Sabtu, 23 Juni 2012

Metalika

Oleh Rahmat Rohadi
Malam itu gelap, kelam. Sebab listrik padam dan bulan tidak menampakan dirinya. Aku, dan kawan-kawan di teras rumah sedang mendengarkan cerita dari seorang tetangga, cerita semasa ia muda. Namanya Sukiahadi, tapi kerap disebut Pak Kia.
***
Konon dua puluh tahun silam, Pak Kia bekerja sebagai sopir labi-labi. Waktu itu, dia mempunyai seorang penumpang langganan seorang gadis cantik berkulit putih, dan berambut pirang. Namanya Metalika. Metalika yang lebih akrab disapa Meta oleh teman temannya itu adalah seorang mahasiswa di Akademi Kebidanan dalam kotanya.
Meta memiliki wajah ayu, anggun, dan peramah. Hal itu membuat banyak lelaki muda tergila-gila padanya. Hampir setiap pemuda yang mengenalnya ingin menjadikan Meta sebagai pacar mereka. Akan tetapi, Meta selalu tak mau, sebab ia beralasan masih ingin serius kuliah dulu. Namun, bagi Pak Kia, Meta tidaklah lebih seorang perempuan mata keranjang, yang selalu melihat lelaki dari dompetnya.
Suatu hari, Pak Kia merasakan seperti ada yang kekurangan. Gadis ayu, yang biasanya setiap hari duduk di dekatnya dan selalu bergurau dengannya itu, tidak kelihatan lagi. Pak Kia bertanya pada seorang  teman Meta, yang kebetulan juga langganannya. “Adik, hari ini Meta kok gak ikut?” tanya Pak Kia. Singkat saja seraya mencocorkan kata bahwa, “Meta sekarang di penjara.” Lalu, Pak Kia menambah pertanyaan, “Kenapa?” temannya itu senyum senyam, dan berujar, “Biasalah masalah lelaki.”
Air mata mengalir di pipinya, suaranya terisak-isak, dan tersedu-sedan. Meta tak pernah membayangkan akan terjadi seperti ini, jika ia memainkan perasaan lelaki. Sekarang Meta sadar dengan semua kejadian yang telah menimpanya itu. Apa hendak dikata, sudah terlambat untuk Meta. Hukuman telah dijatuhkan, yaitu 6 tahun penjara. Dia berkata pada Pak Kia yang datang menengoknya di tahanan. “Bang, maaf jika ada kesalahanku selama ini, ya!” Pak  Kia tersenyum kecil, dan menganggukkan kepalanya. Lalu Meta melanjutkan kronologis kejadiannya.
Malam itu, malam minggu. Meta sedang bersiap siap ingin pergi malam mingguan dengan Agus pacarnya. Setelah Isya, Meta dijemput oleh Agus. Kemudian mereka terus melaju dengan duduk berbonceng mesra. Tiba tiba, di persimpangan jalan mereka dihadang oleh seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar. Tanpa ada kata, pemuda bernama Roni ini langsung menerjang Agus. Kala itu, terjadilah perkelahian hebat antara Agus dan Roni. Meta menjerit minta tolong dengan tangisnya.
Roni adalah seorang anak saudagar kaya, dan berkuliah di Fakultas Kedokteran. Ternyata, dia juga pacar Meta. Roni marah. Dia emosi melihat Agus berani membonceng pacar yang sangat dicintainya. Malam itu, Meta tak tahu kalau Roni juga bakal menjemputnya. Karena yang Meta ketahui Roni sedang keluar kota untuk berlibur dengan keluarganya.
Roni tergeletak, wajahnya tampak digelumuri darah. Tak sengaja, demi memnyelamatkan diri, Agus memukul kepala Roni dengan sebongkah batu, sehingga Roni terpaksa menghembuskan nafas terakhir, hanya karena seorang perempuan yang telah mempermainkannya.
Meta dan Agus dibawa ke kantor polisi. Sementara Roni, dia dipulangkan ke rumah orang tuanya untuk dilaksanakan fardhu kifayah atasnya. Setelah melaksanakan proses persidangan, Meta mendapatkan jatah hukuman selama 6 tahun penjara, dan Agus selama 15 belas tahun penjara.
Berselang dua hari, setelah Pak Kia menengoknya di tahanan, terdengar kabar bahwa Meta sudah hengkang dari dunia ini. Meta bunuh diri, sebab ia malu pada keluarganya, orang tuanya, teman temannya, dan pada semuanya. Pak Kia merasakan sesuatu yang berbeda, sedih, gundah dan kecewa, acapkali Meta memberi semangat untuknya, dan Pak Kia juga sudah menganggap Meta seperti saudaranya. Tak enak rasa karena berita itu, Pak Kia mendatangi tempat penahanan Meta untuk menanyakan kepastian berita itu. Dia makin sedih, pilu dan balau saat mengetahui bahwa berita itu benar.
***
Listrik pun hidup. Kami yang hanyut dalam cerita Pak Kia, semua kembali tersenyum. Lalu, lelaki yang umurnya hampir mencapai enam puluh tahun itu menambahkan kata kata nasihat untuk kami. Katanya, janganlah karena seorang pacar sampai merusak diri, ingat pacar bukanlah segalanya, dan jodoh kita ada pada Rabbi. Lepas itu, dia pun mengajak ke rencana awal kami, yang tertunda karena mati lampu, yaitu memasak mie dengan kepiting.  
Baet, 30 Mei 2012 

