahi. Ya, aku pahami. Pada rasa sayang Mak yang berlebih pada kami. Jadi, kuturuti saja semua keinginan Mak. Sebab, aku tak mau melihat Mak mengeluarkan air mata lagi setelah mengeluarkan darah untuk lintah saban hari.
Sekarang, pagi telah kembali. Tak ingin banyak basa basi tentang pagi ini. Sebab kutakut muak pada cerita basi. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Mak telah pergi ke rawa lintah yang sebenarnya tak jauh dari rumah. Tepat kuceritakan letak rawa lintah di belakang rumahku ini.
***
Petang. Hati dingin. Berdialog dengan angin. Tuhan, telah memindahkan Mak ke sisi lain. Dengan sebab kecil yang diiming-iming. Terpeleset ketika di rawa lintah adalah penyebab Mak berpindah. Meninggalkan kusendiri dalam gelap. Aku. Mencoba menjalani hidup dengan harap perlahan-lahan bisa menghapus awan gelap.

Read more…

Cahaya di Bawah Ranjang

Oleh: Zahra Nurul Liza

sukmajoeyjordison.blogspot.com
Cahaya di bawah ranjang.  Tiba-tiba ada tanpa diundang. Tak tahu asal muasal dia datang. Yang jelas sekarang. Cahaya sudah beku di bawah ranjang. Entah karena kedinginan atau sudah mendapatkan tempat lain yang lebih terang dibandingkan di bawah ranjang. Hingga ruh meninggalkan jasad yang terlanjur tenggelam.
*****
Malam. Lagi-lagi dimulai dengan kata kelam. Hitam, legam. Tak ada putih. Tak ada hiasan. Tak ada teman, juga tak ada lawan. Sendiri sepi merangkai malam. Semuanya padam hingga tak bisa terawang. Menunggu pagi adalah sebuah pekerjaan yang saban malam dilakukan. Walau kadang-kadang sedikit membosankan. Tapi, apa yang hendak dikatakan. Nasib telah terukir di hadapan. Tak tahu kemana harus mengadu. Satu dan lainnya saling beradu. Mempertotonkan satu yang sedang diadu. Siapa yang menang maka kesitulah mengadu. Walau acap tak peduli pada yang mengadu.
Seperti malam-malam sebelumnya. Sepi masih menyelimuti diri. Panas seakan pergi. Dari bawah ranjang ini cerita akan dimulai. Cerita yang kadang-kadang membuat orang tak percaya akan benarnya. Walau sebenarnya benar-benar terjadi. Bukan hanya sekedar cerita untuk membuang emosi. Damai malam seakan beranjak pergi. Tak pernah kembali mengunjungi. Walau hati sangat rindu pada damai itu. Tapi, tetap tak ada yang peduli.
Cahaya di bawah ranjang, akan selalu ada saban malam. Bagaimana tidak. Sebab tak ada tempat lain untuk Cahaya selain di bawah ranjang. Hanya di bawah ranjang. Mungkin untuk selamanya di bawah ranjang. Sebab hanya di sanalah dia bisa menanggalkan sejenak kenangan pahit bersama Mak dan Bapaknya. Ya, kenangan pahit yang terjadi 2 tahun lalu. Tepat ketika dia bermur 5 tahun. Malam itu, Mak dan Bapaknya dipanggil ilahi. Karena gempa terjadi. Hingga membuat rumahnya ambruk, dan yang terjadi dinding rumah menimpa kepala Bapaknya. Hingga pecah hancur di depan matanya. Lain lagi dengan Maknya, atap rumah dari seng itu membelah muka Mak Cahaya tepat pula di depan matanya. Oleh karena kejadian itu sampai saat ini dia trauma. Ya, si kecil itu ketakutan ketika malam datang. Ketakutan ketika menatap dinding dan atap. Ketakutan seolah-olah semua yang terekam diputar kembali di hadapan. Sayang seribu sayang, tak ada yang peduli padanya siang dan malam. Tak ada yang menghiburnya dikala malam. Walau sebenarnya tak butuh hiburan. Tak ada menemaninya dikala seorang diri. Walau dia sebenarnya sangat butuh teman.
       Tinggalkan sejenak cerita tentang malam. Walau sebenarnya tetap tak bisa lepas dari malam. Tinggalkan sejenak cerita tentang latar belakang. Biar akan dilanjutkan cerita ke depan.
       Kini malam, hanya malam. Tak akan berganti pada siang. Sebab kisah banyak pada malam. Cahaya seperti biasa, karena rasa trauma tidur di bawah ranjang. Sebab seperti yang sudah diceritakan, hanya di bawah ranjang dia bisa melupakan semua pahitnya kenangan. Hanya di bawah ranjang pula dia tak bisa menatap dinding dan atap. Hingga dia tak perlu takut untuk menatap. Walau entah sampai kapan dia takut pada tatap. Ketika di bawah ranjang Cahaya acap terlintas bayangan-bayangan di otak. Bukan bayangan tentang kisah hidupnya. Bukan pula tentang sifat buruk yang diterimanya dari ceceknya, sapaan untuk adik Bapaknya. Melainkan, Cahaya membayangkan kisah hidup yang penuh bayang-bayang. Bayang-bayang indah yang berhasil menghapus hitam nan kelam. Bayang-bayang dimana tak ada atap dan dinding di setiap tatapan. Bayang-bayang yang akan selalu terbayang-bayang dan bisa membuat malam menjadi damai walau hanya dalam bayang.
       Sebelum bercerita tentang bayang yang akan selalu terbayang-bayang. Walau hanya dalam angan dan akan tetap jadi bayang. Biarlah sedikit bercerita tentang hidup Cahaya yang kelam. Kisah hidupnya setelah Mak dan Bapaknya dipanggil Ilahi. Setelah malam itu terjadi. Cahaya menjadi barang rebutan untuk diasuh sampai nanti. Maksudnya sampai nanti ketika bantuan-bantuan yang diberikan kepada korban gempa itu habis digunakan saban hari hanya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan Cahaya di esok hari. Ya, begitulah yang terjadi.
       Sekarang, malam semakin kelam. Dia, merindukan setitik cahaya untuk menerangi malam. walau dia tak menyadari bahwa dia menginginkan dirinya sendiri, Cahaya suci. Tanpa dia sadari, angan telah sedari tadi menemani. Senyap dalam bayang diri. Perlahan membelai-belai nurani. Diliriknya ke kanan kiri. Tak ada sekat. Semua jelas terlihat. Diliriknya pula ke atas. Tak seperti biasa yang terjadi. Tak ada lagi papan-papan panjang yang digunakan untuk ranjang. Tak ada. Entah ke mana. Sekat tak ada lagi. Garis-garis pembatas telah hilang pergi. Sekarang, sesuatu telah terjadi. Entah sihir atau anugerah dari Rabbi. Bintang terlihat jelas di awan. Kabut yang sedari tadi menutup bulan perlahan-lahan mengundurkan diri. Seakan empunya malam telah datang menepi. Kesabaran Cahaya selama ini menghadapi hari telah dibalas oleh Rabbi.
       Gelap malam tak terlihat lagi. Terang benderang hadir di sini. Seuntai senyuman perlahan hadir dari dua garis bibir. Mata, menyaksikan keagungan yang hadir. Inilah tempat impian Cahaya. Kuasa menatap tanpa harus takut pada tatap. Kuasa melihat, tanpa harus takut pada dinding dan atap. Kini, malam bukan sesuatu yang menakutkan lagi. Melainkan sesuatu yang diidami. 

