Senin, 14 April 2014

DIWANNIRRAJIM



Karya Zulfadli Kawom

Sekumpulan Syaitan (setan, red)  dari berbagai tempat, tiba-tiba berkumpul. Rupanya mereka mau mengadakan rapat akbar di sebuah gedung, yakni sebuah gedung yang mereka bangun atas titah Raja Iblih (pimpinan tertinggi para setan). Semua Syaitan terdiri atas  berbagai jenis yang semuanya berpenampilan rapi, menggunakan safari, dasi,  dan sepatu mengkilat serta rata-rata berkendaraan mewah.

Ada Syaitan dari jenis buroung tujoh, kangkang kuala, raja itam, ben sureeng, geunteut, jen paya dan lain-lain. Jumlah mereka kurang-lebih 50 Syaitan  dari berbagai abeuk, calouk, paya, glee, dan kuala. Setelah jumlah Syaitan memenuhi kuorum, pimpinan sidang Syaitan  yang bernama Raja Iitam, membuka rapat. “Salam syaitannirajim, saudara-saudara sekalian,” pimpinan sidang mengucapkan salam sebagai tanda dimulainya rapat.

“Salam nirrajim Bapak Pimpinan,” para peserta menjawab dengan serentak. “Saudara-saudara sekalian yang sesat dan jahat hatinya, kita berkumpul di gedung diwan ini atas instruksi Raja Iblih, pimpinan tertinggi kita. Beliau memerintahkan  kita agar mengadakan rapat akbar untuk merencanakan godaan, menipu para pemilih yang lebih bersahaja serta agenda penting lainnya, salah satu yang tidak kalah pentingya adalah agenda perjalanan dinas  kita ke luar negeri.

Sebelumya ada yang  mau bertanya,” pimpinan rapat Syaitan mempersilakan.

“Nama saya Ben Surang Sareeng, anggota Syaitan dari daerah Alue Nuraka. Di pengujung tahun ini lebih baik kita bahas masalah jalan-jalan ke luar negeri saja, menurut saya ini yang kita prioritaskan, dibandingkan  kita harus bolak-balik buku anggaran dan dokumen-dokumen lain seperti qanun-qanun ini-itu dan sebagainya.”

“Betul, betul, betul,” kata sejumlah besar Syaitan yang sering bercokol di gedung Diwan Perwakilan Syaitan (DPS), membenarkan perkataan Ben Surang Sareeng.

“Interupsi, pimpinan.” Tiba-tiba salah satu dari peserta rapat sidang Diwanniraajim berteriak.

“Ya, silakan..! Siapa namamu?”

“Nama saya Buroung Tujoh, anggota Syaitan yang lumayan ramai dan rakus. Saya usul agar Syaitan dari bangsa kami mendapat anggaran dan tunjangan yang lebih besar, mengingat kami cukup banyak. Bayangkan jika tujuh kami bisa menggoda per tujuh orang untuk memilih kita. Kami juga mempunyai banyak anak buah yaitu para Jen Pageu yang mesti kita berikan sejumlah makan juga.”

“Usul yang bagus,” pimpinan sidang menjawab. Apakah Anda semua setuju?”

“Setujuuuu….,” para peserta Syetan menyambut dengan riuh. Di antara mereka ada yang tertawa-tawa sambil berkata, “Ha-ha-ha…, mangat that taduk hinoe, dumpue pree, sampee trouk bak iek-ek jikira (Enak sekali duduk di sini, semua gratis,  pipis dan beol pun dihitung.”

Sekelompok Syaitan dari Abeuk Puntoung juga berkata dengan gembira, “Betul, asiik…. Di gedung DPS cukup  adem. Mangat meus’ap-s’ap taduek lam geudong ateuh kurusi meuputa. Oh buluen tinggay cok gaji, akhee thoun tajak ho yang galak teuh ngen tapajouh kri yang hawa, ha-ha-ha…! Tiap lima tahun kita goda para pemilih kita agar bisa terus hidup mewah.”