Read more…

Sepatu Raja

Oleh Nazar Shah Alam
Lelaki glamour itu—dari pelbagai ruang informasi—diberitakan sudah menghembuskan nafas terakhir. Musim memang sedang lain betul. Langit membuka pintunya kepada para raja dan punggawanya, pada para pahlawan, dan orang-orang bernama untuk terbang bersama Izrail ke muasal ruh mereka ditiupkan. Ini benar-benar tahun celaka bagi mereka yang berani melawan kaum yang memiliki telunjuk besar, tahun celaka bagi yang bersinar terang benderang sementara yang di sisi mereka sedang kelam.
Pada pagi hari, ketika membuka koran, mataku ditarik tulisan halaman depannya untuk memelototi sepotong gambar. Gambar sebuah sepatu boot hitam tanpa pasangannya dan tergeletak diam di bawah siraman matahari kota Sirte. Bagiku, daripada kabar lainnya, kabar tentang sepatu inilah yang paling menarik. Maka kemudian kucari-cari di beberapa halaman lain di media lain tentang kabar pasangan dari sebelah sepatu itu. Ya, sepatu terakhir yang digunakan sang penguasa. Tak ada pasangannya, hanya satu saja. Ah, mengapa sepatu itu, mengapa tak senjata emasnya, baju bagusnya, salah satu barang antik miliknya, mengapa sepatu itu yang kemudian mengganggu pikiranku bermalam-malam selanjutnya?
Dan aku rupanya tak begitu sanggup menahan nafsu untuk mendapatkan pasangan sepatu itu.  Maka segera kukabari Don H.C, kawanku yang kabarnya sedang berada di sana untuk meliput berita. Sialan, dia tak mengangkat telponku. Juan Rocha adalah sumber yang kurasa bisa menggantikan Don H.C menyampaikan kabar tentang sepatu itu. Ah, sama saja, nomornya tak bisa dihubungi.
Kuhubungi Shatal dan Maksalmina. Pada petangnya, di sebuah pojok warung kopi kota aku mengajak mereka ke Sirte, atau ke tempat dimana sepatu sang raja diletakkan. Kalau bisa yang sebelah kanan. Sebab di koran dan sumber lain hanya terpampang yang sebelah kiri saja. Kami akan ke sana untuk melihat, memungut jika tergeletak lepas, mencuri jika saja sepatu sebelah kanannya telah diamankan di satu tempat tertentu.
Dan ini adalah malam manakala besok paginya kami akan berangkat ke sana. Perjalanan ini tentu akan membutuhkan transit berkali-kali. Kami sudah siap dengan segala keadaan. Ke Sirte bukanlah yang pertama untuk Shatal, ia pernah ke sana bersama beberapa kawannya untuk berjihad. Namun ia kemudian pulang dengan alasan yang tak jelas. Maka kami terbantu dengan adanya dia sebagai penunjuk arah.
Kami duduk di depan rumahku, tepatnya di bawah sebatang pohon kersen rindang. Cahaya purnama tak sempurna berpendar di sisi-sisi rimbun daun dan jatuh ke tanah dengan lemah dan santun. Di sana gugusan asap rokok terlihat hitam diselimuti malam dan baru terlihat bergerak-gerak lalu pupus ketika sudah dibawa angin pelan ke bawah sinar bulan. Sirte duduk dalam gelas kopi kami yang pekat dan menanti regukan kami.  Aku menyukainya.
Kelak, bila sudah di tanah sang raja bercucur darah lahir dan darah kematiannya, kukabarkan bahwa perjalanan kami bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Satu rezim memang sudah hancur berkeping-keping seperti rumah-rumah batu penduduk Libya yang kokoh dihantam bom hingga tinggal puing. Namun keadaan tentu tak serta merta pulang selaik sedia kala. Ada ketakutan tersisa, seperti di kampung kita kala baru saja perang dinyatakan berhenti geliatnya.
Aku melihat rakyat sedang lupa diri merayakan kematian sang raja yang selama ini mereka takuti. Mereka sedang lupa bahwa ancaman lain menguntit di belakang dengan niat lebih kejam. Namun aku tak ambil peduli pada pesta pejuang Misrata atas kemenangan mereka. Bagiku, yang lebih penting dari pesta mereka adalah sepatu sebelah kanan yang dikenakan sang raja kala hendak menemui ajalnya.
Di depan sebuah gedung di Tripoli, aku, Shatal, dan Maksalmina berdiri santai sembari sesekali mencuri lirik ke dalam. Ada sepatu sebelah kiri sang raja di sana. Hanya satu, kiri, diam, dan dibenci. Aku sedang dilanda hasrat mendapatkan pasangannya. Namun itu, aku tetap memberi isyarat pada Shatal agar masuk ke dalam gedung itu.
Lelaki kurus tersebut berhasil menaklukkan para pejuang yang berjaga di luar. Kami masuk dan aku langsung menuju sepatu kiri itu. Tak ada pasangannya. Aku mengherankannya. Kemana yang satunya? Aku menaksir telah ada yang menyembunyikannya untuk kelak mereka akan memamerkan atau menjualnya dengan harga mahal. Seorang Libya menghampiriku dan bertanya, apa yang kulihat. Dengan bermodal bahasa Inggris yang kacau aku menjawab bahwa aku sedang mencari sepatu kanan sang tiran. Dia tersenyum, cantik sekali, lalu berkata bahwa yang satunya telah dimakan anjing. Aku balas tersenyum dengan menyembunyikan rasa kesalku pada jawaban gadis itu.
Kami kembali ke Sirte, ke tempat sang raja ditangkap. Tak ada juga sepatu itu di sana. Kami bergerak lagi ke Tripoli, sama saja, tak ada. Berhari-hari di sana, dimana sepatu kanan sang raja tak jua kami tahu adanya. Dan kami putuskan untuk pulang. Ya pulang. Duduk di bawah batang kersen rindang pada malam berpurnama tak sempurna. Sirte tidur dalam gelas kopi kami yang pekat airnya dibalut rindang kersen, hitam malam, dan seduhan kopi yang masih hangat. Besok kami akan mencari sepatu lain di toko-toko di kota yang serupa dengan sepatu tuan raja.

