Kamis, 22 September 2011

Kita

Karya: Fira Alhaura



Kita
ialah awan yang selalu mengindahkan langit
ialah mentari yang menghangatkan bumi cinta
ialah tangis air mata yang memecah gemuruh ombak
ialah musin gugur yang meruntuhkan kegalauan
dan menggantinya dengan ketulusan hati
ialah lumba-lumba yang terus mengejar nafas kelembutan
ialah jiwa yang bertahta pada kemilau menara Eiffel
ialah puisi yang menerbangkan senyum di atas
Arc de Triomphe

Kita
adalah mimpi

Pemimpi romantisme negeri
gadis musim gugur
Paris

Banda Aceh, 22 Mei 2011

Read more…

Arti Sesuatu

Karya: Fira Alhaura

Bukannya aku tak bisa menggoreskan pena untuk
menghapusmu dari aku
sebab kau, wanita
kau tak bisa mengambil lentera malam ini untuk
terangi perih dalam gundah
biarkan aku menyelimutinya dengan raga yang
bertelanjang jari
yang pernah kita temui dalam sebuah rinai hujan
sebelum kau dan dia berhenti menatap angin yang
menghempas gelombang, malam itu

Kutaradja, 20 Agustus 2011

Read more…

Awal Sebuah Pertemuan

Karya: Fira Alhaura


Sebuah titah yang mengatakan
kalau kau telah datang tapi
ku tak temui bayangan itu pada
pondok hening
punyamu.
ku cari mengitari halamanmu dengan
gundah ku berulang-ulang terus menyabat
tiap tirai pengganggu haluan tapi
tetap tak ku temui bayanganmu pada ujung
benang yang telah ku rentangkan

Kutaradja, 7 Agustus 2011

Read more…

Senin, 19 September 2011

Kriteria Cowok

Oleh: Nazar Shah Alam
sumber: Harian Aceh, 13 September 2011

Alkisah, ini cerita berulang kembali ke beberapa tahun lalu. Tentang sekawanan perempuan yang akrab sekali berkawan-kawan. Suzanna, Maryam, Jeniffer,dan Maysaroh. Lazimnya gadis jika sudah melipir dari panas siang, mereka akan membicarakan banyak hal; serupa menggunjing.
Siang itu mereka duduk di tempat biasa, yakni di bawah rindang mahoni depan kampus lama mereka di Universitas Shah Alam. Sekian lama di sana mereka membicarakan banyak sekali tentang diri dan kuliah. Banyak masalah yang menyangkut dosen dan proses perkuliahan mereka saat itu. Dosen-dosen yang monoton dalam mengajar, yang melucunya sudah basi, idealis, oportunis, dan

Read more…

Sang Perisau

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 18 September 2011

Dalam cenung, terkadang aku merasa sekali bahwa aku adalah seorang perisau. Risau akan semua keadaan yang pantas dan bahkan hingga yang tak pantas kubawa risau. Maka, bila risau datang dengan gelagat paling menakutkan dalam hatiku, aku menjadi seorang penyendiri. Terasing dan, kemudian jadilah aku pengumpat. Ya, untuk kampung yang penuh racau, kacau-balau, selain mengumpat, apalagi yang bisa memunahkan risau? Hanya dengan mengumpat saja segenap masalah dalam diri akan musnah; hancur berkeping-keping.




Jika tiba saatnya, jadilah aku si tukang umpat. Selain mengumpat, tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk sekedar mengubah cara pikir orang-orang dekat, para kerabat, dan beberapa kawan sesama pengumpat. Ya, kita memang wajar menjadi pengumpat. Mengumpat para politisi, para birokrat, para artis kampung yang over acting; yang suka sekali kejar-mengejar seperti tikus dan kucing, sutradara yang kehilangan kreativitas dan monoton, penyanyi kampung yang plagiat, anak muda yang masih menghembuskan asap rokok walau telah terdengar beduk imsak; bahkan hingga shalat subuh usai, para pengguna jalan tak ada etika, para muda di jembatan hura-hura, para ibu-ibu kampung yang sok ikut trend berpakaian kota, para dara banyak gaya, para tua yang duduk di emperan kedai hingga azan jumat usai, para mahasiswa sok idealis; sok aktivis sehingga tak tahu meletakkan di mana lagi idealismenya, para kawan yang merasa sempurna dan tahu banyak hingga nampak lebih bodoh dan konyol, para yang suka menjatuhkan pamor orang lain, para iri, para picik, para, ah, banyak sekali.



Maka, jika tiba saatnya, kukira aku pantas menjadi perisau. Bahkan, wajar pula menjadi pengumpat. Sebab, menulis sebuah hikayat untuk sebuah isyarat tentu tak cukup kertas, tak cukup dawat. Mengubah mereka. Ah, apa yang bisa kita lakukan selain dari hanya mengumpat belaka? Menulisnya di koran-koran. Sia-sia. Mereka tidak pernah membaca koran. Kalaupun ada, maka mereka tak acuh saja.



2

Matahari masih sangat panas tersiram di atas rambut. Siang semrawut. Kota besar untuk sebuah daerah kecil ini terlihat begitu hiruk. Tak ada aturan. Sembari menunggu seorang kawan, aku menyapir ke sebuah emperan toko pakaian perempuan. Kawanku sedang mencari baju bayi untuk kawan kami yang lain yang baru saja dikaruniai seorang bocah kecil laki-laki. Dasarnya aku tak begitu dekat dengan emak bayi itu. Hanya saja, ia begitu akrab dulu berkawan dengan kawan perempuanku. Mereka dulunya, semasa sekolah, adalah kawan se-gank. Ah, gank!



Aku paling tidak suka pada yang mengotak-ngotakkan pertalian. Seolah mereka hanya hidup dan bergantung sesamanya saja. Bukankah kita diciptakan berbeda-beda untuk kemudian kita tidak jenuh pada hidup ini? Tuhan maha tahu. Dan untuk hidup, diciptakannya kita berbeda-beda adalah untuk membuat semacam perpaduan warna. Bayangkan jika pelangi itu hitam semua, jika yang tumbuh di dunia pohon apel semua, jika rumah di dunia rumah panggung semua, jika tari di dunia tari saman semua, jika lagu di dunia adalah dangdut semua. Mana indahnya?



Begitulah, kemudian aku mengumpat mereka. Ah, bukan, kukatakan itu pada mereka dengan terus terang. Namun mereka marah dan hanya ada satu orang yang sepikiran denganku; kawan perempuanku yang sedang mencari baju untuk bayi kawan kami itu. Maka kemudian ia menjadi seorang yang luas sekali pikirannya, tak ada picik sedikit pun. Setidaknya begitu, menurutku.

“Apa pula kau, bujang, mengatur kami? Apakah kau patah hati sebab ditolak salah satu dari awak kami ini?” sindir Nurbaya padaku ketika kusampaikan pendapatku itu. Yang lain terbahak-bahak mendengarnya.

“Oh, sama sekali tidak, puan! Hanya saja aku merasa dengan adanya gank, semakin sempitlah pergerakan perhubungan kita.” Jawabku membela diri.

“Sudahlah, bujang. Kami sedang tidak perlu siraman rohani. Sebaiknya kamu mencari saja perempuan yang bernama Rohani untuk kau sirami.” Sahut Laila. Sama seperti tadi, ucapannya disambut ledak tawa para awaknya.

3

Perempuan itu sedang sesunguk ketika kami tiba di rumahnya. Sebuah rumah sederhana. Konon, ia merasa tak diperdulikan sang suami yang bekerja sebagai sopir truk dan tak sempat pulang pada kelahiran anak kedua mereka ini, bahkan hingga hari kelima anaknya lahir. Ah, perempuan. Apa maksudnya, ia tidak diperdulikan? Bukankah lelakinya di sana sedang bekerja untuk dia dan anak-anaknya? Bukankah ia adalah seorang pengharap hidup kaya harta?



Aku ingat betul cerita Azalea; kawan perempuanku yang tadinya membeli baju untuk bayi kawan kami yang baru lahir itu. Bahwa dulu cita-cita mereka mendapatkan pasangan yang mapan dan kaya, sekarang mendapat kenyataan berbeda. Dari lima kawan berkawan mereka, tiga lainnya sudah berumah tangga. Tentu yang tiga orang yang sudah menikah ini adalah para jebolan dalam gank mereka dan terkenal cantik rautnya. Para mereka yang selalu saja berbicara dengan logat agak ditinggi-tinggikan dan dimentel-mentelkan, dulunya juga sering mengatakan,”tak ada kereta, sorry lah yaw” dan tertawa bersama keras-keras, menghina para bujang tak berharta orang tua, sekarang mendapatkan pasangan yang seperti mereka risaukan. Maka ingin sekali—jika mengingat hinaan mereka—aku tertawa terbahak-bahak, kalau perlu di muka mereka. Hahahahhahahahaha



4

Jika tiba masanya, aku ingin sekali tidak mengumpat. Hanya saja, jika kupikir berkali-kali, aku rasanya tak akan menghilangkan kebiasaan ini. Bagaimana mungkin aku diam, kampung ini adalah kampung penuh risau. Aku merisaukan pemimpin yang tak pandai berpidato; tak pandai membaca puisi; tak hafal lagu kebangsaan, aku merisaukan senior yang selalu ingin terlibat secara berlebihan; hingga kemudian terkesan para junior baru benar ketika nantinya ia sudah menjadi senior, kurisaukan bujang kampungku yang sudah sangat jauh bergesernya etika ke arah yang buruk, kurisaukan tayangan televisi yang kian menyesatkan, kurisaukan aktris film kampung yang kian berani mengumbar aurat, kurisaukan penegak hukum Tuhan yang kelewatan dan pandai sekali memilih siapa yang hendak dihukum dan siapa yang tak bakal, kurisaukan, ah, kurisaukan diri sendiri yang sekarang dilanda kerisauan.