“Nah, sekarang mari kita mengadakan pembagian tugas,” pimpinan rapat Diwannirrajim melanjutkan lagi. “Penganggaran ini saya bagi menjadi tiga jenis,  yaitu  anggaran aspirasi, anggaran sesajen untuk para Syaitan yang di luar kita, namun mendukung dan merekom kita walau mereka tidak bekerja secara langsung seperti kita dan anggaran apam. Anggaran ini khusus untuk Syaitan Agam.”

“Interupsi, Pimpinan!” Tiba-tiba perwakilan Syaitan wanita dari bangsa buroung punjoet berkata. “Silakan. Siapa namamu?” pimpinan rapat Syaitan  mempersilakan interupsi.

“Nama saya Paridon. Saya usul agar kami diberi ruang yang lebih besar lagi, jangan cuma tiga puluh persen. Saya rasa ini masih sangat kecil, padahal kami juga memiliki kapasitas dan berpengalaman dalam bidang masing-masing.”

“Usul yang bagus, masih perlu persetujuan dan kesepakatan bersama. Baik, sekarang mari kita pilih pimpinan untuk tugas anggaran aspirasi. Siapa yang layak jadi pimpinan tugas anggaran aspirasi ini kira-kira?”

“Ben Jumoeh! Ben Jumoeh! Ben Jumoeh…!” Sebagian besar peserta rapat Syaitan dengan serentak menunjuk Syaitan yang bernama Ben Jumoeh bin Geureuda sebagai pimpinan Syaitan penggoda bidang anggaran aspirasi. Pimpian rapat bertanya, “Ben Jumoeh, sanggupkah Anda memimpin Syaitan untuk melakukan godaan bidang anggaran aspirasi?”

“Sanggup, Bapak Pimpinan. Saya pasti sanggup, Bapak Pimpinan. Saya kan uboe-nya Syaitan rakus.”

“Apa prestasi yang telah kamu capai?” pimpinan rapat Syetan bertanya lagi.

“Selama ini saya sudah berhasil menggoda banyak anggota Si Fael untuk melakukan korupsi sampai mereka ditangkap. Saya juga selalu berhasil menggoda mereka untuk selalu menyalahgunakan anggaran. Misalnya saat mereka mengadakan studi banding, renovasi gedung, dan sebagainya.”

“Hmmm, apa betul begitu?” pimpinan bertanya lagi. “Betul, Bapak Pimpinan. Lebih dari itu saya pernah merayu pimpinan Syaitan di Al Asyi bagian utara dan berhasil saya goda untuk mengeluarkan biaya Rp  200 miliar dari negeri tersebut untuk dipindahkan ke negeri Laknatillah. Mereka lebih memperhatikan fee daripada memperhatikan urusan kesejahteraan rakyat.”

“Bagus, bagus.” Pimpinan rapat Syaitan memuji dengan rasa senang. “Saudara-saudara niirrajim sekalian, Ben Jumoeh dari Abeuk Usoung saya angkat sebagai pimpinan Syaitan penggoda bidang anggaran aspirasi. Setuju?”

“Setujuuuu….” dengan serentak peserta rapat Syaitan berseru.

“Nah, sekarang mari kita pilih pimpinan Syaitan penggoda bidang sesajen. Ini penting, tidak boleh kita anggap remeh. Kalau kurang sesajen atau kita lupa, kita akan di-PAW dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal. Saya ingin bertanya, siapa nama Syaitan yang sudah berpengalaman dalam hal ini? Ayo, kalian sebut  nama Syaitannya?”

“Apeureet….! Apeureet….!” Para peserta rapat dengan kompak menyebut Syaitan  bernama Apeureet sebagai pimpinan Syaitan penggoda bidang sesajen. Pimpinan rapat Syaitan bertanya kepada Apeureet sambil tersenyum seram, “Hemm,  apa benar kamu selalu berhasil dalam tugasmu?”

“Ya, Bapak Pimpinan. Oya, saya lupa. Betul bapak pimpinan. Para pendukung dan perekom kita itu saya beri berbagai alein, sesajen, sehingga mereka jarang mengkomplain kita. Jumlah mereka memang tidak banyak, namun sangat mempengaruhi. Singkatnya, mereka cuma pajoh gaji buta, muka teubay, dan ka gadoeh malee.”