Read more…

Jumat, 22 Juni 2012

Fitnah

Oleh Iqbal Gubey
 

Samin kelihatannya tak begitu bersemangat belajar hari ini. Dari tadi ia duduk termenung sendirian tepatnya di pojok kelas. Sepertinya ia sedang digauli masalah. Hadirnya hari ini sungguh tak sempurna, hanya jasad yang tampak tetapi ruh masih tinggal di pulau antah berantah. Semestinya ia lebih bergairah, musabab janji sudah duluan diikatkan dengan dosennya untuk memaparkan hasil penelitian. Tapi apa hendak dikata, ini memang sudah pada garisnya.
Selepas perkuliahan, Samin pulang lebih cepat. Sesampai di rumah ia masih terbayang dengan fitnah itu. Bagaimana kalau kujumpai saja Khatijah dan menjelaskan yang sebenarnya? Pikirnya. Sekalian meminta kepadanya agar bisa berjumpa dengan orang yang memelintirkan dan menyebarluaskan berita yang tidak benar itu, sehingga bisa diluruskan sama-sama. Tak bisa dibiarkan saja, karena Khatijah adalah satu-satu kolegaku.
Seingat Samin, ia  hanya mendoakan Khatijah agar mendapatkan juara satu saat mengikuti lomba busana muslim. Mengapa hal yang sebaliknya tersiar ke Khatijah dan  beberapa orang lain, sehingga terjadi konflik antara mereka berdua. Apa memang bahasa yang digunakannya terlalu intelek atau ada unsur kesengajaan mengadudombakan agar pertemanan yang telah lama dirajut itu hancur. Inilah sebagian manusia tak lagi mengejawantahkan sikap kedewasanya dalam melakukan/menyikapi sesuatu. Tidak memikirkan efek yang timbul selanjutnya.
Hari demi hari terlewati, rasa itu semakin membengkak. Perasaan kelasah-kelusuh membalut seluruh jiwa Samin. Khatijah tak lagi menghadiahkan senyum pada Samin saat berpaspasan. Pikir Samin, masalah semakin parah. Aku harus duduk empat mata denganya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ini hanya sebuah fitnah belaka. Doa yang dikirimkan supaya memenangi lomba busana muslim. Eh, malah dibilang, mendoakan Khatijah agar  terpeleset saat jalan di panggung peragaan busana muslim dan otomatis akan kalah. Sungguh sangat jauh melenceng dari argumen sebenarnya. Ingin sekali ku kenal pendekar silat lidah itu.
Di pelataran kampus, mereka berjumpa secara tidak sengaja. Samin lagaknya aktor film india memberhentikan Khatijah secara tiba-tiba dan menanyakan tentang fitnah itu. Dengan santai dan tak mau ambil pusing Khatijah hanya menjawab, “Ya sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi.” Sekejap Khatijah hilang di hadapannya dan berjalan tergesa-gesa ke parkiran. “Mungkin inilah yang dikatakan fitnah lebih kejam dari pembunuhan,” mulut Samin mengeja kalimat itu.
Sebenarnya dalam pembicaraan ini akan sangat besar kemungkinan terjadi fitnah. Memang tidak sama seutuhnya seperti direkam jika disampaikan kembali oleh orang yang berbeda. Maka bila informasi yang didengar/terdengar kurang jelas tergambar diingatan, jangan sesekali  menyampaikannya kepada orang lain.
Haruslah waspada dan hati-hati terhadap fitnah serta adu domba, juga terhadap orang yang suka memfitnah dan mengadudombakan orang lain. Karena mereka tergolong kepada orang-orang yang munafik, kufur ni’mat dan berpotensi menjadi pengkhianat. Yakinlah orang yang suka memfitnah dan mengadudombakan orang lain akan mendapatkan siksa/azap yang sangat pedih, baik di dunia maupun di akhirat.

Read more…

Beleun Puasa

Oleh Iqbal Gubey
 
Bulan ramadhan atau sering disebut dengan beleun puasa (bulan puasa) hampir tiba. Masyarakat islam, khususnya Aceh sedang mengemas diri untuk menyambut datangnya bulan penuh magfirah. Semua orang mempercepat perkerjaannya supaya saat bulan puasa tiba bisa beristirahat dan ibadat. Lihat saja Samin, memilih pulang kampung untuk dapat menikmati berbuka dan sahur serta terawih bersama keluarga. Ia rela meninggalkan usaha obat kampungnya di perantauan.
Sebagian orang, menjelang bulan puasa banyak pekerjaan sudah ia selesaikan. Seperti Chik Maun yang sudah sebulan lalu menyelesaikan sawah garapannya. Nek Minah  juga telah menumbuk tepung ketan untuk membuat timphan, timphan balon, boh meucot/boh rom-rom, kueh sumprit, haluwa dan lain-lain. Makanan itu lebih mendominasi di meja makan pada saat bulan puasa.
Lain dengan Samin, Chik Maun, dan Nek Minah. Apa Kasem sudah lebih gesit dari pada mereka. Beliau telah menyangkul kebun untuk menanam mentimun tiga bulan yang lalu. Berbuka puasa belum lengkap jika tidak ada mentimun dan nilai jualnya pun naik drastis. Kegigihan Apa Kasem itu juga ditiru oleh para pegawai kantoran untuk menyelasaikan tugasnya sebelum bulan puasa. Mereka bisa bersantai bekerja saat bulan suci ramadhan.
Dek Manyak mempunyai cara sendiri menjelang bulan puasa. Dia justru berdatangan kekampung-kampung/lampoh-lampoh untuk memantua kelapa muda. Hampir seribu kelapa muda dibeli dari pemilik untuk dibawa kepada penjual kelapa muda di pinggiran jalan. Ia memanfaatkan momen ini untuk menjadi agen kelapa muda.
Bagi pedagang seperti Dolah, menjadi kualahan dalam menjaga keseimbangan harga barang. Memang sudah menjadi tradisi di negeri ini, jika bulan puasa menjelang harga barang naik. Padahal itu membawa mudarat bagi semua orang. Seperti Kak Aisyah yang selalu berjualan kue basah untuk puasa dan kue kering untuk lebaran. Ia terpaksa menaikkan harga, salah satu sebabnya karena telur yang dulunya ia beli dengan harga standar tetapi sekarang naik 50 persen. Dalam menyikapi hal ini Samin berperasangka sendiri. Apakah harga barang tidak mendapatkan rahmat saat menjelang bulan puasa? Mengapa selalu naik, Samin dilanda kebingungan.