Read more…

Jumat, 09 September 2011

Universitas Samping Unsyiah

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh

Ada beberapa pemain Timnas Indonesia bernama unik, kata kawan Je. Bambang ‘Pemangkas’ Rambut, Binatang ‘Boas’ Solossa, dan El ‘Locomotif’ Gonzales. Namun mereka tak menunjukkan tajinya sesuai nama. Bambang tak secermat dalam memangkas. Gonzales tak secepat lokomotif kereta api. Solossa tak sebuas binatang.
Komentar itu lahir setelah Indonesia ditaklukkan Bahrain dua gol tanpa balas di ajang Pra Piala Dunia 2014. Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno itu juga sempat dihentikan wasit karena ulah penonton, yaitu membakar petasan dan melempar botol air mineral ke lapangan. Bahkan ulah penonton itu membuat Presiden

Read more…

Hari Raya

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 08 September 2011



Hari raya di kampung Pengko berjalan begitu meriah. Walaupun dalam penentuan waktu tepat lebaran terjadi kesimpangsiuran, namun kemudian diputuskan juga akan dilaksanakan pada hari Rabu.
Alasannya sama, musabab mendung anak bulan tak nampak. Padahal, ketika pada malam keempat hari raya bulan muncul, terlihat bentuknya sudah serupa lima. Tapi sudahlah, tohPengko telah berpuasa pada hari Selasa itu. Baginya, segala keputusan para

Read more…

Puasa dan Etika Jalan Raya

Oleh: Sammy Khalifa
Sumber: Harian Aceh, 23 Agustus 2011



angingunungombaktinggi.blogspot.com
Inti dari berpuasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya. Kriteria larangan yang dimaksudkan dalam berpuasa itu sangat jelas dikemukakan dalam Islam. Yaitu aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pemuasan nafsu naluriah manusia seperti makan, minum, berhubungan suami-istri, dan lain sebagainya. Hal ini harus dilakukan mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Jika salah satu perkara yang disebutkan di atas dilanggar, maka secara otomatis pula puasa seseorang akan batal. Kecuali apa yang dilakukannya itu tanpa disengaja. Misalnya seseorang yang baru bangun tidur siang di bulan Ramadhan, lalu tanpa sengaja ia menenggak segelas air putih. Namun kemudian ia tersadar bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia menghentikan aktivitas minumnya saat itu juga. Hal-hal seperti ini masih diberikan toleransi ataupun pemakluman dalam berpuasa, sehingga

Read more…

Kamis, 08 September 2011

Haba Peuingat

Karya: Ferdian A Majni
Sumber: Serambi Indonesia, Minggu 13 Maret 2011

Krue seumangat Acèh lon tanôh mulia
nanggroe keuramat bak Syiah Kuala
nyoekeuh sabôh ceurita wahee teungku meutuah
bek na nyang teupeh bak sya’ee lon rawi
soe nyang na kuasa piyôh hai siat
takalôn nanggroe ka salah kiblat
lê that macam aneuk lahee di Acèh
na nyang peugah dröe geng motor
honda ayah bloe peuget keu judi
oh jula malam balap cöt ikue
na nyang peugah droe aneuk emo
beulanja ayah bri peuget keu gaya
uroe ngon malam sabee lam fesyen
na nyang peugah droe aneuk punk
leupah that ceubeuh agam ngon inong
tuböh Potallah meutindeik rata sagôe
na cit nyang dara wet-wet lam kota
aurat u lua tan diteupeu pakoe lê

Read more…

Makmeugang

Oleh: Iqbal Gubey
Sumber: Harian Aceh, 03 Juli 2011

Pelaksanaan makmeugang atau urau meugang sudah turun temurun dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat Aceh. Makmeugang dilaksanakan 3 kali dalam setahun yaitu meugang puasa, meugang urau raya puasa, dan meugang urau raya haji. Penamaan hari makmeugang itu berasal dari kata gang dalam Bahasa Aceh berarti pasar, di mana dalamnya terdapat penjual daging. Dan makmu, ada istilah yang sering diucapkan orang Aceh adalah makmu that gang nyan (makmur sekali pasar itu). Maka jadilah kata tersebut makmeugang.
Menjelang puasa kali ini Samin bersikeras untuk pulang ke kampung dan menikmati makmuegang bersama keluarganya. Meskipun usahanya di perantaunya sedang naik daun, tetap ditinggalkan Samin. Setahun lalu, kepadatan jadwal kuliahnya membuat Samin yang pernah menginjak kaki di Unsyiah tidak bisa pulang. Ia begitu kecewa. Di kamar kosya, ia menangis tersedu-sedu. Begitu pilu rasanya, jika mengingat kisah itu membuat hatinya geli dan giginya ngilu. Memang makmeungang ada nilai tersendiri bagi Samin.
“Makmeugang sangat penting untuk diperingati, menghormati hari besar islam, mewujudkan kehagiaan karena telah mencari rezeki selama 11 bulan, dan untuk perbaikan gizi,” ujar Samin kepada Soleh yang sudah seminggu lalu dipersiapkan untuk

Read more…

Alkhamdulillah

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 01 Agustus 2011

Pada dasarnya, ini cerita lebih ingin membahas tentang bagaimana sebuah dialek bahkan mampu mengubah kata atau suku kata tertentu hingga yang menjurus pada pengucapan kata yang berbau religius sekalipun. Semisal menyebut “Allah” yang dalam dialek Jawa malah terdengar “Alloh”, “Potallah” diucap “Potalah”, “Bismillah” di Aceh diucap “Biseumillah”, dan—untuk sementara sampai di sini bahasannya—“Alhamdulillah” oleh sebagian orang Aceh Rayeuk menyebutnya dengan “Alkhamdulillah/alqamdulillah”.
Ide cerita ini bermula dari Wak Lah yang bertanah lahir di Aceh Rayeuk dan kemudian merantau demi membuang galau ke Aceh Paki-Paki II. Kebiasaan Wak Lah mengucap Alkhamdulillah ini kemudian diikuti oleh banyak pemuda di kecamatan Jari-Jari, lebih khususnya di kampung Kuta Ganteng. Maka ucapan Alkhamdulillah ini telah menjadi ucapan populer dalam pergaulan anak muda di sana. Inilah satu-satunya karya terbesar yang pantas dibanggakan Wak Lah selama hidupnya. Selebihnya tak ada.
Pada tidak dasarnya, ini cerita ingin memberitahukan kabar lebih lanjut tentang Pemira Himatukulbasin yang Pengko menjadi calon ketua warga di sana. Dalam Pemira Himatukulbasin kemarin terjadi ketegangan yang sangat dahsyat. Sejak awal pemilihan hingga usai penghitungan suara suasana tegang saja. Kedua kandidat terlihat tidak bisa menyembunyikan ketegangannya. Pengko dan—siapa ya nama adek saingan Pengko itu, lupa pula kami—duduk berdampingan di kursi kandidat

Read more…

Asmara Suboh

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 04 Agustus 2011 
Asmara, kata yang banyak makna. Beda usia, tempat, suasana, akan beda penafsirannya. Dalam bulan puasa Ramadhan, orang Aceh sepertinya setiap hari mendengar kata ‘asmara’ kala subuh tiba. Lebih-lebih bagi muda-mudi, nyaris saban hari menikmati asmara subuh dengan jalan-jalan di jalan negara dalam kampungnya, sehingga populer dengan sebutan asmara suboh.
Ada tujuh tipe penyuka rutinitas ini. Pertama, orang yang tak salat subuh berjamaah—bahkan tak salat sendiri di kediamannya. Seperti Si Tus. Begitu jamaah pulang dari meunasah, ia keluar rumah dengan roda dua yang bunyi knalpotnya seperti trieng teuplah (bambu pecah). Lalu temui Isan yang sudah janjian malamnya.
Kemudian mereka susuri jalan pelan-pelan. Mengekori setiap gadis-gadis yang masih mengenakan silukom (mukena) di badan, atau, gadis-gadis dengan pakaian olahraga tempat ia menuntut ilmu. Dirayu-rayu. Begana-begini. Macam-macam dah.
Kecuali merayu wanita, pemuda demikian pergi ke tempat balapan liar. Di sana mereka berlomba-lomba jadi yang tercepat sehingga dapat perhatian penonton. Apalagi bila banyak dara-dara yang menyaksikan, para pembali (pembalap liar) itu senang sekali dengan harapan dara-dara kampung atau yang baru pulang dari kota menaruh rasa suka padanya, padahal dara itu cuma suka melihat ia buang-buang bensin motornya. Kasihan sekali para pembali itu ketika tak dilirik si dara, atau mati di jalanan usai tabrakan juga terpeleset di jalan aspal hingga berdarah-darah.
Kedua, muda-mudi yang sengaja salat berjamaah di meunasah, seperti Si Him. Usai itu, ia juga asmara suboh bareng kawan-kawan yang sepaham dengannya. Ketiga, sengaja salat subuh berjamaah, namun kejamaahannya tak tuntas, sebab langsung pamit dari surau begitu imam selesai mengucapkan salam pertama. Lalu buru-buru pulang ke rumah, antara memilih tidur lagi atau pergi asmara suboh.
Keempat, sengaja salat jamaah ke meunasah atau masjid, dengan harapan dapat menemui kekasihnya di sana, seperti Je. Lalu begitu usai salat, keduanya jalan-jalan dengan penuh kemesraan di atas motor. Bagi yang sudah kawin, asmara suboh adalah momen tepat untuk bermesraan; memadu kasih atau menyambung ‘cerita’ semalam.
Kelima, ibu-ibu yang memang sangat ikhlas memanfaatkan salat subuh berjamaah selama puasa Ramadhan sebab kesempatan itu nyaris tiada selain pada bulan suci itu. Ibu-ibu ini, seperti Po Ramlah emaknya Aya, setelah asmara suboh sebentar yang bertujuan hilangkan rematik, mereka biasanya ke sungai untuk mengutip batu-batu kecil di pantai. Batu itu akan ditabur di makam keluarga atau diruah ke halaman rumah.
Keenam, orang-orang yang tertidur usai makan sahur, dan terjaga sekitar jam 6 pagi atau bahkan sampai siang nanti, terbuka peluang untuk bangun sore hari, agar tak terasa lamanya tahan lapar dan haus. Mereka mesra lam tika eh.
Ketujuh, sebagian bapak-bapak memilih berkebun atau bertani begitu pulang dari berjamaah subuh di meunasah. Mereka akan berasmara suboh dengan tanamannya. Ada juga tetua yang memilih cang panah atau poh cakra (cuap-cuap) di balai jaga setelah salat berjamaah. Mereka mesra dengan perdebatan cara-cara orang melakukan salat barangkali, seperti perselisihan jumlah rakaat salat sunat tarawih: 8 atau 20 atau 36?
Dari beberapa tipe orang Aceh dalam momen subuh setiap Ramadhan, sepertinya yang keempat paling banyak. Namun begitu, misalnya keluar ide melarang asmara suboh, kiranya tak perlu. Sebab asmara suboh, setidaknya jamaah salat subuh penuh, sehat, dan semangat dalam menjalankan puasa meski pagi-pagi sudah harus cuci mata yang kemungkinan membatalkan pahala berpuasa.