“Bagus, bagus,  tapi ingat, saya kurang suka dengan kata-katamu yang di akhir. Kalau mereka mendengar atau ada di antara kita yang berkhianat, mampus kita. Dan meski diingat bahwa di atas  kita ada Syaitan yang lebih besar lagi pangkatnya. Baiklah, saudara-saudara, setujukah Anda jika Apeureet diangkat sebagai pimpinan Syaitan penggoda bidang alein atau sesajen?”

Seperti sebelumnya, para peserta rapat Syaitan berseru serentak, “Setujuuuuu!”

“Saudara-saudara, sekarang mari kita memilih pimpinan Syaitan bidang apam. Ini penting, kita harus selalu mengonsumsi apam, mengingat kita banyak menguras tenaga dan pikiran. Saya ingin bertanya siapa Syaitan yang sudah berpengalaman di bidang ini. Yang pasti syarat utama harus tahu di mana lokasi apam dijual,” pimpinan rapat Syaitan bertanya.Para peserta rapat  serentak meneriakkan sebuah nama yang ternyata adalah Syaitan berjenis kelamin wanita, “Putroe Dimanyang….! Putroe Dimanyang!”

Pimpinan rapat Syetan bertanya kepada Putroe Dimanyang yang dari bangsa Jen Pari itu, “Apa saja prestasimu sebagai  agen apam?”

Putroe Dimanyang menjawab, “Beberapa tahun yang lalu saya berhasil menggoda anggota DPS partai lain dari sebuah partai besar berselingkuh sampai ia dipecat. Saya juga berhasil menggoda salah seorang anggota dari sebuah partai jenggotan untuk menonton film porno di ponselnya di saat sedang rapat. Prestasi lokal lain, saya berhasil  merayu agar mereka-mereka yang pimpinan itu selalu menambah istrinya setiap tahun.”

“Wah,  bagus, bagus.  Saya tidak menyangka, rupanya pilihan kita tepat, tidak salah orang dan rata-rata berpengalaman,” puji pimpinan sidang.

“Baiklah, karena menjelang pagi, rapat Diwaannirrajim ini saya sudahi dan saya tutup,” kata pimpinan diwan sambil mengetuk palu  sebanyak tiga kali berturut-turut. Dan semua anggota sidang bubar dengan wajah nan puas dan senyum syirik di bibir mereka yang buruk bertaring runcing. (Ceuraceue Burong, 2013)


* Zulfadli Kawom, merupakan pengelana dari hutan seribu sakti.

sumber : http://aceh.tribunnews.com/2013/08/25/diwannirajim

Read more…

Rabu, 19 Maret 2014

Aton



karya Siti Noviya R


Kota Banda Raya berdebu. Sore hari. Beberapa bercak merah menempel di dinding rumah. Baru saja terjadi pembunuhan, sepertinya. Bocah-bocah dengan raut wajah tanpa dosa berkeliaran di sekitar rumah. Sore di sini masih biasa, seperti lazimnya dilakukan orang di tempat lain. Ibu-ibu yang ikut berlarian mengejar anak mereka dengan sepiring nasi di tangan kiri dan si anak yang juga sibuk dengan langkah kecil mereka. Berlagak tak terjadi apa-apa.

Aku baru saja menamatkan novel yang kubaca sejak seminggu lalu. Saat tiba-tiba pintu kamar kosku diketuk seseorang. Aton, teman kampusku. Dia mengajakku menemaninya pergi ke terminal bus di kota untuk mengambil barang kiriman dari Ayahnya. Dan segera saja aku setuju, karena juga tak ada yang mesti aku lakukan lagi di kosku sore ini.

Dulunya, Aton tak pernah punya cerita untuk dibagi. Dia pendiam dan misterius. Yang aku tahu tentang kawanku ini adalah Bahwa dia anak perempuan satu-satunya di keluarganya, mempunyai satu orang abang, ayah-ibunya bercerai sebab si ayah punya istri lagi, dan beberapa bulan yang lalu, ibunya meninggal. Ayah Aton tinggal di kota yang berbeda, sedangkan dia tinggal di sebuah rumah milik almarhum ibunya bersama abangnya.