Read more…

Hadih Maja dalam Kehidupan Orang Aceh

Oleh Iqbal Gubey
Membahas sisi budaya Aceh, tentunya tak pernah lekang dengan nilai islami. Tanah yang dikenal dengan serambi mekah memiliki beberapa kekayaan. Baik itu dalam bentuk tulisan, lisan, dan benda. Salah satunya puisi lisan—hadih maja—telah membangun tataruang untuk menggambarkan keacehan masyarakat Aceh. Diungkapkan dalam kalimat yang pendek, hadih maja itu disarikan dari pengalaman yang panjang; disajikan dalam bahasa yang indah; bersajak agar mudah diingat dan senang diucapkan. Perkembangannya pun telah melahirkan asas acuan sumber nilai bagi masyarakat Aceh yaitu aqidah, ibadah, dan amaliah.
Aceh kaya akan suku dan adat. Namun tak ada pengaruh yang signifikan pada percampuran budaya karena dalam hadih maja dapat menyatukan sekaligus memahami pikiran dan watak orang Aceh. Dalam hadih maja mendeskripsikan seluruh lini kehidupan, mulai dari filosofi, etis dan estetis.
Beberapa orang berstigma bahwa orang Aceh suka perang dan membuat kekacauan, sebenarnya tidak seperti itu. Misalnya dalam ungkapan hadih maja (Surôt lhèe langkah/ meureundah diri/ Mangat geuturi nyang bijaksana). Dalam  hadih maja ini terlihat bahwa  orang Aceh itu lebih memilih mengalah dari pada maju untuk kehancuran. Selalu saja ada pesan moral yang disampaikan setiap hadih maja. Bilamana sedang pada kondisi terpojok dan genting, alangkah bijaksana untuk mundur tiga langkah demi kepentingan nusa, bangsa, dan harga diri. Ungkapan ini tidaklah menggurui tetapi guna menjaga kearifan sesama.
Orang Aceh menjadikan hadih maja itu sebagai pedoman hidup, karena mengandung amanat, petuah, dan pelajaran-pelajaran kehidupan. Dengan begitu akan bermanfaat juga untuk orang luar Aceh. Hasjmy (1995:539) mengatakan hadih maja merupakan kata atau kalimat berhikmat, sedangkan menurut Ali (1994:199) nasihat atau petuah nenek moyang yang mengandung nilai-nilai moral dan pendidikan keagamaan.
Sejarah telah mencatat adanya hadih maja, selain sudah berakar juga menjadi penyokong beberapa budaya. Banyak budaya dulu telah terlupakan oleh anak-anak cucu Aceh, padahal dari zaman kerajaan Aceh dikenal negeri yang berperadaban tinggi sampai ke Eropa sekaligus memiliki pelaku dan objek budaya yang melimpah. Hadih maja dapat memperlihatkan kembali budaya-budaya terutama dari dimensi tradisi (adat dan resam), filsafat hidup, dan berbagai hasil kebudayaan lain.
(Adat bak Poteu Meureuhôm/ hukôm bak Syiah kuala/ kanun bak Putroe Phang/ reusam bak Laksamana). Terlihat seperti apa yang dilukiskan hadih maja ini, bahwa setiap sesuatu urusan itu ada pemangkunya masing-masing. Tidak mungkin dikelola oleh satu orang, tetapi dengan cara membagikan tugas dan akan memperoleh hasil yang maksimal pula. Juga dalam memegang jabatan eksekutif tertinggi dipilih sosok yang layak untuk menjabat. Maka orang-orang yang cerdas, wibawa, dan jujur yang harus dipilih. Berbagai macam problema-problema kehidupan hadih maja menjadi tutunannya.
Setiap masyarakat ada kata-kata atau ungkapan-ungkapan kiasan. Aceh memiliki hadih maja yang berupa kata-kata perumpamaan yang digunakan untuk mengiaskan maksud tertentu. Ungkapan ini berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku. Menurut Ali dkk(2009: 1) hadih maja menduduki tingkat kebenaran nomor tiga dalam masyarakat Aceh. Tingkat kebenaran pertama adalah wahyu Allah Swt. Kedua, hadis Rasulullah Saw. Dan ketiga, hadih maja atau peutitih peteteh.
Di zaman modern sekarang, ungkapan-ungkapan seperti hadih maja telah pudar dalam kehidupan masyarakat. Masa telah ‘paceklik’ ilmu agama dan bergesernya nilai sosial dalam kehidupan masyarakat kita, sehingga hadih maja terbelakangi dalam percakapan sehari-hari. Sudah semakin sedikit orang memberi perhatian pada nilai-nilai agama. Semua orang sibuk memikirkan keuntungan yang membawa keuntungan pada dirinya. Dan sejarah-sejarah yang sebenarnya sangat bermanfaat telah ditingalkan begitu saja.
Sekarang ini hadih maja begitu jarang dipakai dalam keseharian. Malah lahir hadih maja pelesetan untuk kepentingan pribadi. Pelesetan ini menjadi pembelaan sebelah pihak saja. (Kon salah Ma/ Kon salah Ku/ salah guru di rumôh sikula) di sini seolah-olah digambarkan bahwa sosok guru tak lagi menjadi pendidik yang sebenarnya; dapat mengembangkan pola pikir anak sehingga dapat bersikap dewasa. Dalam konteks yang sebenarnya, orang tua si anak telah lepas tangan dalam proses pembentukan sikap-sikap kedewasaan anaknya.
Masyarakat dulu mengunakan hadih maja pada kaum terbuka dan banyak. Dalam musyarawah besar misalnya, karena pesan atau hikmat yang tersampaikan akan lebih merata dan merasa. Jika dalam percakapan empat mata atau dua belah pihak saja, pantunlah alatnya. Layaknya berbalas pantun karena puisi lisan ini memuat makna atau pesan lebih spesifik. Dalam dunia pendidikan seperti sekarang ini, khususnya di Aceh. Hadih maja seperti (Poma ngen ayah/ keu lhee ngen guree ureung nyan ban lhee wajeb tapeumulia) sangat tepat digunakan untuk menyampaikan pengarahan atau petuah kepada anak-anak didik supaya menghormati pendidik juga orang tuanya. Maka dengan mempelajari dan mengejawantahkan hadih maja dalam kehidupan sehari-hari kita telah mengembalikan marwah bangsa Aceh; telah berusaha mempertahankan kekayaan Aceh; dan memberikan pengarahan-pengarahan dengan stanza yang enak didengar dan dibaca. Semoga tulisan singkat ini tidak terlalu menggurui, dan bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Read more…