Read more…

Lupa Ingat

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 20 Agustus 2011

Pagi bertanggal dan bulan kemerdekaan Indonesia yang mendung, Je mendatangi lapangan Blangpadang Banda Aceh untuk memantau keberlangsungan upacara bendera HUT RI ke-66. Sengaja datang karena sudah tahu kalau Inspektur Uparaca (Irup)-nya adalah Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, yang konon katanya tak pandai berpidato.
Mulanya, acara lancar saja. Tapi Je terpingkal-pingkal di suatu momen saat sang Irup memimpin lagu Mengheningkan Cipta. Seperti diberitakan kemudian, ketika lagu ciptaan T Prawit itu sedang memasuki reff dan belum berakhir, Irawandi Yusuf memberi komando mengheningkan cipta selesai.
“Hening cipta selesai,” kata Irwandi. Padahal, lagu masih berlanjut. Di akhir lagu (yang sesungguhnya), gubernur kembali mengucapkan, “Hening cipta selesai.” Satu lagu, dua kali heningkan cipta. Begitu tulis sebuah media nasional yang mengutip Harian Aceh.
Sontak saja, Je melihat, semua peserta upacara mengulum, menahan senyum. Je terpingkal-pingkal dengan nada kecil. Begitu juga dengan semua peserta. Kenapa pula seorang gubernur yang bertindak Irup tak hafal lagu Mengheningkan Cipta. Apa karena tak membaca liriknya pada secarik kertas—kebiasaan Irwandi berbicara depan umum, tanya Je hari itu.
“Maaf, keteledoran Irwandi itu memberikan citra bagi orang luar Aceh bahwa pemimpin Aceh terlihat agaknya bodoh, apalagi rakyatnya. Haha,” kata Je kemudian hari pada Ari.
“Apa Gubernur Aceh mengidap amnesia, penyakit lupa, sebagaimana mantan bendahara umum Partai Demokrat, Nazaruddin, yang setelah ditangkap ia lupa akan kasus menimpa dirinya?” tanya Ari. “Kadang pih nyo. Bisa jadi. Tapi lupanya Nazaruddin sudah jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya negara, haha,” kata Je.
“Yaya, tidak dengan pemimpin kita. Lupanya Irwandi lupa ingat barangkali, seperti yang dimaksudkan Kuburan Band. Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya,” nyanyi Ari ke wajah Je. “Ah, kamu tak sikat gigi tadi pagi ya, bau amat. Bee naga. Kuning pula, bisa untuk cat boat.” Dijawab Ari, “Maaf, lupa juga. Hehe, tapi kamu kenapa pakai baju terbalik?” Oo, “lupa juga. Tapi ini, kata tetua Aceh, bertanda akan datang rejeki. Yaya,” sahut Je. Nyo kadang.

Read more…

Khutbah

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 05 Agustus 2011
Konon, dalam bulan Ramadhan ini Pengko berniat untuk memperbaiki kebiasaan ibadahnya. Paling kurang ia sudah lebih rajin shalat dan berbuat kebaikan. Di hati ia berniat jika Ramadhan selesai maka ia mesti menjadi orang yang lebih baik dari waktu sebelumnya, baik dari segi amal ibadah maupun dari segi sikap.
Maka mulailah ia rajin melaksanakan ibadah wajib dan sunnah. Dikuranginya kebiasaan yang selama ini  lebih banyak mendatangkan mudharat daripada manfaatnya. Ia mulai mengurangi tidur dan banyak-banyak bersalawat.
Tibalah pada hari Jumat. Di rantau, ia sangat sering meninggalkan ibadah yang satu ini. Musababnya sangat beragam. Ia merasa bahwa di kota Banda, sebagian pemuka agama tidak belajar tentang ilmu keefektifan, maka kemudian para pemuka agama itu sering keliru menjalankan tugasnya. Mereka kurang belajar ilmu rasa, atau lebih tepatnya ilmu merasa-rasa. Sehingga, bagi anak muda semacam Pengko yang belum begitu kuat beragama dan masih terus belajar, akan timbul keengganan dalam melaksanakan kewajiban agamanya.
Di kampung Kuta Ganteng, ketika Teungku Khatib naik mimbar untuk berkhutbah, sang Teungku seakan diwajibkan untuk tahu jatah waktu. Menjadi imam juga begitu. Misal, seperti Jumat ini, sang khatib tidak begitu panjang lebar menguraikan nasehat. Langsung-langsung saja dan bernasehat yang penting-penting saja. Beliau tahu bahwa para makmum bukanlah semua orang-orang yang kuat duduk dan rata-rata mesti kembali bekerja sepulang dari masjid. Maka di kampung Pengko, rata-rata orang tua dan pemuda senang untuk mengikuti ibadah berjamaah. Saat menjadi imam pada seluruh shalat berjamaah, para imam di kampung Pengko tidak membaca ayat-ayat yang sangat panjang. Para imam tahu bahwa makmum di belakangnya bukan semua orang kuat berdiri. Barangkali ada yang sakit, barangkali ada yang buru-buru mengerjakan sesuatu, barangkali ada anak muda yang semacam Pengko—belum kuat sekali agamanya dan masih belajar untuk kuat. Tentu apabila imam memaksa diri membaca ayat-ayat panjang maka ibadah sebagian makmum yang mengikutinya akan tidak ikhlas.
Jauh berbeda dengan di kota Banda. Jika khutbah Jumat, para khatib menguraikan nasehat sedetail-detailnya, sampai kepada hal-hal yang tak terlalu penting sekali pun. Khutbah sudah semacam kampanye. Maka, semenarik apapun, tetap saja akan membosankan. Apalagi di sana notabene makmumnya adalah pekerja. Sangat tidak efektif apabila bernasehat terlalu panjang lebar di mimbar. Imam-imam masjid terkadang sering tidak mengindahkan makmumnya. Tidak peduli apakah makmumnya ada yang tidak kuat berdiri karena mungkin mengidap suatu penyakit, buru-buru mengerjakan sesuatu, atau ada makmum yang seperti Pengko—belum kuat sekali agamanya dan masih belajar menguatkannya. Sangat tidak efektif apabila Imam membaca ayat-ayat yang terlalu panjang, padahal. Bahkan suatu kali Pengko sempat berujar pada Shakir,”Aku enggan sembahyang di masjid tertentu di kota Banda ini, imamnya tak tahu diri. Memangnya kita ini semua sama, apa? Banyak hal lain yang perlu kita kerjakan. Dia enak, sudah kaya. Nah, kita, kita mesti bisa mengerjakan hal yang lain setelah ibadah. Aku pernah diusir dosen karena telat sekali masuk ruangan kuliah hanya karena khatib yang terlalu panjang khutbah dan imam yang membaca ayat sepanjang satu juz dalam shalat Jumat. Sakit hati aku. Tak sah mungkin ibadah aku hari itu. Maka jika aku tak datang lagi shalat Jumat, itu murni salah teungku-teungku itu.”
Namun, ketika di kampung seperti ini, Pengko merasa bahwa di sini para teungku sangatlah pandai menarik minatnya untuk beribadah. Teungku-teungku yang baik dan tahu makmum adalah umpama gula pada kue cincin, kata Wak Lah ketika dibonceng Pengko dengan sepeda ontelnya sepulang shalat Jumat di kampung mereka.

Read more…

Korban Iklan

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 07 Agustus 2011
 
Asal puasa atau mau lebaran, beberapa iklan yang membuat anak-anak merengek-rengek, remaja-remaja termehek-mehek, orangtua capek, muncul di layar kaca. “Apa penyebab orang-orang dari menonton televisi bisa menjadi korban iklan?” tanya Je pada Ari. “Hom,” sahutnya, menggeleng kepala.
Sebelum Je beri tahu rahasianya, ia ingin menceritakan kebiasaan kawan-kawannya masa kecil. Ketika belajar berpuasa masa-masa SD, Si Him selalu merengek pada orangtua untuk membeli apa yang dilihatnya dalam iklan. Terutama iklan sandal yang kalau membelinya berhadiah mobil-mobilan, jam tangan atau gem bot.
“Mak, bloe lagee lam tivi (beli seperti yang di tivi),” rengek Isan pada ibunya. Permintaan demikian membingungkan si ibu. Sebab Isan tak tahu benda apa yang dilihatnya. Di kepalanya, yang penting seperti ditampilkan televisi. Sebagai ibu yang punya naluri keibuan, ibu Isan menyempatkan diri menyimak setiap iklan pada suatu hari dalam bulan puasa itu, sampai Isan kecil berkata lagi, “Mak, bloe lagee lam tivii.”
Tak lama kemudian, Isan menyerukan kalimat itu ketika iklan deodorant untuk ketiak tampil. Ia mengira itu permainan bola kecil yang digulir-gulirkan pada selangkangan lengan. “Alah hai Potalah,” komentar si ibu, “nyan kon mainan hai neuk,” sambungnya, “tapi, atom brok”. Sontak Ari menangis. Sedang si ibu menyumpal mulutnya dengan lughok (sejenis timphan) agar tak lagi menangis.
Lain pula dengan Ari. “Ah, kau Je, masa kecil kita tak usah diceritakan. Cukup mereka saja,” sergah Ari. Oke oke. Pun begitu, Je mengisahkannya jua di lain waktu, bahwa ketika kecil, Ari selalu meminta dibeli baju-baju superhero, seperti seragam Bat Man, Super Boy, Power Rangers, Ultra Men, Zorro, dan Spider Man.
Yang perlu dikata, “kita jadi korban iklan terkadang sampai dewasa, sampai hari ini,” kata Je lagi pada Ari di sela-sela ngopi di Dhapu Kupi. Bilamana melihat iklan yang penjelasan naratornya atau cerita dalam iklan, “kita mengiyakannya. Dan besok sudah membelinya. Apalagi perempuan, sangat tertarik dengan kosmetik yang diiklankan oleh gadis cantik-cantik dengan memamer bentuk tubuh.”
Kenapa semudah itu audiens (pemirsa) menjadi korban iklan? “Karena, seperti dikatakan senior saya yang menulis skripsi tentang iklan,” itu karena adanya ‘positioning’ dalam pesan iklan, yaitu mencari jendela dalam otak konsumen, sehingga apa yang diinginkan pembuat iklan (pemilik produk) masuk dalam otak manusia. Positioning itu agar tersambung dalam memori nudes manusia, yakni penyimpan informasi yang terletak dalam otak manusia. Barangkali sederhananya, “memposisikan pesan iklan dalam otak manusia.”
“Misal,” ada iklan yang menyampaikan, “cewek gampang bosan,” lalu sebagai solusi, “gunakan parfum yang wanginya berubah-ubah.” Nah, kata Je, pesan demikian sangat masuk akal, sehingga kaum cowok buru-buru membeli parfum yang wanginya berubah-ubah itu.
Atau contoh lain, iklan tentang obat pil/kapsul yang mencegah penyakit lambung selama berpuasa, maka disiapkan iklan yang diperankan aktor agak islami dengan berkata, “minum (nama obat disensor), agar puasa lancar.” Haha, Ari tertawa mendengarnya. “Yaya, saya paham,” katanya.
Nah, demikianlah sedikit rahasia mengapa masyarakat Indonesia atau Aceh khususnya ‘ditipu’ iklan, sehingga menjadi korban iklan. “Semoga bermanfaat di bulan yang penuh berkah ini,” kata Je.

