
Oleh: Putra Hidayatullah
Sumber: Serambi Indonesia
limpingen.blogspot.com
“Bertahanlah Ayah!” Aku berdiri di hadapan tubuh yang terbaring setengah kaku. Sesekali ia menatap dengan pandangan sayu, tak ada daya. Pembuluh oksigen masih melekat di hidungnya. Empat jam sekali perawat masuk mencatat sesuatu yang tak kuketahui. Terkadang memberi suntikan.
Ayah menggerakkan bola mata perlahan ke...