Termasuk

Oleh Nazar Shah Alam
Sekian lama tak terdengar kabar, Pengko sang rupawan tak alang kepalang kembali menggemparkan Universitas Shah Alam. Berbulan-bulan lamanya ia sibuk dengan study tour ke Spanyol, Jerman, dan Belanda. Sudah bukan rahasia lagi, Pengko adalah mahasiswa terpandai di Universitas Boh Hatee Awak Nanggroe ini. Sungguh senang hati mamanya ketika menjemput anak lelakinya itu ke bandara Sultan Akmal van Roem. Mamanya langsung memeluk pemuda tampan itu. Selain mamanya, di bandara juga sudah berdiri banyak sekali perempuan yang notabenenya adalah mahasiswa yang tergabung dalam kelompok pengagum Pengko. Mereka menamakan dirinya Pengko Coll Fans.
Di antara yang datang, nampak pula Shakir, kawan akrab Pengko. Dia membawakan kalung bunga. Uniknya, semua bunga berwarna Jingga. Masih tak hilang kekagumannya kepada Jingga, perempuan kampung yang cantiknya biasa saja, sebenarnya. Pecinta sejati itu langsung menghambur ke arah kawan akrabnya yang baru saja lepas dari kerumunan perempuan penggemarnya.
“Terimalah ini,” ucap Shakir dengan raut haru. Pengko hanya tersenyum. Berseri betul wajahnya. Lelaki itu memang tidak pernah meninggalkan ibadahnya. Seperti juga hari ini, dia berpuasa sunat. Maka ketika para perempuan itu mencoba memeluknya, ia menolak dengan halus. Bertambah-tambah kekaguman para penggemarnya itu.
Universitas Shah Alam gempar ketika lelaki tertampan milik mereka turun dari mobil mewahnya di depan biro rektor. Pengko menunduk saja, tanda ia tidak sombong masih terus bertahan. Dia tidak ingin berlebihan sikap. Memang layak dicontoh kearifan laku pemuda satu ini. Beberapa saat di biro, ia keluar. Dari gedung itu ia berkunjung sekejap ke kosan Shakir yang sederhana. Di sana Pengko menangis melihat kondisi kawannya. Terenyuh hatinya melihat kondisi kawannya yang hingga kini masih hidup serba kekurangan.
Di kamar itu mereka duduk sekian lama. Pengko dengan takzim mendengar cerita Shakir selepas kepergiannya ke luar negeri. Ternyata, kawannya itu sangat sengsara di sana. Pengko yakin sekali bahwa kawannya itu selalu berkata jujur. Shakir sepeninggal Pengko adalah Shakir yang sunyi. Shakir yang hampir mati.
Tersebutlah kisah pada suatu waktu, walaupun mustahil rasanya, seorang perempuan mengagumi Shakir. Perempuan itu berasal dari kampung Manteu. Perempuan itu lumayan cantik. Hanya saja dalam beberapa pendekatan, Shakir benar-benar tidak bisa menerima kedatangan perempuan itu. Bukan sebab apa, hanya itu semua karena bayang Jingga begitu kuat berada di hatinya.
Mereka pisah bahkan sebelum bersatu. Rupanya perempuan itu dendam. Maka konon katanya, Shakir dikirimi semacam celaka. Ia dikirimi setan yang aneh. Setan yang kalau telah berada dalam tubuh orang akan menjadikan orang itu kehilangan akal sadarnya.
“Aku termasuk, Pengko. Termasuk itu sakit sekali,” ujar Shakir dengan mata sembab. Pengko mengernyitkan dahinya. Dia sama sekali tidak paham pada maksud kata “termasuk” yang dimaksud Shakir. Namun itu, ia mendapat informasi lain berupa kejadian yang pernah berlaku di kampung selatan negeri ini.
Nun di Manteu, salah satu penyakit yang memang tidak pernah hilang adalah penyakit “termasuk” itu. Penyebabnya bisa apa saja. Bisa disebabkan sebab disapa oleh arwah liar, dikirimi dukun, atau boleh juga sebab bawaan diri. Penyakit ini kebanyakan tidak terlalu berbahaya. Seorang yang terkena penyakit “termasuk” tidak sadar akan dirinya sendiri. Namun setelah jin-jin itu lepas, ia akan merasa kesakitan. Bila sudah “termasuk” orang itu terlihat seperti berpenyakit sawan. Ia akan meronta-ronta dan berteriak-teriak tidak jelas.
Pengko membayangkan kejadian itu ketika melanda Shakir. Sungguh celaka. Tentulah ia akan meronta-ronta, makan apa saja, seperti yang telah dilihatnya saat Shakir dilanda cinta yang hebat untuk Jingga tempo waktu. Sungguh liar Shakir kala itu. Dia meronta-ronta. Memakan gelas dan meja. Dan kali ini, menurut pengakuannya, kejadiannya tak jauh dari itu. Shakir memakan panci, kompor, dan kasur. Wajarlah bila kamar ini begitu berantakan.
“Aku “termasuk” jin paling berbahaya di se-antero jagad raya, Pengko. Kalau tidak salah, nenek moyang iblis. Ngeri, Pengko. Ngeri!” jelas Shakir dengan mata berkaca-kaca. Dia menyesali sikapnya yang menolak cinta yang pasti dan berharap tali kasih yang tiada berjawab dari Jingga. Benarlah ia seorang yang benar-benar menghargai cinta.
Tiba-tiba, saat sedang bercerita Shakir dilanda kejang-kejang. Ia tersenyum. Ah, masih dipakainya kawat gigi jingga itu. Dia melepaskan baju. Ah, baju dalamnya warna jingga. Dia berlari ke lemari. Ah, di sana semua baju warnanya jingga. Shakir terpelanting ke belakang. Meronta-ronta. Berteriak-teriak. Sekejap ia sadar dan duduk.
“Beginilah kalau aku sudah “termasuk”, Pengko!” ucap Shakir dalam nafas terengah-engah. Lelaki pecinta sejati itu terbaring lagi di kasur berseprai jingga dan kepalanya jatuh di bantal jingga. Barulah Pengko sadar, bahwa “termasuk” yang dimaksud Shakir adalah kerasukan. Ah, bukankah Shakir tidak begitu fasih berbahasa Indonesia?
Teumamong itu bahasa Indonesianya “kerasukan”, Shakir. Bukan termasuk! Alah apa hai![]