Akhir-akhir ini, kukira ada yang berubah dari Aton. Dia mulai banyak bicara khususnya tentang bagaimana ia menjalani hidup bersama abangnya. Dia seperti mendendam abangnya yang katanya arogan, angkuh, sok mengatur, merasa selalu benar, merasa paling dewasa, dan sok tua itu.

Seperti pada satu malam, malam minggu tepatnya. Abangnya keluar rumah sekitar pukul delapan malam dan baru pulang menjelang pukul dua subuh. Saat tiba di rumah, dia mengetuk pintu kamar Aton dan menyuruhnya untuk bangun, ada yang ingin dibicarakan abangnya. Aton bangun dan membuka pintu kamarnya. Padahal dia baru saja pulas lima belas menit yang lalu. Awalnya abangnya bertanya perihal pintu rumah yang tak Aton kunci. Lalu berdasarkan ceritanya, abang memarahi aton hingga tak ada celah baginya membela diri.

Padahal aton sengaja tidak mengunci pintu malam itu, sebab abangnya belum juga pulang dan itu adalah satu-satunya kunci di rumahnya, berharap jika abangnya pulang tak perlu membangunkannya lagi. Lagipula, abangnya itu bukan contoh yang baik, dia tak pernah mengizinkan Aton pulang telat. Sebelum magrib, wajah Aton yang susah itu harus sudah bertengger di rumah. Dan bagaimana dengan malam itu?

“Apapun alasannya, dia tiba di rumah pukul dua subuh, dan pulang-pulang memarahiku habis-habisan, abang macam apa dia? Nasib baik kalau dia hanya pulang dengan wajah berdosanya oleh karena terlambat tiba di rumah. Mungkin situasinya tidak teralu buruk. Bukan dengan memarahiku soal pintu yang tak kukunci,” kisah aton. Dan malam berikutnya, Aton meminta untuk tidur di kosku, karena dia masih tak bersahabat dengan abangnya yang di rumah itu. Aku tak mengizinkan, sebab menurutku, mungkin masalahnya akan lebih runyam jika aku izinkan dia menginap. Lalu, Karena aton memohon dengan amat sangat, apa boleh buat, baiklah untuk malam ini saja.

Dan malam itu. Aton kembali bercerita tentang abangnya yang berulah lagi. Sepertinya Aton benar-benar muak dengan sikap abangnya yang ‘tak jelas’ itu. Bahkan dia pernah berniat ingin membunuh abangnya yang mirip psikopat itu. Dan aku yang mendengar kalimat itu seperti, inikah aton? Sadarkah dia? Dan kami akhiri malam itu dengan cerita aton yang ingin mengakhiri hidup abang kandungnya sendiri. Lalu kami tidur. Saat hendak berangkat ke kampus, abang aton muncul di halaman kos ku dan memintaku untuk menyuruh aton keluar. “kacau”, batinku. Dan setelah keduanya bertatap muka, adu mulut tak terelakkan. Sama-sama mengaku dan merasa benar. Aku jadi lupa tentang apa yang harus aku lakukan, melerai mereka.

Dan mereka menjadi semakin tak terkendali. Sang abang menarik adiknya untuk memaksa pulang ke rumah, tetapi si adik enggan. Dan tiba-tiba Aton melepas tarikan tangan abangnya dan masuk ke dalam kosku, lalu keluar lagi dengan sebilah pisau dapur di tangannya. Kami, abang aton dan aku terkesiap. Apa yang ada di pikiran bocah ini, pikirku. Lalu abangnya mencoba meraih tangan Aton dengan maksud merampas pisau tersebut. Tetapi Aton sudah terlalu siap dengan kuda-kudanya, dan berhasil menangkis tangan abangnya. Pisau masih di pihak Aton. Satu dua tetangga pun mulai berdatangan karena peristiwa yang mencuri perhatian ini. Aku segera sadar dari posisiku yang mematung melihat fenomena abang dan adik ini.