Read more…

Tarawih

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 10 Agustus 2011
Anjali dilanda gamang dan kesal. Maka ia mengirimkan para anggota Gank Apache surat. Surat itu berisi pengaduan tentang sikap orang kampungnya yang egoistis. Betapa tidak, Anjali yang pada dasarnya adalah seorang yang yang rajin beribadah, pada malam pertama dan kedua tarawih tidak dapat tempat untuk berdiri. Beruntung Samaun juga sedang berada di kampung sehingga ia mengajak Anjali pindah tempat ibadah ke kampung tetangga mereka, Gleumpang yang memiliki masjid lebih luas.
Dari kampung mereka, Durian Bahtera, Anjali dan Samaun berjalan dengan menggunakan sepeda motor Samaun yang batuk-batuk. Di tengah perjalanan sepeda motor Samaun bocor ban pula. Maka mereka menitipkan sepeda motor itu di sebuah rumah di kampung Gleumpang dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Berikut isi surat Anjali:
Saya kesal banget pada para jamaah kampung Durian Bahtera. Mereka yang pada shalat jamaah di hari-hari puasa di bukan bulan Ramadhan gak pernah nampak sandalnya di tangga masjid, malam ini malah menjadi pengisi shaf pertama. Maka saya tidak kebagian tempat. Pokoknya saya kesal banget. Apalagi kemudian pada malam ketiga puasa mereka sudah gak nampak lagi datang ke masjid, uh, dasar!
Pengko tersenyum membaca surat singkat kawannya yang memiliki rambut paling rumit itu. Fenomena ini memang sering terlihat di kampung-kampung Aceh. Jamaah akan meledak pada malam pertama tarawih dan pagi lebaran. Entah apa yang menyebabkan hal seperti itu terjadi. Yang jelas, semacam ada pemuliaan pada malam dan hari itu secara berlebihan.
“Bukankah shalat wajib berjamaah lebih besar pahalanya dibandingkan shalat sunat?” Tanya Pengko suatu hari pada Maksum. Kawannya itu mengangguk dan menjawab,”itulah kita, tidak tahu mendahulukan yang mana semestinya.”
Jika boleh dibayang-bayang, tentu sangat semarak masjid apabila pada tiap shalat wajib lima waktu jamaahnya meledak seperti pada malam pertama tarawih. Baiklah kalaupun tak sebegitu ramainya, tapi setengah dari itu. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Boleh juga, misalnya orang kita—kasarnya—lebih memilih datang berjamaah pada shalat sunat, pada shalat tarawih ini mereka datang tiap malam sehingga masjid juga semarak sebulan penuh. Namun, yang terjadi malah mereka hanya mengandalkan ibadah pada malam pertama dan kedua saja. Sungguh lucu dan penuh tanda tanya.
Pengko sendiri pada shalat tarawih selalu datang, tapi dengan sangat tahu diri—sebab pada shalat berjamaah lainnya ia jarang datang—maka ia lebih memilih berdiri di shaf kedua. Artinya, shaf depan diberikannya untuk para yang lebih rajin diripada ia. Memang tak ada peraturan yang mengatur demikian, tapi tahu diri itu lebih baik, bukan? Maka, mari tarawih hingga pulang bulan ramadhan tanpa sekalipun meninggalkannya agar masjid menjadi semarak nian, ujar Wak Lah pada Pengko malam pertama Ramadhan. Dan sejak malam kedua Ramadhan, Wak Lah pun rupanya sudah tak nampak lagi di antara jamaah hingga cerita ini diturunkan.

Read more…

Cool

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 12 Agustus 2011
 
Enaknya hidup di Aceh yang cool (Inggris: sejuk/dingin). Penduduk prianya cool—tidak semua. Pemerintah cool. “Politik politik kuwl (bacaan cool). Muncul konfik pun konflik kuwl. Akhe buet, apui-apui pih kuwlllll,” komentar Je usai membaca berita Pembahasan Pemilukada Aceh di Kemendagri.
Dan, sebuah kesepakatan, pembahasan masalah Pemilukada dilakukan ‘cooling down’ selama bulan suci Ramadhan. “Ya, mendinginkan situasi,” sahut Je begitu ditanya Si Him apa maksud istilah itu. “Kenapa orang-orang bermasalah itu tak ke daerah kutub saja, ke Antartika. Di sana es semua, dijamin dingin,” balasnya. “O hai Himmm.. Him,” Je geleng-geleng kepala.
‘Pertemuan Jakarta’ itu dilakukan untuk menyelesaikan konflik regulasi (peraturan) qanun Pemilukada Aceh. Pertemuan tertutup itu dihadiri para pihak seperti Gubernur Aceh, DPRA, KIP, dan Bawaslu. Oleh beberapa pihak, termasuk wagub Aceh, pertemuan tersebut berkesan mempermalukan Aceh. Katanya, pemerintahan mandiri, self-government, daerah otonomi khusus, masa masalah Pemilukada saja harus diselesaikan di Jakarta.
“Aku setuju kalau pertemuan itu mempermalukan Aceh, Him. Bayangkan, kita punya rumah sendiri. Lalu timbul masalah dalam rumah kita. Kemudian, karena menganggap masalah itu sulit, kita menyelesaikannya di rumah orang lain, padahal masih ada orang yang bisa selesaikannya di rumah sendiri. Ini tidak, kita kuwlkan di kulkas tetangga. Kan bodoh!” Yaya, angguk Him.
“Him, Him, kakalon foto peserta pertemuan di koran nyoe lee. Mereka tak kelihatan kuwl, padahal mereka sedang cooling down, haha,” kata Je. Yaya, Him mengangguk lagi. “Lihatlah, mereka tampak lelah sekali. Selain karena sedang puasa (jika mereka puasa), mungkin juga pemerintah Aceh tergolong orang-orang yang lamban dalam menyelesaikan suatu masalah,” kata Je, lagi.
“Hai, coba kalau kau pemerintah Aceh,” bantah seorang pria. “O, rupanya na yang pro chit… Him, ha ha ha. Kop bangai,” bisik Je pada telinga Si Him. “Sang timses jih.”