Read more…

Nama

Oleh Iqbal Gubey
Sama saja sebenarnya. Ketika seseorang merasakan itu penting dan layak untuk di abadikan. Maka setiap orang, punya cara tersendiri untuk mengabadikan hal yang semacam itu. Zainab misalnya begitu terkesan ketika kepulang Nazar—kekasihnya—dari perantauan setelah 5 tahun yang lalu ia pergi. Mengabadikan moment-moment itu dengan cara menamai malam: malam seribu rindu untuk Nazar. Begitu terkesan di benak Zainab melewati malam dengan kekasihnya di bawah seribu bintang dengan rambulan yang senyum ceria di antara awan gemawan. Sampai tengah malam ia belum pun tidur. Masih saja merenung-renung kejadian-kejadian yang dilewati bersama Nazar. Terkesan betul bagi Zainab pertemuan itu.
Lain lagi dengan Samin. Ia menamai motor bututnya, si Lincah. Mengapa tidak. Hujan, badai, dan topan pun, tetap saja lincah menggeber di jalan untuk ke kampus. Tak pernah kesal Samin dibuatnya. Paling karena lupa mengisi bensin saja. Jadi Samin dengan terpaksa mendorongnya ke pom bensin. Singkat cerita karena Samin merasa motornya itu begitu lincah dan garang makanya dinamai si Lincah.
Di kampung Samin lain lagi kisahnya. Kak Nah yang sudah bertahun-tahun berhajat untuk bisa mendapatkan seorang anak nan bisa melanjutkan keturunannya. Berbagai usaha telah ditempuhnya. Karena telah bosan ke rumah sakit, ia mencoba mencari solusi ke dukun kampung. Bermacam ramuan kampung diracik dan diminum dengan teratur. Tapi sayang seribu sayang. Usahnya tak membuahkan hasil yang maksimal. Sampai pada suatu ketika kala kepulangan orang dari tanah suci. Dan ia bertamu sembari mengucapkan selamat karena telah sampai pulang ke tanah air. Kak Nah dihidangi air zam-zam. Saat itu pula ia berdoa agar dikaruniai seorang anak. Nah singkat cerita, setahun kemudian lahirlah bocah kecil yang dinamai: Agam Phon Na. Mengapa tidak, anak pertamanya yang telah bertahun-tahun dinantikan sosok lelaki. Dan sangat sesuai dengan namanya.
Unik memang, ketika satu dan dua hal yang terkesan langsung diabadikan dalam nama. Pemilihan Nama menjadi pilar penting dalam kehidupan orang Aceh. Di belakang nama tersimpan sejarah besar. Juga Muntazar yang oleh kawan-kawannya dipanggil Nomor. Saban waktu ia bersama nomor togel. Ia juga melayani orang-orang yang ingin menafsirkan mimpi ke dalam angka/nomor togel. Dengan mimpi bisa menghasilkan angka yang jitu, katanya. Sebab itulah ia disematkan nama panggilan Nomor.
Begitulah, apapun namanya tak boleh dianggap sepele. Tak baik direndahkan. Karena sesuatu yang mengandung dibalik itu semua begitu terkesan bagi empunya nama. Nama akan selalu mengingatkan pada kejadian atau peristiwa yang terlewat itu. Selalu saja dikenang. Tetap saja terkesan karena telah dilekatkan pada batin manusia dengan cara menamai. Bisa jadi nama itu terus saja disebut-sebut walau orangnya telah tiada. Tentunya dengan kebajikannya. Pun nama tak berpengaruh pada baik atau tidaknya seseorang. Jika ia beniat baik maka tetap saja baik.