Read more…

Sabtu, 08 Oktober 2011

Keumala

Oleh :Zahra Nurul Liza
Sumber: Serambi Indonesia, Minggu 9 Oktober 2011


MATAHARI duduk manis di singgasana langit. Menerangi bumi yang sungguh pelik. Pancaran panas amat menyengat. Syair yang sejuk pun tidak bisa membunuh penat. Walau sebenarnya hari tinggal seperempat. Tiap paras melukiskan kepiluan dan kegembiraan tentang diri sendiri. Tiap badan hanya sanggup untuk menanggung beban sendiri. Tiap mata hanya bisa memancarkan nasib sendiri. Semuanya serba sendiri. Anai-anai pun menari-nari sembari melahap hidangan lezat dengan bangsa sendiri. Menikmati siang yang
tinggal sebentar lagi. Sebab petang sudah menepi.

Duduk di ayunan adalah pilihan. Mengisi waktu untuk menciptakan sedikit kenangan. Kenangan yang nantinya akan dikenang dan mungkin juga akan ditulis dengan pena sebatang. Orang yang berlalu lalang adalah pemandangan. Yang memamerkan berbagai raut wajah penuh kenangan. Tapi, tetap harus berhati-hati dalam artian sesekali harus melihat tali yang mengikat ayunan pada pohon sebatang. Jangan sampai putus dan menghancurkan semua kenangan di tengah jalan.