Aku mulai berjalan pelan ke arah belakang aton, lalu kurenggut pisau itu dari tangan aton. Dia terbelalak seperti tak percaya dengan yang aku lakukan. Tak apa kukira, aku juga tak bisa percaya dengan yang dia lakukan saat itu. Impas, menurutku. Aku membujuk keduanya untuk membicarakan hal ini baik-baik. Abangnya terlihat setuju dengan usulku. Dan Aton, terlanjur dirasuki iblis dengan tampangnya yang semakin beringas diambilnya batu besar yang teronggok di depan kamarku lalu dihantam ke kepala abangnya yang sedang memencet tombol handphone, berniat menelpon ayah mereka. Abangnya tersungkur dengan darah segar mengalir dari kepalanya.


Dinding kosku berlumuran warna segar. Seketika tempat ini dikerumuni tetangga-tetangga. Dan aku seperti, aku menyerah. Dan menjadi percaya dengan apa yang kulihat. Perlahan aku berjalan mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Emp.. aku tersandung batu dan GUBRAKK!! Aku terjatuh dari kasurku. Spontan kulihat ke sekeliling, lalu keluar kamar dengan rupa gelagapan. Tak ada Aton. Tak ada abang yang arogan. Tak ada pintu yang lupa dikunci. Tak ada bercak darah. Tak ada batu besar. Tak ada pembunuhan. Yang ada hanya ibu-ibu dengan beberapa anak yang berlarian di sekitar kosku. Ya, sore disini masih biasa. Dan memang tak terjadi apa-apa, itu hanya bercak merah bekas pekerjaan anak ibu kos mengecat pagar rumah. Sial. Khayal sialan!

Siti Noviya R  adalah siswa kelas cerpen di Komunitas Jeuneurob 

Read more…

Sabtu, 15 Maret 2014

Puisi-Puisi Munawir Shakir



Tregedi Kopiku Kopimu

Kopi selalu abadi dan menggoncang peradaban
Memberi hangat yang hebat
Inilah kopiku kopimu, kopi yang kureguk
Reguk sekali muncul seribu kali rasa, bukan begitu?
O, kopiku kopimu

Pertanda kopi ini pernah ada
O, kopiku kopimu
Ingin sekali lagi kureguk hingga tuntas
Izinkan
O, kopiku kopimu
Jambo Kupi Apa Kaoy, 28 Oktober 2012 

Balada Secangkir Kopi

Malam nan dingin jelma hangat
Ada cinta secangkir kopi
Tiap reguk menjadi penawar
Sang jawara sejagat
Tak ada tanding

Rasa nan bergelora sepanjang masa
Tak akan pernah pupus
Dan memberi nuansa indah
Sepanjang  dinikmati
Mari kita sama-sama mengangkat secangkir kopi
Untuk kita reguk, kawan
Jambo Kupi Apa Kaoy, 28 Oktober 2012

Reguk Pertama

Malam terlalu dingin
Jadikan kopi ini bak reguk pertama
Ada aroma nan sedap

Hitam adalah warnamu, warna yang kureguk saban hari
Inilah kopi
Kopi yang  kureguk memberi cinta dan kasih
Hangat dalam lembayung senja
Hingga menjadi filosofi
Bandar Kupi, 29 Oktober 2012

Sketsa Kopi

Manakala bergumul bersama para penikmat kopi setia. Tak alang kepala ria. Canda membahana di dataran meja sana. Satu persatu terus memesan. Euforia menggema. Cakrawala seakan-akan berseteru .
Bandar kupi, 29 Oktober 2012

Munawir Shakir, lahir di Ladang Neubok,  Abdya 22 September 1989. Pegiat di Komunitas Jeuneurob dan Teater Rumput. Ia juga sebagai salah satu penikmat kopi

*sumber: Antologi Puisi Secangkir Kopi

Read more…

Senin, 10 Maret 2014

Puisi-Puisi Putra al Khaidir




Kalut

Dimana sungai yang kau kata indah
Penuh biota bak dalam kaca ?
Tak ada
Semua telah menuju punah