Read more…

Kamis, 21 Juni 2012

Partai Lebay

Oleh Makmur Dimila
“Afika,” kata Je pada Ari, meniru iklan bocah imut di tivi swasta. “Iyaaa,” sahut Ari. “Ada yang baru nih,” lanjut Je. “Apaaa?” tanya Ari. “PNA,” sebut Je. “Apa tu? Ga pernah degar deh,” timpal Ari, gayanya tak lagi seperti di iklan ‘Afika’.
Kalah dalam pemilihan kabinet Aceh-1, Irwandi Yusuf dan beberapa eks Gerakan Aceh Merdeka mendirikan partai lokal. Tapi namanya terkesan tidak lokal, yaitu Partai Nasional Aceh atau PNA.
Oleh pembaca sebuah suratkabar harian lokal, melaluis sms pembaca, mempeleseti filosofi lambang partai tersebut. Pada lambang diminta mnambahkan ikan dan kecap, melengkapi padi di kiri dan kanan serta bintang besar dan kecil.
Ikan dan kecap maksudnya, jika warga Aceh lapar, maka tak perlu susah-susah. Ambilkan saja bendera PNA, jadikan sebagai lauk, maka rakyat sejahtera. Kedengarannya “menghina”, tapi tampaknya ada betulnya juga jika melihat apa manfaat berdirinya partai tersebut. Patut dijamin, PNA takkan membantu kurangi angka kemiskinan di Aceh, melainkan memanaskan suhu politik.
“Kecuali itu,” kata Je pada kawannya, “PNA memang berlebihan dalam memberikan nama. Hal ini disampaikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Mereka bilang, penggunaan kata ‘nasional’ pada nama sebuah parlok di Aceh seolah-olah Aceh telah pisah dari NKRI.”
“Barangkali Irwandi cs meniru National Geografic, eh, Nasional Demokrat alias NasDem,” sela Ari, “merakyat gitu, he-he.” Ari sebut-sebut National Geografic mentang-mentang sudah berlangganan majalah itu. Iya, PNA sepertinya coba meniru jejak NasDem yang merangkul masyarakat kelas bawah.
Ada satu lagi partai lokal tumbuh paska pemilihan gubernur. Pada 1 Mei, Partai SIRA jilid II mendaftar ke Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Aceh. Saat dipimpin mantan wakil gubernur Muhammad Nazar di era referendum Aceh, partai itu kependekan dari Suara Independen Rakyat Aceh. Tapi yang ini, lain.. S I R A, Setia, Istiqomah, Reformis, dan Amanah. Meskipun mereka menyebutnya moto, namun itu tetap kepanjangan SIRA. Ha-ha. Ada-ada saja.[]

Read more…

Mazhab dan Cinta Yang Terlambat

May Yusra Soelaiman

Judul              : CINTA YANG TERLAMBAT (Terj. Hijab Wali)           
Penulis           : Dr. Ikram Abidi
Penerbit        : Pustaka Hidayah
Tebal             : 522 halaman

Cinta kadang memang terlalu menakjubkan sekaligus membingungkan. Tanpa logika dan tanpa alasan, ia mampir begitu saja. Hal itulah yang dialami oleh Aaariz dan Komal, sepasang anak manusia yang bertemu pada satu pesta pernikahan lantas tanpa disadari, mereka telah saling jatuh cinta pada kali pertama bertatapan. Komal dengan segala kerupawanannya telah mampu meminang hati Aariz, begitupun sebaliknya, Komal seolah menemukan lelaki yang dicari-carinya pada Aariz. Cinta mereka bertemu pada satu tujuan, pernikahan.

Namun, satu hal yang mereka anggap sepele menjadi batu besar penghalang, mereka tak mendapat izin dari orang tua karena perbedaan mazhab. Aariz dari Sunni dan Komal dari mazhab Syi’ah. Mereka beranggapan dengan pemikiran orang tua mereka yang sudah moderat tak akan mempertimbangkan hal tersebut. Cinta mereka tersandung. Aariz lantas dijodohkan dengan perempuan lain, Zeest. Seorang gadis desa anak dari paman jauh sebelah pihak ibu Aariz. Disinilah cerita dimulai.

Zeest yang berduka sepeninggal ayahnya lantas dijodohkan dengan Aariz semakin terluka dengan sikap Aariz padanya, dengan semua penolakan-penolakan yang ditujukan padanya. Zeest hanya dianggap sebagai gadis kampung, tak mengerti tentang mode ini-itu karena ia selalu menggunakan hijab, menutup diri. Aariz semakin membencinya karena menganggap Zeest sebagai penghalang pernikahannya dengan Komal. Cinta memang tak mudah untuk dipahami. Meskipun Aariz berlaku demikian kasar, Zeest masih dengan sangat setia melayaninya sebagai suami, memuliakannya selayaknya hingga satu peristiwa membuat Zeest harus oergi menjauh dari Aariz.

Novel ini mengambil cerita bersetting timur tengah dan negara Pakistan menjadi pilihan penulis. Saya tertarik dengan perbedaan mazhab itu. Awalnya, saya tidak tahu kalau di Pakistan atau daerah Timur Tengah sana menikah dengan seorang dari mazhab yang berbeda akan menimbulkan pertentangan dari keluarga karena menurut saya, menikah dengan siapa saja yang menurut kita cocok, seagama, dan baik agamanya, ya menikah saja. Tak masalah. Ternyata Sunni dan Syi’ah sangat kentara perbedaannya. Bagaimana kemudian penjelasan tokoh Sameer-Produk dari pernikahan antar mazhab, yang merasa kebingungan dengan posisinya serta kedua orang saudara perempuannya yang belum juga menikah karena keluarga calon suami mereka mengetahui bahwa mereka adalah anak dari pernikahan beda mazhab tersebut. Apalagi hal yang sangat mungkin terjadi adalah dikucilkan dari keluarga sebelah Ayah dan Ibunya. Hidup mereka semakin terisolasi.

Awalnya, Saya menemukan buku ini di rak buku Perpustakaan Wilayah Banda Aceh yang berjejer, melihat covernya dan saya tertarik dengan kata-kata pembuka, Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Doaku sedikit berbeda; Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi. Ini adalah doa Zeest pada Tuhan. Judulnya memang cocok; Cinta Yang Terlambat. Namun setelah membaca keseluruhannya, saya kok merasa novel ini juga sebagian besar membahas tentang hijab. Hijab perempuan, hijab dalam islam. Jadi kembali saya membuka lembar pertama, dan menemukannya judul aslinya Hijab Wali. Tak menyangkal, ini juga cocok saya rasa.