Read more…

Upin Ipin

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 13 Agustus 2011

Haiiii. Saye Upin, ini adik saye Ipin. Kite orang ke, hari ini puase. Kira-kira begitu kata dua tokoh kembar dalam film animasi Upin & Ipin, produksi Les’ Copaque. Film bertemakan pendidikan anak ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia. Mulai populer di Indonesia sejak 2009. Demikian halnya anak-anak Aceh yang seperti terhipnotis oleh aksi ciamik si kembar yatim piatu dan kawan-kawannya itu.
“Bahkan, saking hebatnya film itu, kita orang Aceh meniru percakapan pemeran film itu dalam kehidupan sehari-hari. Hana malee,” kata Ari. “Tapi film ini sangat bagus untuk pembelajaran anak-anak, bernuansa islami.”
Sayangnya, Upin Ipin bukan produksi Indonesia. “Kita kalah cepat di segi perfilman. Indonesia cuma pandai bikin film horor. Menciptakan hantu-hantu buatan. Menakutkan anak-anak. Kesannya, menyampaikan pesan pada anak-anak Indonesia, bahwa hantu itu ada,” komentar Ari menggebu-gebu kepada peserta seminar perfilman Indonesia di aula kampus.
Itu artinya, Malaysia selangkah lebih maju dari Indonesia—yang lebih dulu merdeka—dalam hal perfilman. Sejauh ini Indonesia belum pandai memproduksi film animasi atau kartun. Memang ada satu-dua film animasi, tapi tak mendunia. Untuk belajarnya, pemuda-pemuda Indonesia atau Aceh khususnya, harus belajar ke Amerika Serikat, pusatnya studi film animasi. “Di sana,” kata Ari, ada studio Walt Disney Productions sebagai tempat studi, selain ke: Digital Media Arts College di Boca Raton, Florida, Art Institute of Pittsburgh-Divisi Online yang memiliki lebih dari 40 lokasi di Amerika Serikat dengan Online Programs atau ke Ex’pression College untuk Seni Digital yang terletak di Emeryville, California.
Walter Elias Disney atau lebih dikenal Walt Disney, kelahiran Desember 1901 di Chicago adalah seorang produser film, sutradara, animator, dan pengisi suara berkebangsaan Amerika Serikat. Ia terkenal akan pengaruhnya terhadap dunia hiburan abad ke-20. Sebagai ko-pendiri Walt Disney Productions (bersama Roy O. Disney), Walt Disney menjadi salah satu produser dan penerbit film paling terkenal di dunia. Perusahaan yang didirikannya, kini dikenal sebagai The Walt Disney Company.
Beberapa film animasi produksi WDP yang sangat disukai anak-anak Indonesia antara lain Mickey Mouse, Donald Duck, Gufi, dan Pinocchio. Ada juga film animasi karya orang-orang di AS selain Walt Disney yang sangat digemari hingga hari ini seperti Tom and Jerry, Scooby Doo, dan SpongBob SquarePants.
Selain AS, agaknya Jepang di posisi kedua dunia dalam hal film animasi. Film animasi yang sangat disukai anak-anak Aceh dari negeri matahari terbit itu, antaranya, “La la la … Aku sayang sekali, Dora Eeeee mon,” lantun Ari pada peserta. Ya, film seperti Dora Emon, Kapten Tsubasa, Dragon Ball Z, Detektif Conan, Naruto, dan Crayon Sinchan.
Di Jepang juga punya perguruan tinggi yang mengajarkan animasi, seperti Universitas Meiji dan Osaka Internasional School of Culture and Language (Sekolah Internasional Osaka Kebudayaan dan Bahasa Jepang).
“Apa pentingnya film animasi?” tanya peserta. “Pertama sekali, ia mendidik. Kedua menghibur. Bukankah film Upin Ipin sangat disukai anak-anak Aceh? Tentu disukai banyak orang karena ia bermanfaat bagi orang lain. Barangkali, karena Indonesia tak bisa sendiri, ya, merelakan saja orang Malaysia, Amerika, Jepang, yang mengajari anak-anak negeri ini melalui film animasi mereka.”
“Tapi, kami tak sanggup sekolah ke sana. Apalagi mengharapkan modal orangtua yang peduli pendidikan. Jangankan untuk sekolah anak, untuk beli beras saja susah. Ini bagaimana?” tanya peserta. “Nah, itu dia. Anak-anak Indonesia selalu bermasalah dengan keuangan untuk menyambung pendidikan. Ini solusinya, pemerintah Indonesia menganggarkan beasiswa ke luar negeri untuk semua jurusan, jangan untuk jurusan tertentu saja. Kedua, melalui lomba film animasi yang pemenangnya mendapat tiket gratis berkunjung ke studio Walt Disney atau tempat-tempat tadi, seperti baru-baru ini. Ini artinya berusaha dari diri sendiri.”
Pun begitu, “kalau kita mau,” mudahnya bisa belajar dengan mencari cara-cara dan teori atau teknik-teknik pembuatan film itu di internet, tanyakan Profesor Gugel, lalu praktikkan pada komputer sendiri. “Seperti yang sedang dilakukan seorang teman saya. Dan ia sudah bisa membuat animasi walau sedikit dan dasar saja. Barangkali akan mendunia beberapa tahun lagi. Yang penting kemauan,” ceramah Ari.

Read more…

Bubar

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 15 Agustus 2011
Ada ritual baru yang seolah menjadi sebuah kewajiban bagi orang kita bila bulan Ramadhan telah datang. Ritual tersebut dikenal dengan buka puasa bersama, kerennya disebut Bubar atau jika dipanjangkan menjadi buka bareng.
Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama sejawat sepekerjaan, seorganisasi, kawan lama, kawan baru, seruang kuliah, sefakultas, sekelas, sesekolah, seasal, dan masih banyak se-lainnya. Yang pasti, boleh dikata tidak ada yang melaksanakan Bubar dengan orang yang bukan se- dengannya.
Selaku orang yang memiliki banyak se-, Pengko memiliki kesibukan baru selama bulan Ramadhan ini. Ia diajak kawan se-se-nya. Dari mulai kawan sekelasnya dulu hingga kawan diskusinya yang baru. Ketika pulang ke kampung, ia diajak pula oleh pemuda dan beberapa kawan seasal sekolahnya untuk Bubar. Ia tak enak hati menolak ajakan kedua kelompok tersebut. Sebab, di kelompok pemuda Wak Lah yang mengundangnya, sedang di kelompok kawan sesekolahnya ia diajak oleh Zainab, gadis cantik mantan ketua kelasnya yang dulu sempat merayu-rayu Pengko yang rupawan itu.
Sungguh dilema sebenarnya. Pengko sekarang sedang tak punya banyak uang, sedangkan saat Bubar ia mesti menginfakkan 20 ribu. Namun, selaku anak keturunan Raja Persia, Pengko diringankan oleh uang dari orang tuanya. Maka ia segera melunasi infaq tersebut. Pada Wak Lah diberikannya setengahnya dulu, sebab ia tahu betul siapa Wak Lah. Bisa-bisa uang infaq dari Pengko untuk membeli nomor buntut. Namun pada Zainab, Pengko memberikan infaq lunas.
Pada hari H Bubar dengan kawan sekelasnya, Pengko datang agak terlambat. Ia seharian sibuk membagi-bagikan makanan untuk anak-anak yatim kampungnya. Sungguh, jika ditilik lebih dalam, memberi makan untuk anak yatim berbuka jauh lebih baik daripada mengadakan Bubar di mana-mana. Ia membayangkan kembali seberapa banyak uang yang telah ia habiskan untuk acara Bubar sejak malam pertama puasa hingga malam kemarin. Sungguh jika uang itu digunakannya untuk berbuka sendiri tentu 20 ribu akan lebih. Bayangkan jika uang lebih itu diberikannya untuk anak yatim, tentu mereka akan merasakan nikmat yang lumayan pada tiap harinya.
Ketika Pengko tiba, Zainab telah berdiri di muka pintu dan tersenyum. Begitu Pengko masuk ruang acara, seluruh gadis membekap mulut mereka. Semua terpana menatap Pengko yang sangat tampan rupawan datang. Dengan sangat percaya diri lelaki keturunan raja Persia itu melangkah ke tempat yang telah disediakan untuknya. Sepanjang proses Bubar masih saja gadis-gadis sekelasnya dulu itu terpana-pana. Sungguh tampan tak alang kepalang pemuda itu, apalagi dalam suasana selalu berwudhuk, mukanya semakin bersinar.
Malam besoknya ia menghadiri pula acara Bubar dengan partai Wak Lah. Di sini ia datang lebih cepat karena ia terlibat sebagai panitia. Namun, sejam sebelum berbuka puasa, ketika ia hendak mengambil ambal di gudang masjid, Pengko terperangah menemukan Wak Lah sedang mencicipi kue bawaan pemuda lainnya di sana. Dengan tersenyum malu Wak Lah berkata, usah risau, kawanku, tadi siang waktu aku mengejar kerbau yang hendak masuk sawahku, jatuh pula aku dalam kubangan, airnya masuk ke mulutku dan terteguk, tentu batal puasaku, bukan?
Pengko paham betul kawannya itu. Padahal, jika memang hal itu benar terjadi dan tanpa sengaja Wak Lah terminum air kubangan, tentu Tuhan akan memaafkannya dan puasa Wak Lah masih sah. Namun, itu cerita tentu rekayasa Wak Lah semata, padahal memang ia tidak puasa.
Ketika isyarat berbuka puasa berbunyi, Pengko melihat Wak Lah sudah duduk rapi di dekat imam masjid dan dengan khusyuk mengaminkan doa berbuka yang dibaca sang Imam. Ketika imam bertanya padanya apakah ia puasa, Wak Lah menunjukkan bibirnya yang kering. Kering bibirnya itu padahal disebabkan oleh rokok yang baru dihisapnya sesaat sebelum had berbuka tiba. Itulah, orang tak puasa pun rupanya jika tiba waktu buka ikut berbuka seperti orang yang berpuasa, malah jika membaca doa berbuka ia lebih khusyuk. Memanglah!