Kapan kau lihat hujan diterpa badai
Hingga jatuh dengan mesra?
Tak pernah
Karna celah sudah kau tutup kebencian

Bagaimana kau menari
Di terik berbatu?
Tidak bisa
Karna kau larang hujan jatuh di pangkuan

Apa kau masih menolak dengan alasan mimpi?
Apa masih kau tutup karna takut?
Aku tak percaya
K.J, Februari 2014




Seroja
:: Kepada Siti Noviya

Kau seroja
Terus mekar dalam kelam
dalam lelap aku melihatmu
Kau hadir dengan lentera
Mendekat dan menusuk sukma

Terus saja kau ada
Dalam darah, malam dan hayal

Ruang Hati, Februari 2014

Putra al Khaidir, beliau merupakan mantan kombatan Alue Silak-lak dan Ketua Pemuda Gampong Be Meutagoh Koh Meutaga. Beliau pernah menjuarai lomba Pencak Silat antar lembah.


Read more…

Selasa, 25 Februari 2014

Perihal Cantik

Karya Amek Barli


KETIKA aku beranjak tidur dan istriku masih saja menatap kaca solek, tiba-tiba ia bertanya, “Menurutmu, apa aku cantik?”

Sontak aku terkejut dan membisu mendengar pertanyaan yang dilontarkannya. Aku berpikir keras demi mendapatkan jawaban. Apakah istriku cantik? Aku harus menjawabnya segera.

“Memperistri orang cantik itu penting, Mex. Sembuh lelah kita melihatnya tiap pulang kerja dan ketika ia berdandan. Cantik itu bisa menjadi penambah semangat!” kata Bang Ham ketika mengutarakan keinginanku melamar pacarku yang sekarang sudah jadi istriku. Aku tidak peduli pada nasihat Bang Ham. Kemudian aku nikahi pacarku itu.

Beberapa temanku meledek pilihanku: Memperistri perempuan kaya namun tidak pernah mempertimbangkan wajahnya. Apakah benar istriku jelek lantaran kulitnya hitam? Badannya gemuk - aku pernah memintanya mengurangi makanan, tapi istriku malah marah besar - dan pendek? Tapi dia memiliki mata sipit, rambutnya lurus, dan gaya jalannya enak dilihat.

Tidak. Istriku tidak mutlak jelek seperti kata teman-temanku. Ada kalanya ia terlihat cantik. Misalnya, ketika di sedang mencuci pakaian, bagaimanapun wajahnya terlihat begitu manis dengan nafas terengah- engah menahan lelah. Keringat mengalir lebat membasahi kening dan pipinya. Ketika itu, apabila kutawari dia minum atau kusuruh istirahat, dia hanya tersenyum. Senyum itu.keikhlasannya telah membuatnya cantik di mataku.

Tapi betapa geramnya aku ketika pada suatu Senin dia membuat kehebohan di kantorku. Di kantorku setiap hari Senin karyawan diwajibkan memakai seragam warna merah. Hal itu juga berlaku kepada tamu yang ingin bertandang ke kantor. Hari itu matahari menyala garang dan membakar. Istriku datang dengan rantang terjinjing di tangan dan memasuki kantorku tanpa beban.

Bayangkan, seorang wanita berkulit hitam memakai baju siffon berwarna merah dengan rantang di tangan. Teman-temanku terlihat menahan tawa. Aku paham mereka sedang menertawakan istriku. Aku keluar ruangan dan menemui istriku. Lalu membawanya ke ruanganku. Di satu sisi aku malu dengan tatapan diam-diam teman-temanku, namun di sisi lain ia adalah istriku.

Tak mungkin aku ikut menertawakan istriku sendiri. Semestinya aku harus berterima kasih kepadanya sebab ia mau mengantarkan untukku makan siang meskipun terik matahari membakar kulitnya yang memang sudah hitam.