Cerita awalnya menurut saya biasa saja tentang sepasang remaja yang jatuh cinta, lantas tidak direstui orang tua, kemudian dijodohkan dengan gadis lain. Hal itu menjadi luar biasa ketika penulis mengarahkan jalan cerita ke arah lain. Bagaimana kemudian Zeest yang sabar menghadapi Aariz yang tergila-gila dengan Komal, kegilaan Aariz setelah kepergian Komal karena cemburu pada Zeest hingga harus masuk rumah sakit jiwa, kepergian Zeest entah kemana dan kehilangan yang dirasakan Aariz setelah ia sembuh.

Cinta akhirnya menemukan jalannya sendiri. Pulang pada palung yang mungkin awalnya dianggap salah.
Selamat membaca.

Read more…

Selasa, 19 Juni 2012

Tawa

Karya Hamdani Chamsyah

Kau tertawa tuan?
Ya!
Pada goncangan Tuhan?
Ya!
Pada lari orang-orang?
Ya!
Pada tangis mereka dalam luka goncangan Tuhan masih sempat kau tertawa?
Pada lari mereka dalam roboh harta benda masih juga kau tertawa?
Pada darah yang mengalir pada isak tangis bayi kecil masih juga kau tertawa?
Kau menertawakan Tuhan, tuan?
Tidak!

Aku sedang menertawakan dosa-dosa yang berlari
Menertawakan tangis, menertawakan harta benda, menertawakan darah yang mengalir
Yang penuh dengan dosa dalam tawa meraka sebelumnya

Mengapa mereka menangis ketika Tuhan mengirimkan bala
Mengapa mereka berlari?

Bukankah tangisan itu untuk mengingat dosa lalu bertaubat?
Sedang tawa untuk bala yang diturunkan
Menangislah atas dosa yang telah kau perbuat
Maka tertawalah dalam bala atas dosa-dosa kalian
Dan
Tertawalah

Banda Aceh, 12 April 2012

Read more…

Sabtu, 12 Mei 2012

Iklan

Read more…

ikaln

Read more…

Iklan

Read more…

yes

Read more…

Rabu, 25 April 2012

Milad KMJ yang Pertama


Foto-foto peringatan milad (ulang tahun) pertama Komunitas Menulis Jeuneurob (KMJ) di Jambo Kupi Apa Kaoy, Sabtu 21 April 2012.

Dalam perayaan milad ini diisi dengan serangkaian kegiatan, seperti pembacaan puisi, pembacaan cerpen, pembacaan syair aceh, pemotongan tumpeng, dan juga diskusi ringan seputar dunia tulis menulis dengan Arif Ramdan Redaktur Harian Serambi Indonesia dan Iskandar Norman redaktur Harian Pikiran merdeka.


Pemotongan tumpeng pada milad pertama Komunitas Menulis Jeuneurob (KMJ), Sabtu 21 April 2012 di Jambo Kupi Apa Kaoy, dilakukan oleh Arif Ramdan Redaktur Serambi Indonesia dan didampingi ketua KMJ Sammy Khalifa (kiri) serta ketua panitia Fakhrizan Joely (kanan).
Penyerahan potongan tumpeng pertama kepada ketua KMJ.

Diskusi seputar dunia tulis menulis bersama Iskandar Norman Redaktur Harian Pikiran Merdeka (kiri) dan Arif Ramdan Redaktur Harian Serambi Indonesia (tengah) di pandu oleh Cut Attahirah anggota KMJ (kanan).

Penyerahan bungong jaroe dari KMJ kepada Arif Ramdan yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan milad pertama KJM  oleh Makmur Dimila Wakil Ketua KMJ  .

Penyerahan bungong jaroe dari KMJ kepada Iskandar Norman oleh Sammy Khalifa yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan milad pertama KJM.

Foto bersama anggota KMJ dengan Redaktur Harian Serambi Indonesia dan Harian Pikiran Merdeka pada peringatan milad pertama KJM.

Rapat evaluasi panitia pelaksana milad KMJ yang pertama.

Read more…

Minggu, 22 April 2012

Puisi-puisi Cahya Maulizati Burhan

Sumber: Pikiran Merdeka (Minggu, 22 April 2012)

GEMA BEDIL

Mengapa setelah bencana ada ketegangan
Ah, suara-suara bedil bergema
Menyeruak, membahana kemana-mana
Apakah masa penuh tumpah darah akan kembali mencengkram puak kita?
 Tuhan, seru selaksa hamba ucap titahMu

DIAM

Kembali sesal
Tak pantas diungkap
Begitu pekat
Merasa ke dalam asa
Hujamkan denyut jantung
Goresi luka lama
Tak sanggup menepis sesal
Ah, biar aku yang diam


KERANA  HUJAN

Hujan
Pertanda titah Tuhan datang

Hujan
Pada lukisan langit redup aku mula sebuah kisah

Hujan
Aku melihat para bocah berlarian
Berkejaran dilingkar jalan basah

Hujan
Ajari aku menyulam kata-kata
Kerana banyak kisah yang  mati terpenggal
Bersarang di fikiran dasar

Selaksa Kata Untuk Mereka
(Hadiah perpisahan di SMAN 11 Banda Aceh)

Kala waktu melangkah capai masa
Tak ada sebongkah kata indah
Melainkan selaksa kenangan kita

Kala waktu melangkah capai masa
Gurau melebur pada canda
Sirnai jenuh yang tiap detik hampiri diri
Sayang, kita merasa satu

Kala waktu melangkah capai masa
Hati kita kian terbuhul kuat
Sampai akhir titian waktu
Semoga tak sekejap mata

RINDU TUHAN

Merindu Tuhan
Lafalkan ayatMu nan suci
Pahami maksud dari tiap lekuk arti
Lalu berserah diri di jalan yang Kau kehendaki
Rabb, rindu ini telah diwatas buncah
Mohon  izinkan hamba cium wewangian surgaMu


DENDAM

Seakan dunia bergolak
Saat aku diam penuh dendam
Sengaja kusumbat lubang amarah
Agar kemudian tak celaka
Akh, peradaban diri dimulai
Membuka mata ; bangun dari mimpi

Read more…