Read more…

Baju Lama

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 22 Agustus 2011

Puasa boleh tidak, baju baru harus ada. Tarawih boleh tidak, baju baru harus ada. Demikian Si Him berceloteh begitu tahu bahwa sebagian kecil orang Aceh di bulan Ramadhan seperti itu: yang puasa dan tarawih boleh tidak, tapi baju baru untuk dikenakan saat Idul Fitri harus ada.
Si Him tidak sedang bercanda. Dari tahun ke tahun hingga usianya dua puluhan tahun, telah dirasakannya bahwa ada keanehan dalam diri sebagian kecil masyarakat Aceh. Mereka itu semampu mungkin berbelanja pakaian baru untuk menyambut—barangkali memeriahkan, memamerkan, atau bek tan sagai di—hari kemenangan.
Padahal mestinya hari kemenangan untuk orang-orang yang tak pernah meninggalkan puasa atau dan tarawih plus witir selama Ramadhan; orang-orang yang tak berhalangan untuk menjalankan rukun islam ketiga itu.
“Seharusnya ada hari kekalahan bagi orang-orang yang kalah dalam menunaikan puasa atau salat sunat yang hanya ada di bulan puasa: tarawih,” kata Si Him.
“Tapi tak mungkin juga, sebab Tuhan Maha Adil. Ia akan memperlihatkan akibat dari perbuatan hamba-Nya di hari akhirat,” katanya seraya melihat-lihat baju usangnya dalam lemari.
“Kembali ke baju baru,” kata dia lagi, “memiliki baju (pakaian) baru untuk merayakan Idul Fitri maupun Adha sudah menjadi budaya bagi masyarakat, terutama Aceh. Orangtua akan berutang pada oranglain jika tak ada uang membelinya kepada anak-anaknya; rela tiada untuk dirinya.”
Nah, kata Si Him, dalam momen seperti itu, sebagian pedagang pakaian jadi memanfaatkannya mencari laba besar. Makin dekat lebaran makin dinaikkan harganya. Meski ada sebagian toko-toko yang memberi diskon atau memberi label antimahal, namun harganya tetap “mencekik” juga.
Antimahal hanyalah bahasa komunikasi bisnis saja. Tiada pengusaha toko yang gila diri jual murah saat-saat seperti itu. Mereka pasti sudah pikir-pikir dengan matang sebelum menentukan harga pas ke pasaran.
Lalu, usia segala usia kemudian memburu pasar, mendapatkan pakaian baru yang sesuai seleranya, apakah itu baju, celana, peci, sandal, sajadah, jilbab, sarung, dan aksesoris yang berbau hari raya lainnya.
“Semua orang dengan selera masing-masing akan berusaha mendapatkannya hingga takbir malam pertama lebaran dengan uang hasil banting tulang yang ketika setelah membeli pakaian baru bagai arang sudah jadi abu atau nasi sudah jadi bubur; lebih-lebih jika ia kecewa telah memilih pakaian itu tanpa mencobanya terlebih dahulu dan berjanji bisa menukarnya jika tak pas,” kata Si Him, masih melihat-lihat baju lamanya dalam lemari.
“Ketika orang-orang sudah mendapatkan baju baru, maka sudah sah menyambut lebaran, kasihan bagi yang tak sanggup membelinya. Lalu berhari raya, bermaafan, dan..,” Si Him sejenak berhenti mengutak-atik pakaian dalam lemari, “sekarang saya harus mengambil baju lama saya yang akan jarang sekali saya pakai untuk saya sumbang ke panti asuhan. Setelah itu, baru saya beli baju baru. Dan, saya akan bahagia berhari raya meskipun nanti tak ada pakaian baru.”
Begitu mendapati sekitar sepuluhan pasang baju usangnya, ia membungkusnya lalu mengantarkan ke sebuah panti asuhan di Banda Aceh. Dalam perjalanan ia berkata pada kaca spion motornya, “andai semua orang Aceh, terutama yang tak punya adik, mau menyumbang pakaian lamanya yang tak dipakai lagi ke panti asuhan atau anak yatim, tentu anak-anak yang tak mampu beli pakaian baru pasti merasakan memakai yang baru. Ya, setidaknya baru dikenakannya meskipun telah digunakan oranglain. Buka saja poskonya. Andai saja,” kata Si Him.
Pun begitu, “sebagain orang Aceh juga tergolong ‘kreatif’ memanfaatkan pakaian usang, yakni bukan mendaur ulang, tapi menjadikannya sebagai kain lap kendaraan dan tangan serta kaki, sebagai alas bagi tempat tidur binatang piaraan atau ternak, dan sebagainya,” kata Si Him.

Read more…

Lebaran, Kawin

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh 6 September 2011

Dalam setengah dekade terakhir, mungkin juga tahun-tahun sebelumnya, hari raya bukan saja untuk bermaaf-maafan atau dan bersilaturrahmi. Oleh kebanyakan orang Aceh menyelanya dengan menggelar pesta perkawinan, selain bertamasya atau meuramien. Demikian amatan Je.
Dipantaunya hingga ke sekian kali. Terakhir di hari kelima Idul Fitri 1432 H dimana Je memayungi pengantin pria: pamannya! Dan dia senang. Karena “paham” orang Aceh, pria lajang yang memayungi linto baro kemungkinan besar akan menyusul lelaki yang dipayunginya itu, terlepas dari rahasia Tuhan. Karenanya, kemarin Je sangat bahagia dengan berharap demikian.
Namun, ia sedikit jengkel. Pikirlah! Seumur-umurnya baru hari itu ia melihat perempuan yang mencuci piring saat walimah ursy atau preh linto. Mereka paruh baya. Duduk melingkari bak dengan dua bagian dari batang pisang dan dialasi terpal karet. Je tercengang melihatnya, ke mana laki-laki di kampung itu? Biasanya yang mencuci piring para lelaki; gantian muda, dewasa, dan tua. “Emansipasi wanita,” komentar seseorang. “Persamaan gender.”
Ah, tepiskan soal itu. Malamnya, Je bincang-bincang dengan tetua kampung. Kenapa (sebagian) orang Aceh mesti kali menikah atau dan berkawin di hari raya? Dijawablah tetua bergigi dua, pertama sekali, sudah mentradisi: lebaran adalah musim kawin.
Kedua, faktor famili. Hari raya sanak keluarga berkumpul atau reuni, setelah pulang entah dari mana-mana. Juga warga, baik dari kampung dara baro maupun linto baro sudah lebih banyak dari biasanya, sehingga kedua pihak mendapat bala bantuan jika mau membesarkan akad resmi dua sejoli itu.
Selanjutnya, menurut tetua bergigi dua itu, kawin saat lebaran itu mengasikkan, menyenangkan, dan heboh! Lebih-lebih di malam pertama, oh, jangan bilang siapa-siapa nikmatnya. “Haha, lebay chit Ureueng Tuha nyoe,” batin Je.
Lalu, ke depannya, bagaimana? Ya teruskan saja tradisi itu, sambungnya. Toh banyak positifnya juga. Maka asal lebaran tiba, hampir di seluruh penjuru Aceh—mungkin juga di luarnya—akan ada pesta pernikahan dan perkawinan. Asal lebaran, kawin. Begitu juga rencana Je kelak.

Read more…

Paranoid

Oleh: Nazar Shah Alam
Sumber: Harian Aceh, 23 Agustus 2011

Puasa boleh tidak, baju baru harus ada. Tarawih boleh tidak, baju baru harus ada. Demikian Si Him berceloteh begitu tahu bahwa sebagian kecil orang Aceh di bulan Ramadhan seperti itu: yang puasa dan tarawih boleh tidak, tapi baju baru untuk dikenakan saat Idul Fitri harus ada.
Si Him tidak sedang bercanda. Dari tahun ke tahun hingga usianya dua puluhan tahun, telah dirasakannya bahwa ada keanehan dalam diri sebagian kecil masyarakat Aceh. Mereka itu semampu mungkin berbelanja pakaian baru untuk menyambut—barangkali memeriahkan, memamerkan, atau bek tan sagai di—hari kemenangan.
Padahal mestinya hari kemenangan untuk orang-orang yang tak pernah meninggalkan puasa atau dan tarawih plus witir selama Ramadhan; orang-orang yang tak berhalangan untuk menjalankan rukun islam ketiga itu.
“Seharusnya ada hari kekalahan bagi orang-orang yang kalah dalam menunaikan puasa atau salat sunat yang hanya ada di bulan puasa: tarawih,” kata Si Him.
“Tapi tak mungkin juga, sebab Tuhan Maha Adil. Ia akan memperlihatkan akibat dari perbuatan hamba-Nya di hari akhirat,” katanya seraya melihat-lihat baju usangnya dalam lemari.
“Kembali ke baju baru,” kata dia lagi, “memiliki baju (pakaian) baru untuk merayakan Idul Fitri maupun Adha sudah menjadi budaya bagi masyarakat, terutama Aceh. Orangtua akan berutang pada oranglain jika tak ada uang membelinya kepada anak-anaknya; rela tiada untuk dirinya.”
Nah, kata Si Him, dalam momen seperti itu, sebagian pedagang pakaian jadi memanfaatkannya mencari laba besar. Makin dekat lebaran makin dinaikkan harganya. Meski ada sebagian toko-toko yang memberi diskon atau memberi label antimahal, namun harganya tetap “mencekik” juga.
Antimahal hanyalah bahasa komunikasi bisnis saja. Tiada pengusaha toko yang gila diri jual murah saat-saat seperti itu. Mereka pasti sudah pikir-pikir dengan matang sebelum menentukan harga pas ke pasaran.
Lalu, usia segala usia kemudian memburu pasar, mendapatkan pakaian baru yang sesuai seleranya, apakah itu baju, celana, peci, sandal, sajadah, jilbab, sarung, dan aksesoris yang berbau hari raya lainnya.
“Semua orang dengan selera masing-masing akan berusaha mendapatkannya hingga takbir malam pertama lebaran dengan uang hasil banting tulang yang ketika setelah membeli pakaian baru bagai arang sudah jadi abu atau nasi sudah jadi bubur; lebih-lebih jika ia kecewa telah memilih pakaian itu tanpa mencobanya terlebih dahulu dan berjanji bisa menukarnya jika tak pas,” kata Si Him, masih melihat-lihat baju lamanya dalam lemari.
“Ketika orang-orang sudah mendapatkan baju baru, maka sudah sah menyambut lebaran, kasihan bagi yang tak sanggup membelinya. Lalu berhari raya, bermaafan, dan..,” Si Him sejenak berhenti mengutak-atik pakaian dalam lemari, “sekarang saya harus mengambil baju lama saya yang akan jarang sekali saya pakai untuk saya sumbang ke panti asuhan. Setelah itu, baru saya beli baju baru. Dan, saya akan bahagia berhari raya meskipun nanti tak ada pakaian baru.”
Begitu mendapati sekitar sepuluhan pasang baju usangnya, ia membungkusnya lalu mengantarkan ke sebuah panti asuhan di Banda Aceh. Dalam perjalanan ia berkata pada kaca spion motornya, “andai semua orang Aceh, terutama yang tak punya adik, mau menyumbang pakaian lamanya yang tak dipakai lagi ke panti asuhan atau anak yatim, tentu anak-anak yang tak mampu beli pakaian baru pasti merasakan memakai yang baru. Ya, setidaknya baru dikenakannya meskipun telah digunakan oranglain. Buka saja poskonya. Andai saja,” kata Si Him.
Pun begitu, “sebagain orang Aceh juga tergolong ‘kreatif’ memanfaatkan pakaian usang, yakni bukan mendaur ulang, tapi menjadikannya sebagai kain lap kendaraan dan tangan serta kaki, sebagai alas bagi tempat tidur binatang piaraan atau ternak, dan sebagainya,” kata Si Him.

