Kamis, 31 Oktober 2013

BAGAIMANA JIKA LUKA BERKOLONI, MENJAMAK, MENJADI BANYAK?

Karya Erdidik alkisah di taman kenangan berbukit rumput ilalang, tinggi tak berjamah pinggirannya jurang siap menengadah Puan duduk tenang di sampingnya keranjang rotan, bekal makanan sedari tadi peluknya melingkar kaki duduk memagut sepi memandang segala hampar di pikiran —itu miliknya sendiri awan mengabulkan hujan bertemu jatuh mendesir bernyanyi bersama putri pelangi angin mengoyak-koyak...

Read more…

Selasa, 29 Oktober 2013

Puisi-Puisi Aerul Alma

DI SEBUAH GILI Ia mengajakku ke sebuah gili di sana telah terhidang separuh rembulan dan unggun api serta rindu yang telah ia pesan tergeletak dalam nampan pualam “kau tak mengundangku?”katanya untuk datang, kau tak perlu kuundang sebab untukmu aku tak punya pintu Ruang Sunyi, 29 Oktober 2013 YANG DISISAKAN MALAM :: Kepada Uni malam pergi sembari membawa beberapa tangkai...

Read more…

Jumat, 25 Oktober 2013

Bunga Perindu

Karya: Iful Rozi Mendung masih saja menangkup suram di atap langit Waktu memandangku penuh nelangsa Sendu: bagaimana kubisa menerka? Takluk hati pada sekuntum mawar Dan hancur dihempas badai luka Aku menunggu di setiap nafas yang kuhela Singgasana berhias dan selalu menanti ratunya Terlalu renta Biar kumelamun dan terus mengenang Raja agung tak sempat lagi bertanya Kepada sekuntum...

Read more…

Rabu, 16 Oktober 2013

BURUNG-BURUNG SENJA

Hendra Kasmi Di bawah sinar rembulan, tampak bayangan seorang lelaki dengan seraut wajah rupawan, roman wajah yang terlalu sempurna untuk seorang perjaka. Tapi, raut wajah itu terlihat murung. Tak seperti biasanya raut wajah lelaki yang bernama Sanusi itu muram seperti ini. Ada sesuatu yang mengganjal kepalanya. Pikirannya terus menerawang menembus angkasa. Dia seperti menyesali nasibnya. Mengapa cinta...

Read more…