Sedikit tercengang ketika Keumala hadir di hadapan. Menceritakan kegembiraan hati sembari tertawa riang. Dengan dandanan yang begitu cantik dipandang, hanya bagi dirinya sendiri maksudnya. Rambut Keumala tertutup oleh kerudung kuning keemasan yang agak miring dikenakan. Maklum Keumala tidak lebih mengerti akan dandanan.

Keumala yang sebenarnya sudah berumur empat puluh enam tahun itu masih bak gadis tujuh belasan. Sayang, belum sempat Keumala menceritakan kegembiraan hatinya itu. Sebab azan telah berkumandang pertanda dialog dengan Tuhan. Dengan polos Keumala mengajakku sembahyang.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku melihat Keumala shalat. Hanya saja untuk pertama kalinya aku memperhatikan dia shalat. Sebetulnya ini bukan untuk pertama kalinya aku bertemu Keumala. Hanya saja baru-baru ini aku menaruh perhatian lebih padanya. Ah, tanpa kusadari, Keumala telah sedari tadi memperhatikanku dengan sifatku ini.

Kubiarkan Keumala shalat lebih dulu. Maklum, mukena hanya satu. Jadi, haruslah aku menunggu Keumala selesai shalat dulu. Benar-benar aku tidak pernah mempedulikannya selama ini. Kukira selama ini Keumala shalat penuh khusyuk dan rapi. Tapi, ternyata tak seperti yang diduga. Tak ada doa dalam shalat Keumala. Bibir terkunci rapi. Hanya sesekali tersenyum ketika melihat diriku ini. Ya, Ketika shalat mata Keumala menari melihat ke sana ke mari. Hingga ketika mataku dan matanya saling memandang dia akan tertawa seperti sedang tak shalat lagi. Selain itu, Keumala shalat tak hitung rakaat. Karena memang dia tak bisa baca dan hitung. Walau demikian, aku bangga pada diri Keumala. Dengan kekurangan yang terus mengelilingi sekitar pinggang. Dia tetap tak pernah melupakan Tuhan. Walau sebenarnya tak tahu cara memuja Tuhan.

Setelah shalat, Keumala hendak mulai melanjutkan ceritanya lagi. Walau sebenarnya belumpun dimulai dari pertama kali. Sembari tersenyum-senyum sendiri dia mulai menceritakannya untuk yang pertama kali. Ya, dia bercerita tentang seorang pria bak seperti gadis usia dua belasan tengah jatuh cinta. Dengan penuh riang gembira dia menceritakannya. Aku pun mendengar dengan rasa penasaran yang merajalela. Tak kusangka dan tak kuduga. Dia jatuh cinta pada seorang pria yang saban hari menghabiskan waktunya di mushalla. Entah benar-benar dia mengerti akan arti cinta. Yang jelas dia sudah merasakannya.

***

Kini petang telah kembali menemani. Sebab siang telah mulai pergi. Sebentar lagi malam merajai. Kali ini sepi sendiri. Tak ada Keumala, tak ada kenangan lagi. Keumala telah pergi. Tapi, bukan maksudku pergi dan tak kembali. Seperti biasa yang terjadi setiap petang seperti ini dia acap keluar dan pergi. Walau tak jauh pergi dari sini. Ya, dia pergi sejenak ke lapangan bola kaki. Hanya sekadar lewat untuk melihat si pujaan hati. Seperti biasa yang terjadi. Setelah pulang dari sana, dia akan membawa banyak cerita. Entah kisah nyata atau hanya angan yang tercipta. Bukan bermaksud untuk meragukan ceritanya. Tapi, pernah suatu ketika aku pergi bersamanya. Walau tak jauh sebenarnya.

Sore itu aku hendak pergi hanya sekadar untuk berkeliling kampung ini. Ditemani Keumala, sebab aku malas apabila seorang diri. Terlihat jelas dari raut wajah betapa senangnya hati. Kebetulan kami melewati mushalla itu, tempat pujaan hati Keumala menghabiskan hari. Kebetulan pula, si pria berkulit sawo matang itu sedang di luar seorang diri. Tapi sayang, hanya senyum yang dipersembahkan. Walau begitu Keumala senang bukan kepalang.