Read more…

Kota Tiri

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, Agustus 2011
Beruntunglah orang-orang yang lahir di ibukota, baik kabupaten, provinsi maupun negara, kecuali ibukota lurah dan kecamatan, jika ada. Kenapa? “Karena jika kemudian tak pindah, ia akan tinggal dan besar bersama ibunya, kecuali lelaki yang menikah ke daerah lain,” kata Je.
Sambung dia, “Tahukah bahwa konon katanya kehidupan di kota lebih berkualitas, lebih modernitas, hedonis, inovatif. Sementara orang kampung, tradisionalitas dan kolektifitasnya tinggi, kecuali kini yang sedikit terkikis.”
“Kamu juga anak kampung, Men,” timpal Ari. “Memang. Tapi sekarang kita di mana? Di Banda bukan? Di ibu kota provinsi, Men. Betapa pahitnya hidup di sini. Lebih pahit dari pil pahit,” sahut Je. Siapa yang minta kita kemari, tanya Ari.
Jeh, bukannya kita sendiri yang ingin kuliah ke ibukota, ingin cari perubahan, baik untuk mendapat ilmu, teman baru, wawasan baru, pekerjaaan baru, bahkan jodoh! Lihatlah selain pembelajar dan pengajar, kebanyakan orang luar daerah tetap merantau ke Banda Aceh untuk mencari uang atau kesenangan hidup.
“Oke, oke, saya terima. Tapi kenapa harus Banda Aceh?” Ya, karena kalau ke luarnya tentu tak sanggup. Misal mau lanjut ke Jakarta, Eropa, Amerika, Asia, dan Afrika, kita tak mampu, kecuali melalui beasiswa. Nah, pandai-pandailah kita mencari peluangnya.
Kecuali anak yang sejak lahir sudah dalam keluarga kaya. Misal anak Banda, ia akan tinggal setidaknya di Jakarta, atau sekolah ke luar negeri. Bilamana nanti terjadi sesuatu pada Aceh, umpama Tsunami 2004, baru pulang sebentar menjenguk kerabat.
Maka itu, penghuni ibukota lebih banyak pendatang. Orang Pidie dan Bireuen, hampir ada di seluruh pelosok Banda Aceh. Setelah mereka baru menyusul kabupaten lain plus satu-dua dari luar Aceh dan Sumatera.
Tak percaya? “Kamu bisa lihat ketika hari raya Idul Fitri. Banda Aceh soh dan sepi. Tak ada orang kecuali pribumi dan orang-orang yang tak ada uang untuk mudik dan tak sempat beli tiket lebih cepat, sehingga ketinggalan. Tentu jika kamu mau bersedih-sedih di hari kemenangan, akan melihat itu,” kata Je pada Ari.
Ari menggangguk. Lalu, “biaya hidup di Banda kan mahal, tapi kenapa orang-orang malah mengincarnya?” Kata Je, karena ibu kota itu punya kehidupan yang berbeda dengan daerah tak terkecuali ibu kota kabupaten.
Di ibu kota provinsi, kualitas hidup lebih bagus. Pelayanan pendidikan dari luarnya terlihat baik. Ia merupakan tempat persinggahan wisatawan. Tempat utama digelarnya even-even lokal, nasional, maupun internasional. Primadonanya orang-orang untuk berkumpul, sehingga harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya tinggi.
Juga jangan heran jika kemudian ibu kota jadi padat sehingga berpolusi dan panas. Dan bagi sebagian orang yang tak tahan dengan kondisi itu, ia akan mengomentari, “ibu kota lebih kejam dari ibu tiri.”
“Tentu kita tak mau selalu demikian. Saya punya solusi,” kata Ari. Apa? “Bagaimana kalau pemerintah kabupaten/kota masing-masing mengurus sendiri segala aspeknya. Misal untuk membangun pendidikan, tak perlu menunggu ketuk palu setuju pemerintah pusat, tapi silakan saja asalkan baik dan berjalan serta tak merugikan. Sebagaimana pemerintah Jakarta yang memberikan hak otonomi kepada Aceh.”
“Takutnya, banyak pemimpin di daerah-daerah yang makin mudah korupsi,” sela Je. “Yap, korupsi memang kendala nomor satu. Tapi kalau misalnya nanti jadi masing-masing kabupaten/kota mengelola sendiri daerahnya, dengan catatan diawasi provinsi dan pusat, maka tak ada istilah ibu kota lebih kejam dari ibu tiri,” imbuh Ari.
“Tapi,” tekan dia, “nantinya bakal ada kota tiri. Ya, setiap kabupaten kan punya ibukota. Jika setiap penduduk setempat mengeluh segala hal tentang kabupatennya, maka ia akan berkata, ‘kota tiri lebih kejam dari ibu kota provinsi’.”
Seraya tersenyum, “Hah? Itu menurutmu saja. Dan itu pun malah membawa keburukan, bukan kebaikan. Solusimu tak cerdas, ya, menurutmu. Berarti tetap seperti biasanya. Hanya saja, setiap pemimpin, baik pusat, provinsi, daerah/kota, kecamatan hingga keuchik, harus menjadi pemimpin yang tahu diri, tahu rakyat, dan tahu cara menyejahterakan rakyat,” kata Je.
“O, han meujan maju nyan! Kakeuh rakyat selalu dibodohi pemimpin,” timpal Ari. “Homhai. Jeh, kasu sirene. Jak tabuka puasa dilee. Karena kita pemimpin terhadap diri kita sendiri, mari kita sejahterakan tubuh dulu,” ajak Je.

Read more…

Puasa Sidom

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 27 Agustus 2011

Ketika sahur, Si Him kecil bangun dengan mengucek-ngucek mata. Ia selalu mengingatkan ibunya sebelum tidur guna banguninya untuk makan sahur. Seperti kata ustadznya, ia harus belajar puasa sejak kelas satu Sekolah Dasar.
Tapi, ketika nantinya sudah memasuki jam 12 siang, Si Him tak sanggup lagi. Ia lapar dan dahaga. Ia pun ke meja makan, menguak tudung nasi, didapatinya sisa nasi dan lauk-pauk sahur tadi. Emaknya tak melarang saat melihatnya sebab menganggap si anak masih dalam tahap belajar.
Setelah itu Si Him keluar rumah. Dan bermain lagi dengan anak-anak seusianya. Lalu ia mengejek-ngejek kawannya yang setelah makan sahur tapi makan nasi lagi ketika dzuhur. Dan menyatakan dirinya masih berpuasa.
Ia mengatai sejawatnya itu, “puasa kah puasa sidom, leueh puasa pajoh bu lom.” Kira-kira bila diindonesiakan: puasa kamu puasa semut, setelah puasa makan lagi.
Nantinya setiba waktu berbuka, Si Him akan duduk beserta keluarganya dan berbuka bersama, kali kedua baginya. Saat itu ia belum paham betul tentang puasa.
Tapi itu hanyalah kisah Si Him kecil. Bila diteliti, itu sepertinya menjadi kisah orang-orang bertubuh besar, berpangkat besar, berkepala besar, dan siapa saja. Bahkan ada orang dewasa yang juga “menjalani” puasa sidom seperti anak-anak, terbukti dengan berita ditangkapnya penjual nasi dan pelanggannya pada siang hari Ramadhan.
Puasa sidom (semut) itu agaknya bisa dikaitkan dengan tabiat manusia dalam hal beribadah selama bulan Ramadhan. Sebelum muncul, sebagian besar orang sangat merindukan kehadiran bulan suci. Begitu ia tiba, orang-orang memanfaatkannya dengan memperbanyak ibadah. Berlomba-lomba membaca Al-Quran, salat tarawih, witir, dan ibadah lainnya. Yang sebelumnya tak pernah pakai peci dan sarung akan mengenakannya selama Ramadhan.
Namun setelah Ramadhan berlalu, semangat beribadah itu seperti hilang, hilang, dan kian menghilang sampai kembali bersemangat ketika Ramadhan berikutnya datang, jika Allah mengizinkan.
Perihal demikian sama halnya dengan puasa sidom yang dialami bocah-bocah Aceh dalam belajar berpuasa. Bagi Si Him dkk, setelah makan sahur makan lagi kala siang, lalu berpuasa lagi dan berbukanya saat waktunya tiba.
Bila dianalogikan pada muslim akil baligh yang “berpaham” puasa sidom, maka setelah berada di tempat tinggi—dalam artian sudah banyak amal kebaikan—selama Ramadhan, kembali menurun begitu ia pergi. Setelah berbuat baik, berbuat buruk lagi, kemudian berbuat baik lagi di Ramadhan akan datang, lalu kembali buruk. Naik-turun.
Begitulah amal muslim: naik-turun. Kecuali Nabi yang amal baiknya naik terus. Usaha kita adalah membuat amal baik tak menurun drastis dan berusaha memperbaikinya. Meunan.