Aku tidak suka warna merah oleh satu sebab yang aku tak tahu. Tapi istriku, ketika hendak tidur selalu saja memakai piyama berwarna merah. Dia selalu bersolek sebelum tidur, kebiasaan yang sebenarnya paling tak kusukai darinya. Maka, agar ia tidak berlama-lama di depan kaca solek dan bergegas tidur, aku kerap mematikan lampu kamar ketika baru saja ia memakai bedak. Istriku kesal dan bertanya, “Kenapa kamu matikan lampunya? Aku belum selesai. Apa salah kalau aku ingin selalu kelihatan cantik di depanmu!” Untuk mencairkan suasana, aku bilang padanya, “Tanpa bersolek pun kau tetap cantik, Sayang.” Dia tertawa senang. Namun kebiasaannya tidak juga berubah.

***

“Apakah aku cantik?” tanya istriku. Bulan lalu, ketika merayakan kenaikan pangkatku, kami membuat kenduri. Aku membantu istriku untuk persiapan kenduri. Aku menemaninya membeli apa-apa saja yang diperlukan di pasar. Aku melihatnya menawar dengan ramah. Namun, ketika penjual sayur menawarkan barang sedikit lebih mahal, raut wajahnya seketika berubah kesal dan palak. Tak mau kalah, istriku terus menawar sampai si pedagang menyerah. Dia bahkan akan menawar mati-matian untuk  menurunkan harga lima ratus rupiah. Sungguh kelewatan. Ketika itu wajahnya terlihat lucu dan jelek.

Matahari semakin terik namun barang-barang persiapan kenduri belum semuanya terbeli. Dari pasar sayur, langsung aku mengajak istriku ke toko baju. Sangat khas raut wajah istriku ketika di toko baju. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Tak kelihatan raut-raut kesal seperti di pasar sayur tadi. Dia terlihat cantik di sini. Kecuali ketika ia mencoba mengenakan sebuah gaun merah yang ditaksirnya. Untung saja tidak jadi dibeli gaun sialan itu.

***

Seminggu setelah kenaikan pangkatku, kami mendapat kabar duka dari kampung. Ayah mertuaku meninggal lantaran stroke. Mendengar kabar itu, kami pun langsung menuju ke rumah duka. Sesampainya di sana istriku menangis melihat sang ayah terbaring dengan mata terkatup dan mulut terbuka seperti orang kelelahan. Tak mau larut dalam kesedihan, ia beranjak mengambil Al-quran, dan membacanya. Sungguh indah ketika ia sedang melantunkan  ayat-ayat suci. Pada saat itulah, aku melihat istriku berbeda dari apa yang dikatakan oleh teman-temanku. Aku mendapati istriku cantik. Aku menyayanginya.

***
“Apakah aku cantik?” suatu hari istriku mengejutkanku lagi.

Sebulan setelah mertuaku meninggal, istriku dan saudaranya sangat berhasrat dengan harta warisan ayah mereka. Sebagai suami, tentunya aku harus mendampingi istriku saat perundingan pembagian harta warisan dilakukan. Mereka mengadakan rapat keluarga ditemani pengacara keluarga. Lima bersaudara - lima perempuan -  itu menjadi yatim piatu setelah kematian mertuaku.  Adapun istriku anak keempat. Dalam rapat keluarga, istriku tampaknya yang paling serakah di antara kakak dan adiknya. Hasratnya yang begitu menggebu terhadap harta itu dibayang-bayangi oleh kakak pertamanya yang segera merasa didaulat sebagai pemimpin keluarga.

Aku jelas terkejut melihat sikap istriku. Sangat tak mengenakkan melihat wajahnya yang diliputi kekesalan, kemarahan, dan sinis terhadap saudara kandungnya. Berbeda sekali ketika ia duduk di samping jasad ayahnya pada saat melantunkan doa-doa. Dalam keadaan begini, bukankah sudah kukatakan pada engkau bahwa dia benar-benar terlihat jelek? Kali ini ia menambah hina dirinya karena dibutakan oleh harta.