Beda umurku dengan umur Keumala memang jauh. Tapi, tak terasa jauh. Walau bedanya mencapai angka tiga puluh. Aku juga salut pada Keumala, walau tanpa perawatan khusus dia memiliki raut wajah yang mulus. Putih kulitnya kadang juga membuat orang iri. Apabila kita melihatnya dari raut wajah maka sama sekali tak tampak seperti orang yang hampir berumur setengah abad. Itulah keadilan Rabbi.

Sekarang Keumala mulai lagi mencoba menceritakan kembali kisah tadi. Dengan sedikit tambahan yang terjadi di sana sini untuk membanggakan diri sendiri. Bukan maksudku untuk katakan kalau tak ada pria yang suka padanya. Tapi, waktu yang bersamaan aku lagi bersamanya. Jadi aku tahu persis bagaimana kejadiannya. Oleh sebab itu aku tahu jujur atau bohong yang lahir dari mulutnya. Tapi, tetap tak kupermasalahkan itu semua. Dengan setia aku akan tetap mendengar curahan hatinya. Aku mengerti bagaimana rasanya sedang jatuh hati. Bagaimana rasanya saat masa-masa remaja yang kuhadapi. Tapi, yang tak habis pikir masa itu terlambat datang pada diri Keumala. Mungkin karena penyakit keterbelakangan mental pada dirinya. Aku memakluminya dan kuanggap itu adalah kelebihan pada drinya. Semoga saja Keumala senang dan bahagia dengan cinta yang dimiliki dari dasar nurani. Walau sebanarnya aku iri. Iri karena ingin memilikimu di sepanjang hidup ini. Kekuranganmu akan kuanggap kelebihan dari Rabbi.

***

Mobil perlahan terus berjalan. seakan tak ingin mengerti bahwa hati masih ingin di sini. Agar selalu bisa melihat senyuman dan tawa riang Keumala itu sepanjang hari. Walau tak mungkin memilikinya seutuh diri ini.

Banda Aceh, 15-09-2011

Read more…

Magifo


Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 30 September 2011
Kabar terbaru yang berhembus di jambo temu gank Apache adalah tentang Syakir yang sedang dihinggapi virus berbahaya. M1GF atau magifo, atau virus Mahasiswa Gila Foto sedang menggerogoti lelaki berbadan atletis itu. Syakir yang memiliki wajah kurang bagus itu rupanya sedang sangat menyukai dunia modeling. Konon kabarnya juga ia hendak sekali menjadi bintang film. Tak tanggung-tanggung, ia yakin sekali akan mampu mengalahkan akting Shahrukh Khan dalam film Kuch-Kuch
Hota Hai yang terkenal itu.

Pengko yang rupawan terlihat tersenyum menanggapi kabar itu. Ia sendiri sebenarnya sudah dapat tawaran main film. Memang wajahnya tak jauh beda dengan Salman Khan, jadi sangat wajar bila pihak pencari bakat keaktoran merasa ia sangat pantas bermain film. Pengko dengan halus sekali menolak tawaran salah seorang pencari bakat. Ia tak mau memanfaatkan ketampanan yang diberikan Tuhan untuknya hanya untuk berbuat dosa.

Pengko dan Syakir memang bagaikan dua sisi mata uang. Syakir yang berwajah tak bagus menyukai dunia model—padahal sangat tidak pantas untuknya—sedangkan Pengko yang rupawan malah sebaliknya, walaupun wajahnya sangat mendukung.

Teringat juga Pengko pada hal yang sedang marak terjadi sekarang di Aceh. Banyak mahasiswa, khususnya perempuan yang menggilai dunia pose berpose. Dengan adanya media semacam facebook, tentu kegilaan mereka dengan mudah akan terealisasi. Dapatlah kita lihat betapa mereka kemudian menjadi sangat narsis, percaya diri yang berlebihan, sehingga mereka akan berpose dimanapun dan dengan gaya-gaya yang over tanpa ampun.

Para mahasiswa perempuan yang dihinggapi virus M1GF atau Magifo ini biasanya akan berpose dimana pun mereka berada. Di dapur, kamar tidur, taman, terminal, halte, pasar, lift, eskalator, warung, dan saat melakukan apapun. Semisal saat suntuk, mengantuk, pulang kuliah, sedang kuliah, sedang makan ayam penyet, sedang nonton, sedang di nyalon, sedang ngopi, ingin mandi, baru selesai mandi, mau tidur, bangun tidur, pokoknya di segala kegiatan yang menurut mereka perlu dinampakkan pada orang.