Read more…

Sebelum Lebaran

Oleh: Makmur Dimila
Sumber: Harian Aceh, 6 September 2011

Lebaran tinggal menghitung hari. Dalam merayakannya, ada beberapa hal unik yang dilakukan orang Aceh, terutama untuk Idul Fitri. Mulai dari belanja pakaian baru, pangkas rambut, bikin bolu untuk mertua, persiapan malam tot karbet, tukar uang, merangkai ucapan selamat, dan berjuang menyembuhkan sakit.
Bermula, seperti tak sah berhari raya jika belum pangkas rambut, baik di kepala, dagu, atas bibir, dan di bagian lainnya. Misal Je cs yang memotong rambut dengan berbagai gaya sampai-sampai tukang pangkas harus buka usahanya ketika malam meski demikian tak lazim di Aceh.
Lalu, lebaran seakan tak jadi kalau belum bikin kue lebaran. Mungkin merasa tak enak ketika disambangi tamu. Seperti Po Ramlah dan anaknya: Aya. Selama sepuluh hari terakhir puasa mereka asyik bikin kue kering atau penganan untuk lebaran, semisal seupet, bret, bhoi, aneuk reuteuk, kueh cheurlop, seumprit, peukarah, wajeb, dan dodoi, sampai-sampai lupa untuk salat sunat tarawih berjamaah.
Tapi itu jenis kue kuno, bagi sebagian orang. Kini kuenya sudah “gaul”. Tak banyak lagi bernuansa tradisional. Kalau pun ada, banyak tamu tak suka lagi kue tradisional. Kini, seperti yang Je cs lakukan saat berkunjung ke rumah-rumah saat lebaran, mereka akan mengambil kue semisal bolu black forest, kue nastar, cantik manis, cinamon cookis, batik nescafe, resimbal, cornflaks dan lain dari itu yang namanya kebarat-baratan.
Berikutnya, sangat mentradisi. Seakan-akan tak siap merayakan hari kemenangan bila tanpa pakaian baru sehelai pun. Karenanya, orang dengan segala tingkat kemampuan, setidaknya akan membeli salah satu dari jenis pakaian untuk berhari raya. Dibelinya sesuai kemampuan. Ada orang yang setelah membeli tak berani pakai, dengan berbagai alasan. Ada pula orang-orang yang belinya berlembar-lembar. Kasihan yang tak sanggup belinya satupun.
Agak tumben bagi orang-orang yang bersih-bersih hanya ketika menjelang hari raya saja. Ya, sebagian orang Aceh, beberapa hari sebelum lebaran akan membersihkan rumah. Mulai dari mencabut rerumputan di halaman, menyapu, mengecat, mengelap jendela dan kaca, membuang rambideuen (laba-laba) di loteng, mengepel lantai, dan menata bovet (lemari untuk peralatan rumah tangga). Ditambah mencuci kendaraan.
Kemudian menukar uang. Nah, yang ini, kerap dilakukan Abu Toy Sijoy, Abu Pakeh, Pak Bus, Pak Sule, dan orang-orang berpenghasilan lainnya yang banyak anak-anak, keponakan, tetangga, dan orang-orang yang patut diangpaukan atau disalamtempelkan. Maka jelang lebaran, Bank Indonesia kewalahan melayani masyarakat yang menukar uang.
Di lain pihak, akan merayakan malam hari raya dengan “perang-perangan”. Tak berasa jika menanggalkannya. Misal anak-anak masakini yang beli petasan dan mercon—dulu era 90-an, anak-anak akan bakar lilin, kembang api ketika malam hari raya dengan berkeliling kampung, sementara orang-orang dewasa bertakbir di meunasah.
Yang amat menyita perhatian, adalah “perang-perangan” antar kedua kubu. Seperti di Indrajaya dan Delima Kabupaten Pidie. Hampir saban malam pertama Idul Fitri, dua kampung yang terpisah sungai dari masing-masing kecamatan selalu adu kekuatan. Mereka tot karbet (membakar karbit) dan bude trieng (meriam bambu).
Pada malam itu, ribuan orang dari Pidie bahkan luarnya datang menyaksikan, bak menonton konser, lebih malah, terutama yang di daerah Keubang VS Kong Kong. Konon Je mendengar, dana yang dihabiskan untuk acara itu puluhan juta yang dikumpul dari pemuda rantauan. Tak tertutup peluang jatuh korban. Jika menontonnya, tampak melebihi saat konflik bersenjata di Aceh, seperti Perang Dunia mungkin tepatnya.
Paling positif, tak sedikit yang merayakan hari kemenangan dengan mendekatkan diri kepada Allah. Satu-dua orang pasti ada yang menangis ketika ditinggal Ramadhan. Mereka akan berdzikir dan bertakbir di malam hari raya, baik secara sendiri, berjamaah, maupun mengikuti lomba takbir dengan berkeliling kampung dan mendapat hadiah uang tunai—lebay ya, untuk mendekatkan diri kepada Pencipta terkesan harus diberi uang.
Dan sedih bagi yang sedang sakit. Sangat pahit bagi korban kecelakaan, terutama yang terjadi ketika mudik (pulang kampung). Apalagi bila si korban sudah lama tak berjumpa orangtua. Alhamdulillah jika masih bernyawa, karena pada hari raya akan banyak tamu menjenguknya dan memberikannya uang. Namun “keperawanan” tubuhnya tak lagi sempurna.
Namun di antara semua realita sosial itu, yang paling banyak dilakukan adalah mengucapkan selamat hari raya di malamnya. Segala orang merangkai kata sebaik atau selucu mungkin, meneruskan punya orang lain dengan menggantikan namanya di bawah, mengarang sendiri dengan pantun dan kiasan atau menyuruh pada ahlinya, lalu mengirim ucapan itu melalui pesan pendek atau kartu ucapan. Dikirim kepada siapa saja yang dikenal dan diingat, terutama yang ada “rasa” bagi lawan jenis.
Umpama akan ditulis: bila ada kata terucap salah, tangan silap meraba, gerak kaki salah melangkah, lirikan mata yang menggoda, tersengaja ataupun sebaliknya, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan bathin. Jailani yang belum berkeluarga. Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Read more…

Menatap Indonesia

Karya Shiti Maghfir
Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 4 September 2011

Aku turun bersama mentari pagi itu
jiwanya mengukir senyum
melukiskan merah putih yang diselimuti  jemari
tak ada pongah dalam kesendiriannya
matanya binar menatap rakus
desahannya mengguncang semilir angin
menerjang ragaku yang terdiam, bisu
segala yang indah baginya disebut Nusantara
selalu saja persembahkan kemerdekaan pada titik peluhnya
hingga aku sadar, aku terjebak dalam perbudakan masa dulu
sesudah ia pekikkan Indonesia

Kutaradja, 21 Agustus 2011

Read more…

Senin, 05 September 2011

Rukok Uroe Raya

Oleh Nazar Shah Alam
Sumber: Serambi Indonesia, Senin, 5 September 2011

EUFORIA hari raya menimbulkan banyak kesan dan kebahagian. Untuk merayakan kemeriahannya bahkan ada yang memerlukan waktu seminggu penuh. Di segala sisi, bagi seluruh usia, seluruh kasta, seluruh manusia merasakan hal yang sama; bahagia. Namun, ada beberapa hal yang meresahkan kita dalam kebiasaan menikmati hari kemenangan tersebut. Sebab dalam perayaannya, secara jelas dapat dirasakan bahwa ada semacam budaya yang dibentuk oleh masyarakat yang kemudian malah menimbulkan efek negatif bagi masyarakat itu sendiri, lingkungan, dan keluarganya sendiri.

Pada kenyataannya, hari raya dimaknai secara bebas oleh masyarakat kita; mungkin serupa pesta besar setelah perang. Maka kemudian yang terlihat adalah sebuah perayaan besar-besaran yang terkesan berlebihan. Hari raya dibentuk sebagai suatu waktu berpoya-poya dan telah disusupi oleh budaya yang memberatkan para perayanya. Sebagai bukti awal, sebut saja budaya menyiapkan penganan. Seolah ada kehinaan bagi yang di rumahnya tidak ada sama sekali penganan hari raya, walau semiskin apapun dia.

Budaya lain yang muncul di Aceh terlihat malah sangat merusak. Di beberapa tempat di Aceh, misalnya, ada kebiasaan-yang sudah boleh disebut budaya-orang tua memberikan kebebasan bagi anak-anaknya yang masih di bawah umur untuk merokok, dengan catatan hal itu dilakukan khusus pada hari pertama hingga kedua lebaran. Anak-anak dibolehkan menikmati rukok uroe raya (rokok lebaran) semau mereka. Maka, boleh dikatakan bahwa munculnya para perokok yang berusia di bawah umur saat ini salah satunya adalah berupa indikasi dari budaya ini. Bolehlah dikatakan bahwa budaya rukok uroe raya ini menjadi satu pemicu problem merokok sebenarnya. Dengan konsekuensi bahwa merokok merusak kesehatan dalam pada ini para orang tua malah tidak terlalu memerdulikannya.

Hal lebih mengindahkan budaya dan kebiasaan daripada sesuatu lainnya memang tak bisa dipungkiri terjadinya di masyarakat kita. Kita terlalu peduli pada budaya, walaupun sebenarnya itu tidak mendatangkan manfaat. Budaya rukok uroe raya, contohnya. Kebiasaan ini telah berkembang sekian lama dalam masyarakat sehingga begitu sulit membendungnya. Masyarakat terkesan mengesampingkan efek negatif merokok bagi anak untuk sementara waktu. Dalihnya akan sama, bahwa merokok sekali dua dalam setahun tidak akan berefek besar bagi kesehatan anak mereka. Padahal efeknya tentu tidak serta merta nampak dan dampaknya tidaklah sama antara individu yang berbeda. Selain dari efek kesehatan, merokok pada usia dini berpeluang besar mencetak generasi berkelakuan meresahkan.

Untuk anak-anak, dampak buruknya adalah berupa sikap dan kelakuan. Mereka yang belum mampu bekerja boleh jadi akan mencuri demi mendapatkan rokok. Bahkan orang tua melarang anaknya merokok rata-rata dengan alasan ini. Kontra dengan itu semua malah secara tidak langsung mereka memberikan peluang anak-anaknya untuk mencoba dan berpotensi menjadi perokok. Bukankah ketagihan berasal dari mencoba?

Budaya semacam ini jelas merusak generasi. Di satu sisi orang tua melarang anak-anaknya merokok, sedangkan di sisi lain mereka membiarkan anak-anaknya menikmati rokok dengan dalih menikmati hari raya. Hari raya dimaknai sebagai hari pembebasan. Maka anak-anak diberikan jajan yang banyak untuk bebas berbelanja apa saja dan bebas kemana saja.

Oleh sebab kesalahan didikan ini-dengan mengagungkan budaya yang tidak semestinya mereka ikuti-maka akan semakin terjal saja jalan merealisasikan budaya tidak merokok pada generasi kita selanjutnya. Bila kemudian mereka menjadi perokok aktif, orang tua tentu akan menyalahkan pergaulan, lingkungan, atau perkembangan zaman. Padahal, kebiasaan merokok anak telah mereka berikan dari awal.

Sejalan dengan itu semua, budaya lain yang merusak bisa dilihat dalam sisi permainan. Munculnya kebiasaan bermain bedil-bedilan di hari lebaran juga cukup meresahkan. Sebab, peluru dari senjata mainan itu bisa menyakiti dan mencederai tubuh. Namun hal ini pun seolah begitu sulit sudah dibendung. Seperti halnya fenomena bermain pada hari ketiga lebaran yang dimanfaatkan muda-mudi untuk bermain dengan pasangan. Dari itu jelas sudah, bahwa kita terlalu tunduk pada budaya sehingga terkesan begitu bisa dipijak oleh kebiasaan-kebiasan merusak diri dan lingkungan itu tanpa kita sadari. Lucunya, walaupun kita menyadarinya, ada kesan seolah membiarkan budaya itu berkembang begitu saja tanpa berkehendak mengubahnya. Semua dimulai dari diri. Minal aidin wal faizin!

Read more…