Setelah berdebat semalaman, rapat akhirnya selesai. Aku menemuinya. “Apa sudah kau dapatkan apa yang kauinginkan?” tanyaku. “Aku tak suka dengan sikapmu ketika rapat tadi.”
“Tenang, Sayang,” katanya. “Kau tak mengetahui siasatku. Aku bersikeras seperti itu karena kakak pertamaku memiliki sifat buruk. Dia sangat suka menghamburkan uang di tempat-tempat hiburan. Aku tak ingin harta peninggalan ayah digunakan untuk hal yang hina seperti itu,” jawab istriku berlinang airmata.

“Maafkan aku!”

“Aku ingin harta itu disumbangkan untuk sebuah panti asuhan,” sambungnya sedih.

Hatiku tersentuh oleh niat istriku yang ternyata tulus dan tidak serakah sebagaiman dugaanku. Aku berusaha menenangkan dirinya. Dia  akhirnya tersenyum. Senyum yang memancarkan keanggunan. Istriku kembali terlihat cantik. Cintaku kepadanya semakin bertambah.

Setelah dia tenang dan aku berjanji untuk terus mencintainya tiba-tiba sifat tidak terduganya kembali muncul. “Apakah sulit untuk menjawab pertanyaanku?” bentaknya.

“Maaf. Apa maksudmu? Aku tidak paham,” jawabku.

“Apakah aku cantik? Berkali-kali sudah aku tanyakan. Berkali-kali engkau mengalihkan persoalan. Kamu tinggal menjawab iya atau tidak. Apakah itu sulit?” dia marah dan mematikan lampu kamar. (*)



* Amek Barli, pegiat di Komunitas Jeuneurob dan Mahasiswa Gemasastrin angkatan 2012

Read more…

Rabu, 19 Februari 2014

PUISI-PUISI AFZHAL PUTRA ARMI


Edisi Desember 2010
Balada Rindu
Balada rindu mencekam
cintaku padamu yang biasa saja adanya
tak berkurang dan terus bertambah
seperti laju kaki yang tak pernah henti berjalan
begitu aku pada kau

Terkadang tumit ini merengek
mengajak berhenti
tak peduli terus menuruti kata hati
semakin kumenapak
semakin jauh pula hentian pijak

Jalan terjal penuh duri
kaki mengerang menetaskan air mata
dari mata merahnya
itupun tak berarti kumenepi

Kau tetap kunanti dan terus kurindui
meski balada ini mencekam ulu bayi hati
( Abdya, 8 Oktober 2010 )

Untukmu
Makin hari kau kian bertingkah
bukankah telah kuhidangkan segelas kopi manis di atas meja
yang dilapisi piring putih kecil
dan itu hanya untukmu

Apa itu belum berarti lebih dari cukup untuk
yang sepertimu dari yang sepertiku?
cinta untukmu seluas samudera?
tidaklah juwita

Aku mencintaimu separo dari aku
dan kau berarti
( Abdya, 23 Oktober 2010 )

Edisi Februari 2011
Bunda
Terkadang kita merasa haru saat berkata
“terus saja timpang kaki berdiri
tapak makin tipis hari ke hari”

Terus berjalan menapaki waktu dan masa
mencecap kasih sayang untuk kita dari Bunda
entahlah, kapan kita bisa membuatnya tersenyum?

Awal nafasnya melelah
mula geraknya mulai merebah
bagaimana akhir hembusan nafasnya?

Begitu ikhlas dan tak ambil upah
Bunda tersenyum pada waktunya tiba

Kau bahagia, aku bahagia
jika aku bahagia, semoga kau juga merasa
maka kupaksakan untuk kita bahagia
tapi, kau dan aku
mari bahagiakan bunda
( Abdya, 08 Februar 2011 )

Mengapa bangga?
Mengapa bangga?
Padahal iba membuat kita lupa pada etika
Manusia menyembunyikan kebodohan

Terus menambah padahal rugi telah di tangan
Lalai terambing kiri kanan
Tak sadar terpojok ke sudut
Kian lama yang tinggal hanya sisa
Ditinggal oleh masa
( Abdya, 09 Februari 2011 )


Afzhal Putra Armi, berasal dari Aceh Barat Daya dan bergiat di Komunitas Jeuneurob


*Sumber: Harian Aceh

Read more…