Virus ini memang hinggap pada orang-orang yang memiliki hobi pamer. Ingin diketahui orang kondisinya, atau pakaian yang dipakai, atau gaya saat sedang melakukan sesuatu, atau wajahnya dalam keadaan tertentu. Orang-orang yang telah terjangkit virus ini akan menjadi seorang yang sangat peduli dengan penampilan dan sama sekali tak menyaring budaya yang sedang berkembang sesuai artis ibukota.

Begitu juga yang sedang terjadi pada Syakir. Ia sekarang sangat peduli pada penampilannya dan berpakaian sudah seperti artis ibukota. Kamarnya yang bercat jingga penuh dengan poster-poster artis ibukota. Uniknya lagi ia mengedit fotonya sedang duduk  bersama Shiren Sungkar. Nampaklah mereka seperti pasangan suami istri. Namun itu, sungguh sangat sayang nasib Shiren dalam foto itu sebab bandingan wajah mereka adalah serupa langit dan bumi jauhnya.

Sore itu Syakir datang ke jambo temu Apache dengan sepeda ontel. Ia mengenakan jaket mewah, sarung tangan, dan kalung jingga. Sepeda ontel jingga dan celana jeans jingga, biar matching, katanya. Dan bila berbicara ia seperti sedang disorot kamera, maka lagaknya mulai berlebihan saja. Dan sekali saja ia tersenyum, nampak jelas kawat giginya yang berwarna jingga. Indahnya senyuman Syakir, benarlah mirip sekali wajahnya dengan Shahrukh Khan. Tapi Shahrukh Khan terkutuk menjadi rusak dan hancur lebur.

Read more…

Kamis, 29 September 2011

Surat darinya untuk ibu

Oleh: Rahmad Nutihar
Sumber: Kompasiana 

Terdiam sendiri dalam keheningan malam, sapa sang bulan basuh keningku. Keseharian ku dipenuhi dengan aktifitas yang melelehkan dan kini kurebahkan tubuhku diatas kasur. Sebagai pengusir kepenatan juanya ku mengambil secarik kertas yang berada di rak buku. kemudian kutumpahkan tinta dipermukaannya. pena lama dan tak lazim digunakan ku pakai untuk menulis di secarik kertas itu. seraya menulis sepucuk surat tapi tak jelas akan kusurati kemana. Kata demi kata kususun hingga menjadi sebuah kalimat. Serentetan huruf telah membanjiri kertas, tanpa terasa jelang beberapa saat kemudian lembar kertas itu penuh terisi dengan tulisan yang tidak jelas. Tak ayalnya genggaman tanganku tidak bisa memisahkan diri dari pena itu. Pena berdawat hitam tepatnya adalah kini merasuki jiwaku memaksa untuk mengerakkannya membentuk aksara hingga di judul atas tertulis

Read more…

Selasa, 27 September 2011

Alhamdulillah Yaa


Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh,  26 September 2011
Bercita-cita menjadi artis ibarat pungguk merindukan bulan bagi Sonia. Mustahil. Beberapa kali ikut audisi, temannya Aya itu tak lulus. Daripada daripada, ia pun memilih ikuti saja budaya artis ibukota. Apa yang artis pakai dan ucapkan, ditirunya.
Tingkah artis Indonesia tak jarang membuat fansnya tergila-gila, tak terkecuali Aceh, seperti Sonia juga Aya. “Alhamdulillah yaa,” kata mereka juga remaja atau pemuda Aceh sesama

Read more…

Sabtu, 24 September 2011

Tidak Hanya Lulus Belaka

Oleh: Iqbal Perdana



Kembali Universitas Jantoeng Hatee Rakyat  Aceh wisudakan mahasiswa-mahasiswa terbaik dalam memenuhi dan menyempurnakan bangsa, khususnya Aceh.Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang dicapai juga sangat memuaskan,mahasiswa yang sangat memuaskan dan terpuji (Cumlaude) mendominasi persentase nilai kelulusan ketimbang memuaskan. Pendidikan yang ditempuh selama sekian tahun dibayar lunas oleh kegigihan dan kecakapan selama menjadi peserta didik,di temani keluarga serta kerabat, juga baju toga khas wisudawan, ini adalah hari yang paling sempurna dalam hidup.
Adalah impian setiap mahasiswa dapat lulus dengan nilai terbaik, di dampingi keluarga dan kerabat dekat. Puji-pujian dan bersuka-suka, karna telah berhasil menaklukan segala badai yang

Read more…

Jumat, 23 September 2011

Lupa Jalan Pulang

Karya: Ferdian A Majni
Sumber: Harian Aceh

Yang segala indah kau sebut berhala
menyadarkan kegalauan hati ini yang tergores duka
kuingin mengeja hati tak terbatas waktu
seperti kemerlap malam yang di rampas mentari senja
aku rapuh dengan sejuta kesedihan yang tak berkesudahan
seperti airmata yang melanda kampungku sepekan setelah bandang
entah kapan aku bisa melanjutkan perjalan ini
setelah aku tertatih di ujung jalan pulang

Darussalam,  17 Maret 2011

Read more…

Ketika Bersaman

Karya: Ferdian A Majni
Sumber: Harian Aceh

Lintasgayo
Aku terpana pada tangan yang bersaman di ujung Gayo
berpentas seribu harapan pada tarian yang terluka
ketika ia terkenal dan aku yang bersaman dilupakan
aku tak juga rapuh, bahkan menentang kekuasaan itu
kadang tanah kelahiranku diabaikan atau terhapus goresan peta
tatkala aku mengadu nasib pada jantung negeri malam
mengarak awan hitam itu menyangga puing bahagiaku
yang masih tersisa dari kebersamaan yang kelam
namun aku  tersadar, betapa indahnya saman kita
tatkala seribu jemari hentakkan bumi yang sedang kemarau
menembus jarak yang tak terukur, mengukir jejak di jagat raya
untuk jiwa yang bertelanjang kaki
untuk raga yang bertelanjang jari
mengajarkan kita kesederhanaan, kebersamaan dan harapan untuk bersaman lagi

Darussalam, 20 Maret 2011

Read more…

Negeri Pesakitan

Karya: Ferdian A Majni
Sumber: Harian Aceh

Aku terusik lagi dengan tingkah penguasa
yang membunuh jiwaku bertubi-tubi
aku takluk lagi dengan tipu penguasa
yang menindas ragaku berpuing-puing
aku makin terperosok dalam jurang tajam
memagutku diam lidah yang kelu
untukmu kuasah luka yang tak pernah sembuh
kuniscayakan tanpa sebab yang harus diperdebatkan

Banda Aceh, 22 Februari 2011 

Read more…

Keyakinan

Karya: Ferdian A Majni
Sumber: Harian Aceh


Pada sebuah hati
yang semestinya aku tenggelam
dalam pusara nadi
namun keteduhan baitmu
membuatku terlena bak kecupan cinta
tak pernah henti kureka-reka
bayangmu dalam munajat doa
agar gemuruh rindu tak pongah dijamah senja
namun aku tertatih mengeja hati
dalam kembara hari-hari esok

menengadah pada langit
mengarak segala doa yang tak bersyair
aku masih tetap bertasbih di sewaktu hari
ketika perang menabuh luka bertalu-talu
namun tak pernah bisa menjungkirbalikkan warasku
dalam benci yang menghujat akidah
jangan pernah menduakan hati
biar negeriku bergejolak
Tuhanku masih tetap Yang Maha Esa

Banda Aceh, 10 Februaru 2011

Read more…

Setelah Esok

Karya: Ferdian A Majni
Sumber: Harian Aceh


Seperti senja yang bergelayut malu pada temaram hati
aku enggan memejamkan mata pada ujung malam
menyekat jejakmu yang semakin jauh kujamah
menyambut usiamu yang datang tak pernah jenuh
yang terangi langit pekat tatkala purnama malam itu

Kugores bahagia ini pada kedua sayap patahmu
hingga kau terbang tak terwatas menara langit
antara mengurai makna bahagia dan duka di sanubarimu
lewat bahasa sajak yang terpatri dalam hidupmu
ingatan kita tetap merangkul luruh tak tertahan
fakta yang  kau tulis tak pernah bunuh diri, sobat!
andai kau telah tiada esok

Banda Aceh, 04 April 2011

Read more…

Kamis, 22 September 2011

Senyum yang Kembali di Negeriku

Tlah lama kesengsaraan terbiar
menekam raga yang bertelanjang kaki maupun jari
menghantui nadi yang tak henti mendegupkan
kematian

Tlah lama senyum hilang ditelan amarah
dalam peluh mereka
tatkala kembali dalam pelukan angin malam
membawa dinar dari gurun pasir yang pongah
melukiskan senyum indah untuk mengisi
kemerdekaan

Kutaradja, 31 Juli 2011

Read more…